Dari Kopi Turun ke Hati

Dari Kopi Turun ke Hati
Dari Kopi Turun ke Hati

Kapan ya terakhir kali ia digombali lelaki? Anita lupa. Setahun terakhir ini ia fokus belajar mencintai dan menyenangkan diri sendiri setelah babak belur karena patah hati.

Maka ketika beli duren siang tadi, Anita hanya tertawa saat si abang penjual duren melempar gombalan receh dari awal sampai akhir.

“Saya kasih bonus satu buat Mbak. Mau diikat sekalian gak?”

“Boleh, Bang.”

“Hatimu mau diikat juga enggak?”

Tawa Anita berderai lagi. “Saya gak suka diikat.”

Si abang acuh tak acuh lalu mulai mengikat tiga buah duren pesanan Anita. Mungkin ia kira pelanggannya asal jawab menanggapi gombalan yang seratus persen bercanda itu, padahal tidak.

Sungguh melelahkan ketika kau mengikatkan hati pada seseorang hingga kehilangan diri sendiri. Hanya melihat dia tapi lupa pada diri sendiri. Hanya mencintai dia tapi lupa mencintai diri sendiri. Ketergantungan padanya hingga lupa pada kekuatan kita sendiri. Jadi, tak berlebihan rasanya kalau untuk saat ini Anita lebih memilih fokus mencintai diri sendiri hingga hati yang ambyar berkeping-keping itu utuh kembali.

Dalam perjalanan pulang, Anita mampir ke sebuah kedai kopi bernama Kopi Lain Hati. Selain merknya yang sungguh puisi, daftar menunya pun tak kalah puitis. Es Kopi Main Hati, Es Kopi Tikung, Es Kopi Cemburu, Es Kopi Valakor, Es Kopi LDR, .... Anita berhenti membaca satu per satu daftar menu yang bikin hati krenyes-krenyes itu. Ia memilih fokus pada deskripsi racikan kopi yang tercantum di bawah setiap menu.

“Seperti apa rasanya espresso campur Cadbury?” tanyanya pada gadis muda di belakang meja kasir.

“Gak terlalu pahit, gak terlalu manis juga, Kak.”

Ah, jawaban yang terlalu umum. Anita khawatir rasanya jadi aneh, tapi menyerah juga pada rasa penasarannya yang lebih kuat.

“Jatuh cinta ya, Kak?”

“Ha? Apa?”

“Es Kopi Jatuh Cinta-nya satu?”

Anita melirik daftar menu lagi, “Oh, ya. Es Kopi Jatuh Cinta.”

“Baik, ditunggu sebentar ya.”

Padahal tadi cuaca di luar cukup panas, kini mendung tampak mendekat dari arah utara. Anita memandangi Es Kopi Jatuh Cinta di atas mejanya, lalu beralih pada tulisan Kopi Lain Hati yang mendominasi dekorasi kedai.

'Apa? Aku harus jatuh cinta ke lain hati? Peletnya kopi?'

Anita tertawa kecil sambil geleng-geleng kepala, geli memikirkan cocokology gaya bebas yang barusan melintas dalam benaknya. Bisa jadi semua akan berawal dari kopi turun ke hati, maka tak perlu sihir apapun jika ia sudah siap jatuh cinta lagi.*