(Seperti) Tunggu Giliran

(Seperti) Tunggu Giliran

 

 

ASA RESAH GELISAH KAPAN INI MUSNAH

Pandemi ini... sudah seperti jentikan Thanos, dalam mode slow motion. 

Thanos berpikir sudah terlalu banyak manusia sehingga perlu dimusnahkan setengahnya. Satu jentikan jarinya saja langsung lenyap setengah populasi di dunia.

Pandemi ini sangat meresahkan. Seperti menunggu giliran saja. Dan adu kuat. Kuat fisik, kuat mental. Karena hasil tes PCR positif judgement-nya sudah seperti terjangkit HIV saja. Dunia rasanya mau runtuh. Mental hancur. Covid ini mengganggu mental jika terjangkit, yang akhirnya mendorong tubuh ikut merasa lemah. Ya, ikut merasa. Termakan sugesti. Padahal bisa saja aslinya tubuh kuat melawan. Seperti orang tanpa gejala.

Ternyata begini dahsyatnya sugesti.

Ada yang berpikir lebih baik tidak usah PCR sekalian kalau hanya gejala-gejala ringan, atau tidak enak badan. Karena kalau tahu hasilnya, malah menurunkan mental. Biarkan tubuh melakukan perlawanan dulu, sambil pikiran ikut memberi sugesti bahwa tubuh ini baik-baik saja.

Saya sepakat dengan tulisan Kang Asep Herna tentang dialog tubuh dan pikiran. Mereka membahu untuk saling menguatkan. Begini sugestinya:

"Tubuh. Kau bagian dari aku, aku bagian dari kamu. Bersinergilah. Berdamailah. Aku memahamimu, dan aku ingin kau juga memahamiku. Aku ingin kau sehat, kuingin juga kau mendukungku untuk sehat. Tubuh, kau bagian dari aku, aku bagian dari kamu. Berdamailah. Sinergilah. Sehatlah. Sehatlah. Sehatlah. Kuatlah. 

"Pikiran. Kau adalah bagian dari aku, dan aku bagian dari kamu. Bersinergilah. Berdamailah. Aku memahamimu, dan aku ingin kau juga memahamiku. Aku ingin kau tenang. Dan aku ingin kau juga mendukungku untuk tenang. Pikiran, kau bagian dari aku, aku bagian dari kamu. Tenanglah. Tenanglah. Tenanglah. Sehatlah. Bahagialah. Kuatlah."

Sebetulnya kita ini memang sedang menunggu giliran. Giliran dipanggil oleh-Nya, karena sudah tertulis di Lauh mahfuz. Entah kapan. Entah karena apa.

Covid ini seolah-olah mempercepat giliran itu tiba. Seperti di-bypass. Padahal memang sudah waktunya. Pengetahuan kita saja yang tidak sampai ke sana. Tidak satu pun yang mengetahui kapan panggilan itu, kecuali Dia.

Dia yang Maha Mengatur segalanya. Dia yang Maha Mengetahui apa yang akan terjadi. Apa yang terbaik. Apa yang tidak baik. Karena boleh jadi kita membenci sesuatu, padahal itu baik untuk kita. Dan boleh jadi kita menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagi kita. Kita hanya bisa berprasangka. Tinggal adu kuat, mana yang bisa mendominasi, prasangka baik atau buruk. Dan kita sudah tahu mana yang seharusnya.

Pandemi ini keresahan bersama seluruh manusia di dunia. Sebagian ada yang bilang dimanfaatkan bisnis dan politik. Sudah sakit jiwa orang-orang yang menjadikan virus ini sebagai ladang bisnis dan politik.

Tapi begitulah hidup. Ada protagonis dan antagonis. Ada tokoh pembawa suka, ada pembawa duka. Ada penyemangat, ada keparat.

Kontrol ada pada diri kita, tubuh dan pikiran ini. 
Imun dan iman. 
Entah ini sampai kapan. Banyak-banyak doa dan usaha.