HERLAND, negeri berpenghuni perempuan

Bayangkan sebuah negara yang penduduknya hanya perempuan. Tiga laki-laki Amerika melakukan eksplorasi ke negara yang penghuninya hanya perempuan. Ketiganya tidak pernah menyangka bahwa untuk memahami masyarakat yang sedang mereka pelajari itu, mereka harus membongkar pemikiran intelektual, filsafat hidup, dan keyakinan mereka selama ini. Ternyata eksplorasi ini memaksa mereka untuk merefleksi diri, dan lebih dari itu, mempertanyakan nilai-nilai yang selama ini dianut oleh masyarakat mereka, termasuk nilai-nilai tentang cinta.

HERLAND, negeri berpenghuni perempuan

 

Dan kemudian, saat kami berbelok di sudut, kami memasuki jalan beraspal yang luas dan melihat di hadapan kami kawanan perempuan yang berdiri dalam barisan yang rapat dan rapi, jelas mereka sudah menunggu kami.

Kami menghentikan langkah kami sejenak dan menoleh ke belakang. Jalan di belakang kami tertutup oleh kawanan perempuan lain yang sedang melaju bahu membahu. Kami kembali melangkah—sepertinya tidak ada jalan lain—dan kami menemukan diri kami dikepung oleh massa itu, perempuan, semuanya. (Herland, Bab 2)*

Itulah cuplikan dari Herland, novel bergenre utopia karya Charlotte Perkins-Gilman (1860–1935), penulis, editor, dan ekonom perempuan asal Amerika Serikat. Awalnya Herland merupakan cerbung yang diterbitkan berseri pada majalah Forerunner pada 1915 dan baru diterbitkan sebagai buku pada 1979. Kini karya tersebut dianggap sebagai novel utopia klasik. Novel utopia merupakan karya fiksi yang mengisahkan sebuah masyarakat ideal dan mengandung kritik terhadap masyarakat pada masa karya tersebut ditulis. Demikian pula dengan novel Herland, ia merupakan kritik terhadap relasi perempuan dan laki-laki, sistem ekonomi, serta sistem pendidikan dan pengasuhan Amerika. Ceritanya membuka mata pembaca terhadap “kebenaran” yang diciptakan dan dilestarikan dalam budaya, selain didukung oleh penafsiran terhadap agama.

Semuanya terungkap dalam percakapan sehari-hari antara tiga laki-laki asal Amerika Serikat, yang nekat bereksplorasi ke Herland, dan para penghuni negeri perempuan itu. Ketiga laki-laki awalnya menjadi tawanan ketika sampai ke Herland. Sejak saat itu mereka diajarkan bahasa Herland dan tentang kehidupan di Herland.

 

Charlotte Perkins-Gilman

 

Perempuan Hutan

Herland merupakan negara pegunungan seluas negeri Belanda, kaya akan hutan dan berpenduduk tiga juta perempuan. Penghuninya hidup dan bekerja dengan harmonis bersama alam. Anak-anak bermain dengan bebas di alam, alam adalah sekolah mereka, alam adalah sumber pengetahuan. Inilah pendidikan usia dini di bawah naungan komunitas Herland. Kehidupan negeri ini berpusat pada pendidikan dan pengasuhan anak. Anak-anak akan dibimbing dan diasuh oleh perempuan-perempuan high-skilled yang khusus dilatih untuk mendidik dan menumbuhkembangkan anak. Pengasuhan anak tidak menjadi tanggung jawab ibu biologisnya semata.  

Perempuan-perempuan Herland menghabiskan waktunya bekerja di hutan, mereka memiliki kulit gelap keemasan dan rambut pendek. Tubuh mereka yang kuat dan atletis dibungkus busana longgar dengan banyak kantong yang memudahkan mereka bergerak gesit di tengah-tengah hutan dan mengambil makanan. Ketiga laki-laki itu menjuluki mereka “the forest girls”. Perempuan Herland memang tidak memenuhi stereotip feminitas yang umum ditemui di dunia. Mereka tidak cantik dalam definisi cantik yang lazim. Terry, laki-laki yang mengemudikan pesawat ke Herland bahkan pernah berceloteh kesal, “Mereka bukan perempuan!”

Sementara itu, Jeff adalah seorang dokter laki-laki yang selalu bersikap gentleman dan ingin menjadi pelindung perempuan. Ketika ia hendak mengambil keranjang berisi buah yang sedang dibawa oleh Celis–perempuan Herland itu tidak dapat memahami niat baik Jeff. 

 

Sampul buku Herland edisi pertama, 1979

 

Rumah-rumah batu, jalan-jalan beraspal mulus di negara hutan itu semuanya dibangun oleh perempuan Herland. Sudah sejak 2.000 tahun lalu mereka hidup tanpa laki-laki sejak bencana alam, peperangan, pergolakan, dan pembantaian membunuh semua laki-laki di negeri itu dan menyisakan segelintir perempuan. Secara partenogenesis atau reproduksi aseksual salah satu perempuan di antara mereka dapat melahirkan lima bayi perempuan yang kelak masing-masing juga melahirkan lima bayi perempuan. Demikian seterusnya komunitas Herland berkembang biak dari perempuan-perempuan yang fit untuk hamil dan menjadi negara yang berpenduduk hanya perempuan dan dibangun oleh perempuan. Sejarah ini membuat perempuan-perempuan Herland tidak dapat mengapresiasi sikap-sikap gentleman yang meratukan perempuan, tetapi menganggap perempuan lemah.

