Belajar Dari Silogisme

Belajar Dari Silogisme

BELAJAR DARI SILOGISME

"Tidak semua orang berkarakter baik"

Kesimpulannya ada orang yang berkarakter baik dan ada orang yang berkarakter tidak baik.

Kata-kata diatas jika aku salah memahami akan berakibat fatal, sama hal nya dengan sikap orang lain terhadap diriku sendiri. Terkadang aku salah mengartikan ucapan manis membawaku ke dunia fantasi yang mengagumkan dan ucapan pahit pasti membawaku ke dunia kesengsaraan. Namun, jika aku coba memikirkan kedua hal itu kembali, ternyata ucapan pahit lah yang mampu membawaku ke dunia nyata yang tidak ada unsur menyengsarakan. Kenapa aku menyimpulkan seperti itu? Ayo ikut analisis bersamaku alasannya.

Belajar dari Silogisme tentang hukum

1. Jika p maka q

2. Jika q maka belum tentu p

3. Jika tidak q maka tidak p

p : aku bersikap baik

q : dia bersikap baik

Analisa sampel subjek pertama antara Aku (p) dan Dia (q)

1. Jika aku bersikap baik ke dia maka dia akan bersikap baik ke aku

Ini adalah hukum yang selalu didambakan setiap orang tapi sulit tercapai. Kenapa bisa demikian? Saat aku selalu bersikap baik kepada orang lain dengan harapan dia juga harus bersikap baik kepadaku itu secara tidak langsung aku melupakan kodratnya manusia yaitu punya akal dan punya karakter. Mungkin yang aku anggap sikap baik itu seperti ini namun baginya ini bukan sikap baik justru lebih ke sikap sedikit tidak baik. Aku juga harusnya tidak menjudge dan menstigma bahwa hal ini lah yang baik dan paling tepat dilakukan setiap orang ketika aku bersikap baik ke mereka.

2. Jika dia bersikap baik ke aku maka aku belum tentu akan bersikap baik kepadanya

Hukum kedua ini sedikit bermakna tersirat karena pasti sebagian besar orang yang kurang teliti seperti aku akan menafsirkan bahwa kenapa aku harus punya bersikap tidak baik ke dia apalagi dia sudah bersikap baik kepadaku, yah seperti balas budi lah namanya. Namun, namanya juga manusia, penyakit neting atau negative thingking sudah melekat di dalam diri semenjak sudah melangkah ke dunia yang penuh sandiwara dan punya hakim sendiri, yaps bener, hakim disini itu ego diri yang tidak terbendung lagi oleh kata-kata baik dari hati sehingga melampiaskannya ke siapa saja yang ditemui. Kejam bukan? Nah mau gimana lagi, terkadang hati sulit memaafkan dan mengikhlaskan hingga punya banyak pemikiran trauma dengan hal-hal pahit dan membuat batin tersiksa hingga kesan tidak mau terulang lagi di masa depan membuat neting berkembang menjadi sikap dan karakter yang tak terelakkan. Sedikit dramatis namun ini nyata adanya. Dan sedikit membela diri, neting aku lakukan karena rasa khawatir dan takut mengecewakan batin akan terulang lagi dengan porsi yang sama atau bisa saja porsi double triple jadi bisa dibilang wajar sih sebagai sikap mawas diri namun jangan sampai berlebihan dosisnya karena itu akan menurunkan kesehatan mental bahkan memutuskan hubungan.

3. Jika dia tidak bersikap baik terhadapku maka aku juga akan bersikap tidak baik kepadanya

Bukan seperti air susu dibalas air tuba tapi lebih ke hukum alam yang selalu berputar yaitu karma. Mungkin beberapa kali orang lain bersikap tidak baik kepadaku, aku masih memakluminya namun ketika sikap tidak baiknya merugikanku dan mengganggu orang-orang terdekatku maka tentunya akan mengundang sikap tidak baik juga dari ku. Nah khusus hukum ketiga ini sebenarnya tidak juga harus ditafsirkan kepada orang yang sama seperti saat orang lain bersikap semena-mena dan menghina si A maka aku yang punya hati nurani melihat hal tersebut dan sudah tidak tahan dengan sikapnya itu akan bersikap tidak baik kepadanya dengan cara yang sama atau sedikit kreatif dari sikap buruknya itu kepada si A dengan tujuan supaya orang tersebut memahami posisi ketika dia bersikap buruk ke si A dan akhirnya dia tidak akan melakukan hal tersebut lagi kepada siapapun termasuk si A.

Catatan : Analisis diatas berdasarkan kenyataan, intuisi dan naluriku sebagai manusia yang punya banyak kesalahan. Jika terjadi perbedaan pandangan maka itu hal yang bagus karena itu menandakan kamu ikut menganalisis bersamaku dan mencoba memahami isi tulisan ini. Allah SWT menciptakan manusia dengan karakter yang sempurna dibandingkan makhluk hidup lain yang ada di atas bumi ini yang juga punya keanekaragaman yang super duper bikin tepuk tangan bahkan tepuk jidat. Menerima yang diberi dan melepaskan yang hilang adalah suatu keharusan karena jika tidak maka diri akan selalu disibukkan dengan hal-hal yang jauh dari mengupgrade kualitas diri. Sulit? Memang benar tapi tidak ada salahnya mencoba belajar dan memahami. Aku pernah mendengar kalimat seperti ini "Jika kamu dihadapkan dengan kebathilan dan kamu tidak suka dengan kebathilan tersebut maka tolak lah dengan sikap yang tegas, jika tidak mampu dengan sikap tegas maka tolak dengan lisan melalui ucapan penolakan yang baik, jika tidak mampu menolak dengan ucapan penolakan maka tolak lah dengan hatimu yang enggan mendengar, melihat dan merasakan hal bathil tersebut terjadi". 

Mengkritisi segala hal yang tidak disukai memang diperbolehkan, namun jangan pernah lontarkan kalimat yang buruk karena hal itu apalagi sikap buruk yang bisa saja terbayang-bayang oleh korban sikap buruk itu. Seperti hal nya kertas mulus yang rapi ketika di beri genggaman tangan yang kuat, himpitan yang tidak tanggung kerasnya hingga remuk sana sini dan tarikan lawan arah yang mampu merobeknya. Kertas tersebut tidak akan pernah kembali ke kondisi semula. Seperti itu hati seseorang yang ketika diberi reaksi sikap yang buruk oleh orang lain ia akan seperti kertas malang itu dan pada akhirnya akan menimbulkan luka yang tidak pernah terobati untuk kembali ke sedia kala.