HAKIKAT HIDUP ITU BERGERAK

HAKIKAT HIDUP ITU BERGERAK

Saya punya seorang guru yoga beretnis chinese, namanya Yoyo. Saya suka banget sama dia. Selain ngajarnya enak, sebagai temen diskusi, dia juga menyenangkan. Yoyo sering memberi pemahaman tentang hidup yang sering terlalu misterius buat saya.

Misalnya dia pernah berkata, “Lo tau gak, Bud? Yang membuat kulit kita keriput sebetulnya bukan usia tua tapi lebih banyak disebabkan oleh gravitasi bumi. Dan Yoga adalah salah satu ilmu untuk menetralisir pengaruh gravitasi pada tubuh kita.”

Berat, kan, omongannya? Tapi pemahaman yang dia katakan selalu menarik untuk dipelajari. Kalo udah berjumpa sama Yoyo, saya pasti lupa sama waktu. Kami bisa berdiskusi sampe berjam-jam dan gak terasa tau-tau ayam sudah berkokok menunjukkan pagi hari. Eh? Emang jaman sekarang masih ada ayam berkokok, ya? Hehehehe... Pokoknya udah ada mataharilah maksudnya hehehehehe…

Saat itu saya sedang latihan yoga di studionya Yoyo. Guru Yoga ini besar sekali jasanya. Dia adalah orang yang pertama kali memberi pelajaran bagaimana mengelola rasa sakit dari low back pain yang saya derita. Ketika jam istirahat tiba, kami duduk berhadapan, bersila di atas alas yang digunakan saat kita latihan. Seperti biasa saya memancing percakapan untuk memperoleh pencerahan lagi tentang hidup.

“Sebetulnya untuk apa kita hidup di dunia ini, Yo?” tanya saya.

“Manusia adalah anak-anak Adam. Jadi tugas kita di dunia adalah melanjutkan perjalanan estafet Adam. Setiap bayi yang terlahir berarti telah diberikan tongkat estafet itu.”

“Emangnya Nabi Adam hendak melakukan perjalanan kemana?” tanya saya kebingungan.

“Adam terbuang ke dunia karena melakukan kesalahan. Tapi Tuhan itu kan maha baik. Dia masih memberi kesempatan pada Adam untuk kembali ke surga. Jadi selama ada di dunia, Adam misinya cuma satu. Menebus kesalahannya agar bisa kembali ke surga.”

“Wah? Pemikiran yang baru tuh buat gue,” selak saya.

“Tapi bumi ini demikian besar. Adam sendiri merasa bahwa perjalanan kembali surga itu pastilah sangat panjang. Meskipun dia berusia ratusan tahun, Adam menyadari bahwa sepanjang umurnya bisa jadi dia tidak bisa menyelesaikan misi tersebut. Agar perjalanannya terus berlanjut, dia terus beranak pinak di bumi untuk memberi tongkat estafet pada anak cucunya."

"Oh? Maksud lo kita harus melanjutkan perjalanan Nabi Adam untuk kembali menuju ke surga?”

“Betul! Dan perjalanan kembali menuju surga itu pastinya sangat sulit dan memakan waktu, Itu sebabnya Tuhan membekali kita dengan kitab suci sebagai kompas agar kita tidak tersesat dalam perjalanan tersebut. Kalo jaman sekarang kira-kira kayak google mapsnya lah."

Saya terdiam lagi.

“Karena kita anak Adam, kita harus melakukan perjalanan, kita harus terus bergerak. Sesekali kita memang perlu istirahat, kita perlu tidur. Tapi tidur membuat kita tidak bergerak. Makanya tidur gak boleh lama-lama. Tidurlah secukupnya, lalu bergerak lagi untuk melanjutkan perjalanan.”

“Koma sama seperti tidur, kan? Kalo orang sakit sampe koma? Dia kan gak bisa bergerak?” tanya saya lagi.

