Aku Benci Mama!

Aku Benci Mama!

Bukan Hari Ibu, tapi cerita, kisah, kenangan tentang hubunganku dan mama tak pernah absen dari kepala. Aku benci mamaku. Karena dianak-tirikan, karena selalu salah, karena selalu dinilai kurang. 

Aku pernah sangat takut untuk pulang ke rumah. Setelah menerima raport hari itu, aku sempat terdiam lama. Harus memberi alasan apa? Nilai 8, rangking 7, sama saja dengan aib. Pulang? Sama saja dengan bunuh diri. Kelas 2 SMP, aku sudah sangat tertekan. 

"Ma, tanda tangan, ya." 
"Apa ini? Kok cuma dapat 7? Belajar nggak sih waktu ulangan ini?"
"Susah, ma. Tapi temenku ada yang dapat 6,"
rayuku, menunjukkan bahwa ada yang lebih parah dari nilaiku. 
"Temen kamu ada yang dapat 9? Dapat 10?" tanyanya.
"Ada." Sudahlah, mending diam. Jangan membela diri. Jangan. 
"Kalau urusan begini itu jangan lihat yang lebih nggak pinter dari kamu! Kalau temenmu bisa, kenapa kamu nggak bisa???"

Drama seperti ini, untuk aku yang saat itu masih kelas 4 SD, aku sudah memutar otak. Cara licik apa yang bisa kupakai untuk tetap dapat tanda tangan orang tua. Akhirnya papa yang menjadi sasaranku. Dengan memanfaatkan waktu mepet saat menurunkanku di sekolah, papa nggak akan banyak tanya dan langsung tanda tangan. Sedikit omelan, tak apa-apa. 

Masa-masa SMA-ku juga cukup jauh dari kata indah. Milea sangat beruntung, ada banyak bunga di hari-harinya. Cinta yang bisa bertemu dengan Rangga, apalagi. Masuk ke sekolah favorit dan berjuang di lautan anak-anak pintar dari seluruh kota, bukan PR ecek-ecek. 

Setelah mundur, atau lebih tepatnya kabur dari beberapa ekstrakurikuler yang terlalu banyak menyita waktu di jam sekolah, akhirnya aku bisa ada di posisi bukan paling bawah. Ya, semenyedihkan itu persaingannya.

Namun, bukan untuk mama. Seorang guru kesenian datang secara khusus ke rumah dengan tujuan mengajakku menjadi wakil sekolah untuk festival tari tradisional, tentunya di hadapan mama.

Tanpa bertanya padaku, mama jawab, "Ya, pasti ikut, Pak."

Aku benci mamaku. Karena keputusan suka-sukanya, aku harus berlatih hingga jam 1 pagi. Pulang pun masih harus mengerjakan PR. Arrrggh!!

Masa-masa doyan main dan pacaran? Hahaha. Mama memang nggak pernah ngatur dengan siapa aku berteman, atau bahkan pacaran. Mama juga nggak pernah nyariin kalau aku pulang telat. Aku pernah sengaja nggak pulang, meski sudah menuju tengah malam. Untuk anak kelas 2 SMA di kota kecil, ini termasuk bandel dan nakal. Tetap, tak ada panggilan telpon dari mama. 

Apakah aku anak tiri? Pikiran ini makin menghantui saat melihat mama bingung karena si kakak belum pulang dari les. Padahal hanya telat 30 menit dari jam 5 sore. Jangan salah! Pikiran itu terlalu amat menganggu untuk diabaikan. Aku pernah sampai sengaja mencari akta kelahiran. Mungkin saja di sana ada nama orang lain sebagai orang tuaku. 

"Jurusan IPA itu harusnya kuliahnya teknik-teknik gitu, lho," mama mulai melancarkan serangan.
"Tapi aku pengen masuk Hukum, Ma."
"Halah, nanti juga ganti kepengennya," terus aja. 

Ketebak siapa yang menang, kan? MAMA! Masuk IPA saja, perjuangannya sudah berdarah-darah. Bisa bertahan dengan nilai yang biasa-biasa saja, fiuhh, rasanya setengah mati. Berujung dengan kuliah jurusan teknik, sesuai keinginan paduka ratu. Jangan tanya bagaimana aku berjuang di kampus. Semester tiga, aku meminta pindah jurusan. Kuulang lagi di semester lima. Jawaban mama tetap tidak. 

Aku benci bangun pagi. Ngantor jelas bukan takdirku. Setelah akhirnya berhasil menyelesaikan kuliah, aku memutuskan untuk kerja dari rumah. Sebagai manusia satu-satunya yang bisa nyetir mobil di rumah, jadi kepikiran untuk tetap nemenin mama. Ya, sebelum akhirnya nanti menikah dan berganti fokus. Namun, lagi-lagi, ini nggak benar di mata mama. 

"Sana kerja yang jauh. Semua orang nanya ke mama, udah lulus kuliah kok masih di rumah? Mama malu!!" serang Mama.

Aku sudah cukup gede untuk bisa lebih memilih diam. Meski dada berapi-api dan serapah di dalam mulut mau tumpah. Siapa nanti yang nganterin mama, siapa yang jaga kalau sakit, dan sebagainya dan sebagainya. Bahkan, meski Tuhan menguji mama dengan sakit dan aku satu-satunya anak yang bisa jaga 24 jam, tetap saja aku diusirnya dari rumah. Fine, aku akan cari kerja yang nggak perlu pulang, bahkan setahun sekali. Biar nggak usah ketemu sekalian! 

Nyatanya, kerja hanya dua jam dari rumah mama. Setiap Kamis, sudah ditelpon disuruh pulang. Belum tiga minggu, aku sudah nggak tahan pengen makan tempe penyet sambal bawang bikinin mama.

Butuh bertahun-tahun, bahkan 30 tahun menjadi anak baru bisa tertampar. Karena didikan itu, aku terbiasa melakukan apapun semampuku, bahkan lebih dari batas yang aku yakini sebelumnya. 

Menunggu sampai setua ini untuk bisa paham, bahwa apapun yang dilakukan mama selama ini hanya untuk mempersiapkan diriku. Sepeninggalnya nanti, aku akan tetap hidup nyaman, mapan, dan dihormati orang. Setelah setua ini pula, aku baru sadar. Telepon-telepon yang absen itu menunjukkan bahwa mama percaya aku bisa jaga diri dan bertanggung jawab. Hal yang aku butuhkan, khususnya dengan profesiku yang mengharuskan aku terbang ke sana sini sendiri. 

Keputusan suka-suka ala Mama, ternyata aku pake juga saat meeting dengan calon klien. Dengan hanya modal percaya diri di mulut dan wajah, aku bisa dengan mantap menjawab, "Okay, lets do it." Dan hasilnya, bahkan membuat diriku sendiri bergidik. Wow, serius itu hasil kerjaku? 

Aku masih benci mendengar omelan mama. Namun, benci-benci rindu itu bikin aku nggak pernah nengok sisa saldo di rekening untuk beli tiket pulang. Pulang ke meja makanmu yang wangi sambel dan berisik curhatan colongan kelakuan Papa. Pulang ke ruang tivimu yang selalu berantakan karena si kecil. Pulang ke kamar yang remote AC-nya selalu menghilang. Pulang ke senyummu yang menenangkan lebih dari apapun. 

Ma, thank you for being that hard. You made me who I am. 
I love you.

Jakarta, 21 Feb 2020
M