ANEMIA

ANEMIA

RUANG IMAJINASI dan RUANG EDITING

6 kata ajaib :

Perahu

Alien

Telanjang

Darah

Ranjang

Kopi

 

Judul : ANEMIA

Rasa penat membelenggu punggungku saat menunggu anakku keluar dari gerbang sekolahnya. Berkali-kali aku menegakkan punggung, memberi kesempatan otot-ototku setelah terhimpit seharian. Kusandarkan punggungku di tembok tempat antrian penjemput karena aku sudah tak kebagian bangku tunggu. Belasan ibu-ibu sudah asik duduk sambil ngobrol di bangku tunggu yang disediakan di area penjemput di sekolah anakku.  Aku sengaja datang dengan waktu mepet agar tak menunggu terlalu lama. Rasanya aku sudah tak sabar ingin segera tiba di rumah dan membaringkan tubuhku di ranjang kamarku. Tetapi nyatanya tetap saja menunggu itu terasa lama, hingga darahku terasa berhenti mengalir ke kepala. Kakiku rasanya mulai kesemutan dan gemetaran. Aku coba melepas sepatuku dan bertelanjang kaki agar syaraf kakiku merespon dinginnya lantai yang aku pijak. Aku mulai menguap berkali-kali tanda mulai berkurangnya suplai oksigen di otakku. Mulutku terasa asam seperti habis menenggak kopi hitam hingga terasa mual. Nyut... nyut... kurasakan pandanganku mulai berkunang-kunang. Aku merasa seperti berada diatas perahu kecil terapung bergoyang-goyang dihempas ombak tak karuan. Seperti mabuk laut aku berdiri terhuyung-huyung dengan kaki mulai bergetar tak kuat menahan beban tubuhku. Tiba-tiba aku terduduk lemas dengan suara mendenging hebat di telingaku. Seperti diserang ribuan piring terbang alien berseliweran dengan suara yang bising. Keringat dingin mengucur deras dari segala penjuru pori-pori kulitku. Aku kedinginan dengan keringatku sendiri. Berusaha membuka mata karena mulai terdengar suara orang ribut di sekitarku. Kudapati diriku sudah terbaring di bangku para penjemput. Kulihat anakku menatapku dengan tatapan khawatir. Aku merasa bersalah telah membuatnya seperti ini. Seorang ibu berada di sampingku dengan segelas air hangat dan berkata, “minumlah air ini sedikit-sedikit bu, supaya ibu segera pulih.” Aku patuh dan menyeruputnya sedikit demi sedikit. Pandangan mataku mulai berpendar. Kerongkonganku mulai hangat dilalui air hangat yang aku telan. Darahku perlahan mulai mengalir disekujur tubuhku. Tinggal sisa-sisa nyut nyut di kepala, namun aku merasakan lebih segar dari beberapa saat sebelumnya. Segera aku rapikan pakaianku dengan bantuan beberapa ibu yang merawatku. Aku terduduk lesu. Anakku menggenggam jariku seolah takut kehilanganku. Aku memandangnya dan tersenyum. Aku bisikkan sesuatu padanya, “ibu tidak apa-apa sayang, ayo kita pulang.”