Antri dan Keadilan Bersama

Antri dan Keadilan Bersama

Kemarin siang saya antri Vaksinasi. Di halaman sebuah Gelanggang Olah Raga. Cuacanya terik sekali. Saya datang pukul 11. 00. Sudah ada barisan panjang di halaman GOR. Mengular. 

Beberapa pengarahan disampaikan oleh panita Vaksinasi. "Harap Antri, semua pasti kebagian! " Begitu imbauan itu terdengar keras. Berulang kali.

Saya berdiri dan berjalan selangkah demi selangkah. Menunggu sampai masuk ke tempat vaksinasi. Di depan saya seorang bapak-bapak. Di belakang ada anak muda.

Beberapa orang di depan tampak tak sabar menunggu. Ada yang menyerobot antrian lalu masuk dalam antrian yang bukan seharusnya. Ia luput dari pantauan panitia. Dan tampaknya tak dihiraukan oleh orang di belakangnya. Dibiarkan saja.  

Bapak di depan saya mengumpat melihat hal itu. "Bangke, enak banget datang belakangan tau-tau nyerobot!". Padahal Sama-sama kepanasan kita ini, kok bisa nyelak antrian" Umpatnya lagi. 

Saya berusaha menenangkan "sabar ya, Pak. Eman-eman imun turun gegara itu".

" Iya, Mas, gak diajarkan saat kecil kali ya pentingnya antri" Ujarnya lagi. 

Saya mengangguk pelan. Bisa jadi memang antri tidak diajarka  sejak kecil. Atau memang diajarkan tapi tak dibiasakan untuk digunakan di ruang publik. 

Antri sepertinya bertentangan dengan naluri manusia. Yang ingin serba maunya cepat. Tanpa perlu menunggu. Menunggu itu hal yang membosankan. Apalagi menunggu atas sesuatu yang tak pasti. 

Bayangkan, anda di sebuah antrian panjang, mungkin lebih dari 1 jam menunggu. menanti sebuah barang yang dijual terbatas, sampai tiba waktunya, atau sedikit lagi menuju meja kasir, barangnya habis terjual. Tak tersisa. Tak ada lagi, sampai pemberitahuan selanjutnya. 

Saya bisa merasakan betapa mengesalkan hal itu.

Tapi itulah kehidupan di ruang publik, bukan? Ini bukan di rumah. 

Pada ruang publik, atau pada pemenuhan hak publik, semuanya butuh antri. Anda harus mengantri untuk mendapatkan transportasi publik, juga harus mengantri saat mendapatkan vaksinasi. Karena apa? Karena barangnya terbatas. Tak dapat dipenuhi dalam satu waktu. 

Bisa jadi kita tak pernah antri saat mendapatkan makan di rumah, semua tersaji di atas meja. Tak pernah antri saat mau ke toilet. Karena penggunanya tidak banyak, toilet hanya digunakan oleh keluarga saja, tidak tetangga. Tapi ketika setiap rumah tidak ada toilet, dan hanya punya toilet komunal, disini konsep antri jadi bekerja. 

Pelajaran antri menjadi penting untuk dibiasakan saat di ruang publik, saat bersama dengan yang lain. Saat percaya bahwa, ada kepentingan orang lain yang sama dengan kita untuk didahulukan, bila memang ia berada di antrian depan. 

Kita harus percaya pada konsep antri sebagai sebuah solusi kemaslahatan. Artinya, ini satu-satunya jalan untuk mendapatkan keadilan bagi setiap orang. 

Lalu bagaimana bila sudah percaya pada konsep antri, dan akhirnya tetap tidak kebagian atau kehabisan? 

Setidaknya ada orang lain yang mendapatkannya, dan ia melakukannya dengan cara mengantri. 

Maka, lakukan lagi di waktu berikutnya, datang lebih awal, lalu antri. Untuk kemaslahatan. Untuk keadilan bersama.