Lantas Terry, sang perayu, mencoba trik-trik lama yang biasanya ampuh di negaranya untuk merebut hati seorang perempuan. Perhiasan yang ia hadiahkan kepada perempuan Herland, malah ingin mereka tempatkan dalam salah satu museum, para perempuan itu tidak memikirkan soal nilai perhiasan tersebut ataupun ingin memilikinya.

 


Para perempuan Herland hidup damai dan berkecukupan, sulit bagi seorang laki-laki untuk bisa menawarkan sesuatu yang mereka butuhkan—tidak harta, tidak perlindungan, tidak pernikahan.


 

Cinta dan Perkawinan

Para perempuan Herland hidup damai dan berkecukupan, sulit bagi seorang laki-laki untuk bisa menawarkan sesuatu yang mereka butuhkan—tidak harta, tidak perlindungan, tidak pernikahan. Seiring waktu ketiga laki-laki tersebut mulai menaruh hati pada perempuan pilihan masing-masing. Van, tokoh laki-laki yang sekaligus menjadi narator cerita, adalah sosok yang lebih bijak daripada kedua kawannya. Sebagai mahasiswa sosiologi, ia dapat lebih mudah menyesuaikan diri dengan pola berpikir perempuan Herland. Ia menyadari bahwa kalau ia ingin memikat hati seorang perempuan Herland, dalam hal ini Ellador, hanya siapa dirinya sesungguhnyalah yang dapat ia tawarkan. Karena memang tidak ada kelebihan yang ia miliki sebagai laki-laki yang dapat digunakan sebagai daya tawar.

Kalau ikatan pernikahan merupakan konsekuensi dari cinta, itupun tidak dapat dipahami oleh perempuan Herland. Dalam masyarakat Herland belum pernah ada pernikahan. Ketika ketiga laki-laki hendak meminang masing-masing perempuan yang sudah menjadi kekasihnya, mereka sulit menerangkan mengapa sebuah ikatan pernikahan diperlukan oleh dua orang yang saling mencintai, apa itu suami, dan apa itu istri?

Ketika diskusi panjang itu menyinggung penggantian nama, yakni pihak perempuan akan mengambil nama suaminya, hal itu menimbulkan pertanyaan yang sulit dijawab oleh ketiga laki-laki tersebut. Sulit pula untuk mencari argumen pembenarannya.

 

"Jadi perempuan kehilangan nama mereka dan mendapatkan nama baru? (Tanya Alima, yang saat itu telah menjadi kekasih Terry). “Betapa tidak menyenangkan! Kami tidak akan melakukan itu!” (Herland, Bab 10)*

 

Pada perjalanannya, kehidupan Van, Jeff, dan Terry bersama “istri-istri” mereka di Herland sama sekali tidak mudah. Masyarakat Herland berorientasi pada komunitas dan kolektivitas, serta tidak mengenal nilai-nilai individualistis yang melekat pada institusi perkawinan dan keluarga masyarakat Barat modern. Peran-peran suami dan istri tidak diciptakan dalam masyarakat Herland, sebagaimana dalam masyarakat pada umumnya. Semua ini tentunya menuntut penyesuaian yang besar dari ketiga laki-laki tersebut, hal yang tidak berhasil mereka lakukan sepenuhnya, bahkan perlakuan Terry mengharuskannya pulang ke negaranya.

 

Mengusik Kesadaran

Dengan ikatan perkawinan ketiga pasangan tersebut, Charlotte Perkins-Gilman seolah ingin mengembalikan masyarakat Herland ke bentuk masyarakat dengan perkawinan lelaki dan perempuan yang “normal”, suatu plot yang tampak konservatif. Namun, dilihat dari sisi lain, pada perkawinan antara dua masyarakat ini, yang satu patriarkat dan yang satu egaliter, Herland yang egaliter memiliki kekuatan untuk memengaruhi yang patriarkat. Kondisi ini bisa mendorong perubahan, dengan nilai-nilai baru yang akan dibawa oleh Van (dan Ellador) yang bersama Terry kembali ke Amerika. Dari sudut pandang demikian, novel utopia ini terasa sedikit pragmatis.

Terlepas dari berbagai sudut pandang, Charlotte Perkins-Gilman menulis cerita ini dengan cerdas dan jenaka serta dengan kemampuan untuk membuat pembaca mengintrospeksi diri, tanpa menggurui. Meski ditulis lebih dari seabad yang lalu dalam konteks masyarakat Amerika, hingga kini pun novel Herland tetap mengusik kesadaran tentang hal-hal yang selama ini kita anggap “wajar”, di negara mana pun kita berada.

*Cuplikan ini diterjemahkan bebas oleh penulis.

 

Sumber:

Spawls, Alice (2015) “'Never to touch pen, brush, or pencil again'—The Madness of Charlotte Perkins Gilman.” Verso. https://www.versobooks.com/blogs/2272-never-to-touch-pen-brush-or-pencil-again-the-madness-of-charlotte-perkins-gilman [Diakses 19 Juli 2021].

The Project Gutenberg EBook of Herland, by Charlotte Perkins Stetson Gilman (2008) https://www.gutenberg.org/files/32/32-h/32-h.htm [Diakses 18 Juli 2021].

Wikipedia (2021) Herland. https://en.wikipedia.org/wiki/Herland_(novel) [Diakses 18 Juli 2021].

Wikipedia (2021) Utopian and dystopian fiction. https://en.wikipedia.org/wiki/Utopian_and_dystopian_fiction [Diakses 18 Juli 2021].

Sumber Gambar:

Gambar utama dan 2: Wikipedia

Gambar 1: versobooks.com