“Persis! Tapi perjalanan fisik itu cuma satu dari sekian banyak perjalanan. Orang koma memang gak bisa bergerak tapi dia akan bergerak melalui pikirannya. Justru karena fisiknya tidak berfungsi maka pikirannya akan mencapai kecerdasan yang luar biasa.”

“Ah masak, sih?” kata saya gak percaya.

“Itu hukum keseimbangan, Bud. Misalnya seseorang karena sesuatu hal tiba-tiba menjadi buta, otomatis indera pendengarannya akan mencapai kemampuan yang maksimal. Ketika seseorang tidak punya tangan maka kakinya akan mempunyai kelebihan dan berfungsi sebagai tangan.”

Oh, bener juga, ya? Omongan Yoyo mulai masuk akal. Perlahan-lahan saya mulai bisa mengurut benang merahnya.

“Dan lo gak akan pernah menyangka bahwa kekuatan pikiran itu jauh lebih hebat daripada kekuatan fisik.”

“Serius lo? Sehebat apa?”

“Ketika orang sedang koma maka pikiran akan fokus dan bekerja sangat maksimal sehingga mampu menggerakkan atau memindahkan barang tanpa menyentuhnya sama sekali.”

Saya masih diam mencoba memahami omongannya.

“Kemampuan itu biasa disebut dengan Telekinesis.” Yoyo melanjutkan.

“Oh, Iya bener! Gue pernah ngeliat film tentang telekinesis.” kata saya.

Istilah Telekinesis membuat saya teringat pada film yang berjudul "Carrie" yang berkisah tentang seorang perempuan yang selalu dibully oleh teman-temannya. Saking marahnya, perempuan itu memerintahkan seluruh benda yang ada didekatnya untuk menyerang semua orang yang membullynya. Bahkan jantung ibunya pun diremas sampe mati karena ibunya sering berlaku sadis karena merasa Carrie adalah keturunan iblis yang membahayakan. Dan semua itu dia lakukan dengan pikirannya.

“Otak adalah hadiah terhebat yang dihadiahkan Tuhan pada manusia. Kalo kita mampu mengendalikan pikiran maka hidup akan jauh lebih mudah. Hidup itu jadi simple sekali. Apa yang kita percaya maka itulah yang akan terjadi.” kata Yoyo lagi dengan suara halus.

“Okay gue sekarang ngerti kenapa orang sering bilang ‘Life is a journey. Not destination.”

“Memang kata bijak itu dalem sekali. Tuhan menciptakan bumi demikian besar. Kenapa? Karena ujian untuk Adam memang dirancang sedemikian berat. Jadi Tuhan tidak menyarankan kita untuk menetap di satu tempat aja. Kita harus bergerak. Kita harus melakukan perjalanan.”

“Gitu, ya?”

“Kita harus pergi ke tempat-tempat lain, ke kota lain, ke negara lain, ke benua yang lain. Kita harus belajar yang lain, makan yang lain, melihat yang lain, mendengarkan yang lain, mengetahui budaya yang lain. Intinya hidup harus selalu diisi dengan hal-hal baru. Itu hakikat sebuah perjalanan.”

“Jadi kalo setiap hari kita tinggal di tempat yang sama, di kantor yang sama, mengerjakan hal yang sama, artinya kita jalan di tempat, ya?” tanya saya lagi.

“Betul! Tapi lo harus memahami bahwa kata ‘perjalanan’ itu sebetulnya punya banyak makna. Awalnya kita hanya menerjemahkan kata ‘perjalanan’ secara harfiah. Padahal makna perjalanan jauh lebih luas daripada itu. Kita harus menemukan makna lain yang terkandung dalam kata itu.”

“Maksudnya gimana, Yo?”

“Makna perjalanan itu banyak. Misalnya dari pertama kita menjadi jabang bayi dalam perut ibu kita, lalu terlahir sebagai bayi, lalu belajar berdiri, berjalan, bersekolah, pacaran, mencari pekerjaan, menikah, punya baby, menjadi tua sampai akhirnya mati, itu perjalanan juga, kan?”

