Final Liga Champions: Pep, Adaptasi, dan Orkestra

Keras kepala sering muncul karena seseorang kelebihan ilmu. Makanya ada yang bilang orang yang terlalu terpelajar (overeducated) lebih buruk dari mereka yang kurang terpelajar. Sebagian besar orang yang terlalu terpelajar menjadi keras kepala, terutama untuk hal yang dia merasa paham betul. 

Final Liga Champions: Pep, Adaptasi, dan Orkestra
UEFA via Getty Images

Pep Guardiola seorang pelatih yang keras kepala. Terutama dalam filosofi permainan sepak bola yang dipilihnya. Gaya permainan Pep sebenarnya sudah jamak. Dia memainkan ball possesion dan langsung menekan lawan (high pressure) ketika kehilangan bola. Beberapa pelatih sukses memakai gaya ini dengan perubahan. 

Keras kepala sering muncul karena seseorang kelebihan ilmu. Makanya ada yang bilang orang yang terlalu terpelajar (overeducated) lebih buruk dari mereka yang kurang terpelajar. Sebagian besar orang yang terlalu terpelajar menjadi keras kepala, terutama untuk hal yang dia merasa paham betul. 

Di sepak bola, Pep termasuk orang yang sangat terpelajar. Dia lahir dan besar di lingkungan sepak bola. Di kampusnya dulu, Barcelona, ada "guru besar" bernama Johan Cruyff. Pep mengidolakannya. Siang malam makan ilmu sepak bola dari sang idola. Tanpa disadari, Pep kelebihan ilmu. Dia pun menjadi keras kepala. Apalagi dia sukses ketika melatih Barcelona dan di Bayern Munich. 

Kadang, keras kepala beda tipis dengan optimis. Pep, misalnya, yakin pemain tengah adalah kekuatan utama dalam permainan. Dari merekalah distribusi bola dan passing bermula. Semua pemain harus bisa menjadi gelandang. Bek harus berperan sebagai gelandang bertahan, begitu juga kiper. Dia tidak suka kiper konvensional yang hanya menjaga gawang, seperti Joe Hart, kiper City yang terbuang sejak kedatangan Pep. 

Meski begitu, keras kepala Pep mendapat benturan ketika melatih Manchester City. Sebelum Pep datang, City sudah juara Liga Inggris, juara Piala Liga, dan lolos semifinal Liga Champions. Harusnya dia bisa lebih sukses dibanding saat melatih Bayern karena City tidak bermasalah dalam pembelian pemain. Tapi yang terjadi jauh dari harapan. 

Musim pertama Pep di City amburadul. Poin City berada jauh di bawah tim juara Chelsea, dan masih di bawah Tottenham di peringkat kedua. City hanya sampai Babak 16 Besar Liga Champions, dan gagal di Piala FA dan Piala Liga. 

Menurut Ten Hag, pelatih asal Belanda yang sempat melatih tim junior Bayern, Pep menganggap sepele gaya kick and rush di Liga Inggris. Kick and rush membutuhkan fisik dan stamina yang super prima. Pep mengabaikannya. 

Musim kedua, Pep beradaptasi. Filosofi permainan dipertahankan, tapi eksekusi di lapangan diubah. Dia menambah power dan speed dalam permainan. City pun kembali juara Liga Inggris, dan juara Piala Liga empat kali berturut-turut. 

Melakukan adaptasi kedengarannya mudah. Tapi orang yang bisa beradaptasi adalah orang yang memiliki intelegensi.  Hasil dari sebuah adaptasi akan menjadi ukuran seberapa cerdas Anda. 

James Clear, penulis buku terkenal Atomic Habits, mengatakan beradaptasi lebih penting daripada optimisasi, yaitu sebuah proses membuat sesuatu seefektif mungkin. 
Kondisi yang Anda lakukan untuk optimisasi bisa berubah. Perubahan berarti aturan main juga berubah, dan Anda harus memikirkan optimisasi berikutnya. 

Dalam adaptasi, Anda yang berubah. Harus
fleksibel di tempat Anda berada. Dalam kasus Man. City, Pep beradaptasi bersama tim dan para pemainnya. Seperti orkestra. Pep selalu menggambarkan permainan sepak bola yang diusungnya sebagai sebuah orkestra, bukan jazz. Jika para pemain bermain seperti musisi jazz, permainan tim akan kacau, katanya. 

Menjuarai Liga Champions tahun ini akan menjadi prestasi tertinggi Pep sejak meninggalkan Barcelona, hampir 10 tahun lalu. Kalau tidak juara, beradaptasi lagi tahun depan.