HIDUP DI ERA DIGITAL

Digital berasal dari kata digitus, dalam bahasa Yunani berarti jari-jemari. Teknologi digital semakin lekat dengan aktivitas masyarakat, terutama dipicu dengan hadirnya internet, komputer, dan handphone. Teknologi hanyalah merupakan alat. tetap manusia yang mengendalikan, namun jangan sampai menjadi sangat ketergantungan

HIDUP DI ERA DIGITAL
teknologi digital

 

            Apa itu digital? Mengapa harus digital? Bagaimana saya harus mahir menggunakan yang serba digital? Setumpuk pertanyaan berjibun dalam benak namun, jangan buru-buru mengeluh. Memang sudah zamannya demikian, syukurilah bahwa kita mengalami hidup di era digital. Berapapun umur Anda mari mempelajari yang namanya digital.

            Digital berasal dari kata digitus, dalam bahasa Yunani berarti jari-jemari. Digital merupakan penggambaran dari suatu keadaan bilangan yang terdiri dari angka 0 dan 1 atau off dan on (bilangan biner) atau yang disebut juga dengan istilah Binary Digit. Menurut para ahli, pengertian digital adalah gambar dan grafis yang mendeskripsikan dalam bentuk numeris melalui piranti komputer, sehingga digital dimaknai sebagai bentuk modernisasi atau pembaharuan dari penggunaan teknologi elektronik yang menghasilkan, menyimpan dan memproses data dalam dua kondisi, positif dan non positif. Positif dinyatakan/diwakili oleh angka 1 dan non positif oleh angka 0.

            Setelah tahu apa itu digital, maka penulis lanjutkan dengan mengapa harus digital? Antara lain jawabannya adalah bahwa teknologi digital semakin lekat dengan aktivitas masyarakat, terutama mereka yang tinggal di perkotaan. Selanjutnya, bagaimana saya harus bisa melakukan segala sesuatu secara digital? Untuk menjawab pertanyaan yang satu ini, penulis selaku pemerhati pendidikan mencoba untuk membahasnya khusus di bidang pendidikan.

            Hadirnya pandemi covid-19 yang cukup lama berlangsung di dunia khususnya Indonesia, sangat dirasakan dampaknya di dunia pendidikan. Pembelajaran Jarak jauh (PJJ) dengan segala problematikanya harus dicari dan ditemukan solusinya. Setiap pendidik hendaknya mampu menemukan dan menyelesaikan setiap persoalan yang dihadapi setiap peserta didiknya. Ia harus menjadi problem finder dan sekaligus problem solver bagi dunianya (penemu dan pemecah masalah). Dengan selalu mengingat dan memperhatikan  bahwa setiap peserta didik adalah unik dan memiliki perilaku khas, juga gaya belajar yang berbeda-beda satu sama lain.

            Orangtua dan guru hendaknya bisa membantu anaknya beradaptasi dengan gaya belajar masing-masing secara personal, karena dengan begitu diharapkan terjadi peningkatan prestasi anak dan bukan justru sebaliknya menjadi menurun dengan alasan jenuh dan bosan. Kerjasama orangtua dan guru hendaknya memicu dan memacu anak untuk dapat beradaptasi dengan teknologi, sehingga mereka mulai terbiasa ketika mengoperasikan komputer. Melalui jaringan internet cq komputer/laptop/ HP anak-anak dapat mencari sumber pembelajaran, yang berarti membantu mereka mendapatkan pengetahuan secara digital.

            Bagi Perguruan Tinggi, sudah waktunya Perguruan Tinggi juga adaptif dengan sistem pembelajaran digital yang dirasa sudah sangat mendesak untuk mengembangkan program-program studi baru yang adaptif dan sesuai dengan tuntutan perubahan zaman. Berkolaborasi dengan dunia industri dan Pemerintah Daerah, serta mengirim mahasiswa untuk melakukan praktik kerja lapangan adalah penting agar setelah lulus nantinya mereka memiliki pengalamannya di dunia kerja. Dengan demikian tidak menumpuk atau menambah panjang deretan pengangguran terdidik.

            Perkembangan di bidang digital disambut baik oleh Perguruan Tinggi, mereka sadar akan tuntutan pasar dan memenuhi relevansi kebutuhan dunia kerja, Sumber Daya Manusia (SDM) harus digiring dan didekatkan dengan dunia digital. Perguruan Tinggi harus siap memberikan kebebasan kepada mahasiswa untuk memilih mata kuliah yang diminatinya, ini adalah bukti bahwa digitalisasi sangat dirasakan manfaatnya bagi manusia untuk menjadi tangguh menghadapi tantangan masa depan. Tidak cukup dengan hanya membekali peserta didik dengan satu disiplin ilmu saja (linier). Begitu juga halnya setiap pendidik harus sadar bahwa kampus bukanlah satu-satunya sumber pengetahuan. Dosen pun harus dapat menyesuaikan diri kalau tidak mau kalah pinter dengan mahasiswanya.

            Bukankah belajar tidak ada batas waktu (lifelong learning) berlangsung sepanjang hayat. Belajar apa saja untuk memenuhi tuntutan era baru yang serba digital ini. Ada digital printing, digital marketing, digital TV, dan lain-lain. Sudah banyak perusahaan menggunakan internet untuk strategi digital marketing. Orang lebih suka mengakses internet setiap hari, masyarakat pun kini tren nya membeli produk atau belanja secara on line. Apalagi di masa Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level 4 seperti yang kita alami bersama.

Jika Saudara pembaca berada pada posisi di Perguruan Tinggi yang memiliki Fakultas Ekonomi, tentu kenal dengan Tekfin (Teknologi Finansial) dan bisa menjalin kerja sama dengan layanan keuangan digital, misalnya aplikasi OVO; Fakultas Teknik, bisa bekerja sama misalnya dengan Tokopedia Academy; Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), bisa menyajikan/menggelar mata kuliah: Literasi Teknologi Dasar, Literasi Teknologi Lanjutan, Literasi Humanis. Seperti antara lain dengan membekali mahasiswa untuk membuat media pembelajaran secara digital, mulai dari video hingga aplikasi khusus.

            Melakukan terobosan melalui digitalisasi sudah begitu mendesak (urgent) karena kita kini hidup di era digital. Contoh: Komputer menggantikan mesin ketik, Belanja on line menggantikan belanja off line, Pesan tiket baik pesawat maupun kereta api dapat dipesan secara on line tanpa harus antre, dan masih banyak lagi. Teknologi telah menjadi sangat terintegrasi dengan kehidupan sehari-hari manusia dan kita menuju atau bahkan sudah berada di lingkungan gaya hidup digital yang serba cepat dan canggih.

 

Jakarta, 29 Juli 2021

Salam sehat: E. Handayani Tyas; Universitas Kristen Indonesia - tyasyes@gmail.com