APA  ITU  STEM?

STEM adalah sebuah pendekatan pembelajaran sains, teknologi, teknik dan matematik . Mengintegrasikan empat disiplin ilmu ke dalam STEM diharapkan peserta didik tidak harus berpikir linier, melainkan mereka dapat berpikir kreatif. Pendekatan saintifik pada pembelajaran model ini harus diperkuat dengan menerapkan model pembelajaran discovery inquiry learning, problem based learning dan project based learning

APA  ITU  STEM?
STEM

 

 

 

STEM singkatan dari; S Science; T – Technology; E – Engineering; M – Mathematics. STEM adalah sebuah pendekatan pembelajaran sains, teknologi, teknik dan matematik yang diadopsi diberbagai negara dengan tetap menempatkan peserta didik pada pusat pembelajaran (Student Centred Learning) dan menjadikan setiap peserta didik sebagai subyek belajar, maka model ini dipandang cocok untuk mengantisipasi kebutuhan lulusan yang dapat berkiprah di era revolusi industri 4.0.

Dengan mengintegrasikan empat disiplin ilmu ke dalam STEM diharapkan peserta didik tidak harus berpikir linier, melainkan mereka dapat berpikir kreatif. Berpikir kreatif adalah berpikir dengan menggunakan ke dua belahan otak yang kiri dan yang kanan. Pola pikir yang linier belum tentu dapat memecahkan masalah yang dijumpai dalam kehidupan nyata sehari-hari. Kondisi yang ada di masyarakat sangat kompleks sehingga peserta didik perlu dibekali dengan cara pikir praktis, efektif dan efisien untuk memecahkan setiap masalah, mencari dan menemukan solusi yang serba praktis dan ekonomis.

Untuk itu model pembelajaran STEM ini hendaknya diterapkan mulai tingkat sekolah lanjutan atas atau yang kita kenal dengan Sekolah Menegah Kejuruan (SMK). Perlunya mengintegrasikan pembelajaran berbasis masalah dengan masalah yang terjadi di dunia nyata dengan cara mengembangkan peserta didik terhadap konten sains, kemampuan berinovasi, berbekal keterampilan soft skills, seperti terjalinnya komunikasi yang efektif, kerjasama dan kepemimpinan yang handal.

Pembelajaran STEM tidak melulu mengasah ranah kognitif peserta didik namun, juga mengedepankan ranah afektif agar tujuan pembelajaran tercapai sesuai dengan yang diharapkan. Dunia pendidikan harus eksis dan bangkit sekalipun di dera covid-19 dengan model pembelajaran abad 21, menjalankan proses pembelajaran melalui pendekatan ilmiah atau saintifik dalam pembelajaran dan penilaian yang otentik dengan menggunakan prinsip penilaian sebagai bagian dari pembelajaran itu sendiri,

Oleh karena itu, unsur-unsur kreatif, inovatif, kolaboratif, komunikatif dan siap menerima kritik (masukan) harus ada di dalamnya. Pendekatan saintifik pada pembelajaran model ini harus diperkuat dengan menerapkan model pembelajaran discovery inquiry learning, problem based learning dan project based learning. Pada hakekatnya peserta didik harus diberi pengalaman belajar yang menantang, agar tidak mudah menyerah, karena kalau hari ini sulit maka esok akan lebih sulit lagi, begitu seterusnya.

Semakin ke depan dunia pendidikan semakin menyadari bahwa kebutuhan tenaga kerja di era global sangat membutuhkan mereka yang mempunyai kompetensi-kompetensi mumpuni, yang serba bisa, agar tidak tersingkir di dunia nya. ‘Mencetak’ manusia unggul menuju Indonesia emas tahun 2045 sudah harus dipersiapkan sekarang. Tantangan dunia pendidikan terutama SMK adalah supaya peserta didik yang telah dinyatakan lulus dapat langsung bekerja sehingga tidak menumpuk pengangguran terdidik.

Bukankah amanat UU SISDIKNAS No, 20 Tahun 2003 pada Pasal 15 menyebutkan bahwa: “Jenis pendidikan mencakup pendidikan umum, kejuruan, akademik, profesi, vokasi, keagamaan, dan khusus”.   Ini berarti pendidikan kejuruan merupakan pendidikan menengah yang mempersiapkan peserta didik terutama untuk bekerja dalam bidang tertentu. Dengan perkataan lain, bahwa pendidikan kejuruan harus selalu dekat dengan dunia kerja.

Para pemerhati pendidikan tentu masih ingat dengan istilah link and match nya bapak Wardiman Djojonegoro dan DU-DI (Dunia Usaha – Dunia Industri). Oleh karena itu, mari kita siapkan peserta didik yang mampu berkontribusi pada kehidupan nyata yang ada di masyarakat, mengingat persaingan untuk mendapatkan pekerjaan yang semakin ketat. Kalau pendidik dituntut memiliki empat kompetensi; yakni kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, kompetensi pedagogi dan kompetensi profesional, maka kepada peserta didik hendaknya juga diasah pola pikirnya sedemikian rupa, kalau perlu tidak hanya sekedar mencari kerja, tetapi bisa menciptakan lapangan kerja.

Sebagaimana halnya siswa atau mahasiswa yang mendapatkan mata kuliah kewirausahaan, setelah dinyatakan lulus harusnya benar-benar menjadi wirausahawan/ pengusaha sekalipun dimulai secara kecil-kecilan, tidak tertutup kemungkinan suatu ketika akan menjadi besar. Bukankah mereka telah dibekali dengan berbagai pengetahuan yang menuntunnya untuk memiliki karakter, seperti: (1) Kejujuran; (2) Punya Tujuan, yang jelas; (3) Percaya Diri; (4) Berani Ambil Risiko; (5) Ketahanan Mental, yang tangguh; (6) Berinisiatif dan Mandiri; (7) Kemampuan Manajerial; (8) Selalu Berpikir Positif dan Optimis; (9) Disiplin; (10) Oportunis.

Pembelajaran STEM telah diperkenalkan dan diadopsi di beberapa negara,  seperti: Malaysia, Tiongkok, Taiwan, Philipina, Vietnam, Finlandia, Australia dan pasti akan semakin signifikan di tahun-tahun mendatang. Pembelajaran sains berbasis STEM diakui dapat menumbuhkan minat dan motivasi peserta didik untuk melanjutkan studi dan memacu serta memicu peserta didik  untuk berkarir di bidang Ilmu Pengetahuan Teknologi dan Seni (IPTEKS), yang diyakini nantinya akan dibutuhkan diberbagai negara  di masa-masa yang akan datang.

Penulis menaruh harapan tinggi kepada lulusan SMK yang sudah dibekali pembelajaran model STEM siap berkompetisi di dunia industri baik di dalam maupun di luar negeri. Siap bersaing dan bersanding (to compete and to corporate) sebagai tenaga kerja Indonesia yang handal dan mampu mensejajarkan diri dengan pekerja-pekerja lain dari berbagai negara. Hal ini sejalan dengan harapan Kemendikbud dan Ristek agar lulusan SMK kian banyak diserap dunia kerja. Selain ijasah sebagai bukti kelulusan, mereka juga akan dibekali dengan sertifikat kemahiran sebagai tanda bahwa lulusan SMK tidak hanya pintar secara teoretis tetapi juga menguasai praktik, semoga!

 

Jakarta, 5 Juli 2021

Salam sehat dari penulis: E. Handayani Tyas – tyasyes@gmail.com