Buset! Gue makin bingung ngedengerin omongannya. Seru, sih, sebenernya tapi terlalu sulit untuk dipahami. Pengetahuan Yoyo tentang kehidupan begitu dalam sehingga seringkali saya agak sulit memahami apa yang dia katakan.

“Gue seneng banget lo nulis buku, Bud. Menulis adalah salah satu cara elo bergerak. Menulis buku itu adalah salah satu cara lo melakukan perjalanan.”

Kembali otak saya dipaksa berpikir keras sehingga mulut belum mampu mengeluarkan sepatah kata.

“Berkarya adalah cara manusia bergerak dan melakukan perjalanan. Manusia tanpa karya adalah mahluk yang sia-sia. Manusia tanpa legacy adalah manusia tak berguna. Tuhan memberi kita otak untuk berkarya dan meninggalkan legacy.”

“Maksudnya gimana, Yo?”

“Aristoteles lahir berabad-abad sebelum masehi tapi orang masih mengingat dia dengan baik. Orang masih mengingat ajarannya. Kenapa? Karena karyanya. Karena legacynya."

"Wah, bener juga, ya?"

"Legacy Aristoteles itu menjadi pedoman generasi berikutnya. Mereka meneruskan perjalanan dengan melanjutkan legacynya itu. Makanya kita sebagai anak Adam harus berkarya dan meninggalkan legacy juga."

“Oh, itu tongkat estafetnya, ya?” Pikiran saya semakin terbuka.

“Satu-satunya bakat yang diwariskan Tuhan pada manusia dan tidak diberikan pada mahluk lainnya adalah kemampuan berkarya.”

Saya kembali tidak mengatakan apa-apa karena terus berusaha mencerna topik berat ini.

“Kalo kita gak berkarya, hari ini kita mati, besoknya orang sudah lupa sama kita.”

Saya masih sibuk dengan pikiran saya.

“Kalo memiliki karya maka spirit kita akan hidup selamanya melalui karya kita itu.” Yoyo melanjutkan.

"Dan jika kita tidak memiliki karya maka kita gak punya andil dalam melanjutkan tongkat estafet perjalanan Nabi Adam. Begitu, kan?” tanya saya

“Tepat sekali!”

“Kalo perjalanan itu ada banyak dan salah satunya adalah berkarya, apakah semua perjalanan itu endingnya ke tujuan yang sama? Menuju ke Tuhan?”

“Semua perjalanan, tanpa kecuali, menuju ke yang satu , ke arah Sang Pencipta.”

”Untuk kembali menemukan surga?”

“Betul!”

“Tadi lo bilang hakikat hidup itu bergerak. Kenapa lo bisa sampe pada kesimpulan itu, Yo?” tanya saya lagi masih kebingungan.

“Coba lo perhatiin, Bud! Secara umum, alam semesta ini kan semuanya bergerak. Hewan bergerak, pohon bergerak, air bergerak, angin bergerak, bumi bergerak, matahari bergerak. Kesimpulannya, manusia sebagai bagian integral dari alam semesta pastinya juga harus bergerak, kan? Hebatnya lagi, semua elemen bergerak dan saling berhubungan satu sama lain.”

“Berhubungan gimana, Yo?”

“Satu elemen mempengaruhi elemen lainnya. Misalnya ketika jarak bulan berada pada posisi terdekat dari bumi maka akan terjadi pasang air laut. Semuanya berhubungan. Makanya untuk menjaga kelestarian alam semesta yang dibutuhkan adalah balance atau keseimbangan.”

“Oh, itu sebabnya untuk menjaga kesehatan pun kita dianjurkan untuk hidup menjaga keseimbangan ya?”

