Aku Masih Berharga

Aku Masih Berharga
Image by pixabay.com

“Aku minta kamu mengerti, pahami aku. Buatku ini keputusan sulit namun aku sudah berjuang semampuku.”

 

Aku tak habis pikir dengan obrolan Dru, pernikahan Dru dengan Rei yang seolah baik-baik saja harus dicederai dengan cerita Dru yang menurutku tidak masuk akal.

Rei yang begitu menyayangi Dru, rasanya sangat tidak mungkin untuk melukai seorang Dru.

 

Kami sepakat bertemu di Kopi Jawara Kebagusan pulang kerja nanti. Kalau kata Dru, Kopi Jawara ini adalah solusi tepat untuk penyuka kopi namun tak sanggup untuk habiskan budget bulanan seperempat dari gaji bulanannya.

 

Kuakui, kopinya enak, varian yang banyak dan barista yang manis-manis juga pelayanan yang tidak kalah dari Starbuck di Gedung kantor sebelah.

 

“Dru, aku tidak paham dengan ceritamu. Aku belum pernah menikah dan aku tidak tahu balada pernikahan. Kamu cerita banyak juga percuma. Aku tak paham dan tidak bisa beri kamu solusi.”
“Nad, aku sudah biasa diminta solusi oleh orang-orang. Aku cuma mau muntahkan segala kesal.”
“Dru, aku bukan tempat sampah lo.”
“Ya sudah kalau kamu keberatan, aku pulang.”

“Eh, ambegan. Canda Dru canda. Yuk duduk dulu. Aku akan dengarkan ceritamu.”

 

Dru ini perempuan paling tidak bisa diam yang aku kenal. Saking tidak bisa diamnya, dari jaman kami masih lari-lari sambil lap ingus, sampai kami sempat pisah sekolah saat SMP lalu bertemu lagi setelah kami kuliah hingga akhirnya saat ini kami bertemu, Dru tetaplah Dru.

 

Sebagai wanita yang selalu tangguh, aku tak bisa percaya hingga akhirnya perempuan bermata bulat ini menyimpan banyak tangis di sepanjang pernikahannya.

 

Banyak yang menaruh hati pada Dru. Hanya memang Dru ini aneh. Karena ilmu dari Bapaknya tidak boleh matre maka setiap punya pasangan selalu yang jalan kaki. Kalau mau ajak nonton saja harus berulang kali turun angkot hingga kami sampai di Bioskop BIP di Jalan Merdeka. Lepas nonton biasanya kita habiskan malam minggu di sepanjang Jalan Dago hanya sekadar makan jagung bakar dan kopi jahe.

 

Yoga yang kuliah gonta-ganti mobil, malah dibilang Dru sebagai Sarwani.

 

“Duh Nad. Paling juga Yoga ini Sarwani.”
“Sarwani siapa Dru?”
“Itu lo, perannya Kasino di Film Gengsi Dong”.
“Ya salam, dikira siapa. Bukan Dru itu memang mobil Yoga. Kenapa harus curiga melulu sih?”
“Aku mau cari pacar yang kayanya berjuang sendiri Nad, bukan dikasih orang tua.”
“Ih gila ya kamu. Kalau memang ada yang suka sama kamu dan sudah tajir, artinya kamu dapat bonus Dru. Kan yang penting nanti mau kerja .”

“No, aku tidak suka Yoga. Aku sukanyaaaaaa….”

 

Dru ini adalah perempuan aktif, maka ketika dia sempat punya pasangan yang posesif, badannya Dru kurus kering, mata sembap, jalan tidak ada semangat.

 

“Mau dijalanin aja nih?. Putusin aja sih Dru!”
“Kalau dia mau sih, aku bersyukur.”
“Kenapa bukan kamu saja yang putusin Miko sih?”
“Jangan, nanti aku yang tidak enak hati.”

 

Ya salam, Aku sudah bingung cara menghadapi Dru. Hingga suatu hari Dru berkabar bahwa sebentar lagi dia akan menikah. Dru tidak berpacaran juga tidak taaruf. Yang dilakukan Dru hanya ingin terbebas dari status perawan tua, padahal saat itu Dru baru dua puluh lima tahun.

 

“Waktu itu Ibu sempat bertanya, apakah aku yakin atau tidak?. Entah kenapa aku keras kepala ya Nad?”

“Kan katamu sudah istikharah. Artinya memang itu bagianmu. Kalau pada akhirnya kamu merasa tersakiti, artinya waktumu dengannya hanya sampai di sini.”

“Artinya kita tidak berjodoh?”
“Apa sih Dru definisi Jodoh menurutmu?”
“Hubungan dua manusia sampai maut memisahkan.”
“Ya oke, jika itu definisi berjodoh menurutmu, kalian tidak berjodoh.”

 

Dru habiskan V60nya pelan-pelan. Tatapan matanya dibiarkan kosong.

Kuambil tissue, kuserahkan pada Dru.

 

“Aku tak pernah menyangka jika ujung hidupku begini.”
“Hey, ini bukan ujung hidupmu Dru. Kamu baru sampai di pemberhentian, sampai persimpangan.”
“Aku salah ya Nad?”
“Salah untuk apa?”
“Bahwa aku tak bisa bertahan.”

“Dru, aku belum menikah, tapi aku hampir menikah dulu dan aku dibesarkan di keluarga yang kompleks permasalahan hidupnya.”
“Ko malah nyombong.”
“Bukan, begini lo Dru. Kamu sudah bertahan, sudah berjuang dan sudah memperbaiki diri. Kamu sudah meminta Allah campur tangan, jika jawabannya adalah selesai, kamu bisa apa?”

 

Dru pamit sebentar, akhir-akhir ini adzan belum selesai berkumandang Dru sudah ambil air wudhu. Kata Dru permintaanku banyak, aku mau antri di paling depan meminta pada Allah, aku mau meminta kebahagiaan untukku pada Allah.

 

Dalam hati paling dalam, aku doakan kamu Dru. Semoga Allah berkenan kabulkan doamu.

 

“Nad, aku jawab iya.”

“Hah, tidak ada hujan tidak angin tiba-tiba iya?”

“Aku akan bercerai dengan Rei.”
“Sudah bulat tekadmu Nduk?”
“Sudah Mak.”
“Bagaimana dengan kelanjutan hidupmu?”
“Aku berserah diri, aku ikhlas dan aku akan berupaya dengan sebaik-baiknya. Aku akan terus meminta pada Allah, hak aku untuk bahagia. Karena aku masih berharga.”
“Yups, nah begitu dong. Maaf ya Dru bukan aku mengiyakan perpisahanmu. Namun kamu patut tersenyum. Ada aku di dekatmu. Jangan takut dengan statusmu kelak. Berceritalah semaumu, aku akan luangkan waktuku untukmu.

 

Dru habiskan tegukan terakhir V60nya, tidak dengan nanar, namun dengan binar.

#Bandung, 19 Juli.