“Betul! Kalo semuanya seimbang maka semua elemen akan berfungsi seperti seharusnya. Kalo keseimbangan terjaga, semua bergerak secara kosmis dan bersinerji. Persis seperti pertama kali Tuhan menciptakan alam semesta. Kalau itu yang terjadi maka manusia akan sehat, alam akan sehat, bima sakti akan sehat."

"Sangat setuju, Yo!"

"Tapi kalo yang terjadi sebaliknya, maka keseimbangan akan rusak. Seperti sebuah mesin, satu onderdil saja rusak maka kerusakan itu akan merambat ke bagian yang lainnya.”

Pembicaraan ini berat sekali untuk otak saya yang agak bebal ini. Karena itu saya mengajak Yoyo untuk latihan yoga lagi,

“Kita terusin latihannya yuk, Yo?”

“Okay! Yoga itu bagus buat kesehatan karena yoga adalah salah satu cara manusia untuk bergerak. Bahkan Yoga memungkinkan manusia untuk bergerak tanpa bergerak,” kata Yoyo lagi tersenyum.

“Okay! Got it! Jadi hakikat hidup itu bergerak, kan? Iya. Gue udah ngerti.”

“Betul! Kalo kita sakit, kita sulit bergerak. Kalo kita kurang bergerak, kita sakit.”

“As simple as that?”

“Hidup itu sederhana, Bud. Dan bergerak itu adalah melakukan perjalanan kebaikan yang akhirnya berujung di surga tempat Nabi Adam dulu bertempat tinggal.”

Sekonyong-konyong, saya teringat pada sesuatu dan langsung saya tanyakan pada Yoyo, “Kalo hari kiamat itu artinya apa, Yo?”

“Hari kiamat adalah saat manusia, anak-anak Adam, berhasil menyelesaikan perjalanannya. Mereka berhasil bertemu dengan Tuhan. Ujian telah berakhir. Manusia telah kembali hidup di surga maka Tuhan merasa alam semesta tidak ada gunanya lagi. Itu sebabnya Tuhan menghancurkan semuanya.”

Bagaimana dengan orang-orang yang masuk neraka?”

“Mereka adalah orang yang tersesat saat melakukan perjalanan itu. Karena tersesat makanya mereka tidak berhasil sampai ke tujuan.”

Kembali saya merenung dan mencerna omongan temen saya ini. Ada satu hal yang sering membuat perasaan saya mengganjal. Sejak pertama kali mengenalnya, Yoyo gak pernah mau mengatakan apa agamanya. Kalo saya desak, dia cuma tersenyum tanpa berusaha menjawab.

"Apa lo harus tau agama gue dulu baru lo percaya? Apa bedanya kalo gue ini islam, Kristen atau Budha?” Akhirnya Yoyo menjawab ketika saya terus mendesaknya..

“Jadi menurut lo semua agama itu sama?” serang saya lagi.

“Gak ada agama yang sama di dunia ini, Bud. Ketika orang mengatakan bahwa semua agama itu sama, maksudnya adalah semua agama, tanpa kecuali, semuanya mengajarkan kebaikan. Tapi orang yang malas berpikir biasanya sering mengartikannya secara harfiah.”

Saya terdiam lagi. Yoyo ini umurnya masih di bawah saya tapi pemahamannya tentang hidup, pengetahuan spiritual dan alam semesta bukan main dalamnya. Saya selalu kagum sama ucapan-ucapannya.

“Okay, Bud. Kita latihan lagi, yuk?” Yoyo tersenyum bijaksana.

Kami pun mulai latihan lagi. Sepertinya guru yoga ini mengetahui bahwa saya kurang percaya pada beberapa bagian omongannya. Tapi satu hal yang sangat saya percaya dari sekian banyak ucapan Yoyo, yaitu; hakikat hidup itu bergerak. Apalagi ditunjang dengan kalimat:

‘Kalo sakit, kita sulit bergerak. Kalo kurang bergerak, kita sakit.’

Dalem banget ya?