Kedudukan Seimbang

Seimbang, tidak jomplang.

Kedudukan Seimbang
"Males deh harus packing," aku mengeluh.
 
Hari ini hari terakhir kami glamping. Glamour camping. Sayangnya, tingkat ke-glamour-an kemping ini nggak sampai di urusan beres-beres barang pribadi. Kami tetap harus lipat-lipat sendiri barang yang namanya sleeping bag, pakaian. Dan lain-lain.
 
Setelah mengeluh begitu, aku keluar dari tenda. Kulihat pintu tenda sebelah sudah terbuka lebar. Itu tenda pasangan istri suami Tuti & Amir, teman-temanku yang mengajakku ikut glamping ini. Kulihat di dalam tenda hanya ada Tuti yang masih bermalas-malasan. Berkemulan di dalam sleeping bag.
 
"Gue donk bangun-bangun tau-tau semua udah beres. Baju-baju udah dilipetin dan rapih masuk tas. Ponsel sudah di-charge. Begitu gue keluar dari sleeping bag ini, nanti tau-tau udah tergulung sendiri aja dia," Tuti menyombong.
 
"Wah, asyik tuh," kataku penuh iri hati.
 
"Itulah enaknya punya suami, Nin!" Tuti menjadi semakin sombong.
 
"Kampret!" makiku yang lajang ini, sambil nyengir kuda dan garuk-garuk kepala.
 
Tak lama, kami sudah berada di dining area. Menyusul Amir dan teman-teman lainnya, untuk sarapan bersama. Sarapan lalu dilanjutkan ngobrol santai. Di tengah itu, kulihat Amir berjalan menuju ke tendanya. Sendirian. Kuduga, dia pasti akan segera melipat dan menggulung sleeping bag-nya Tuti.
 
"Tutiii!" tak berapa lama tiba-tiba terdengar Amir memanggil.
 
Tuti menengok ke arah panggilan berasal. Sambil tetap asyik menyeruput kopi dari cangkir kaleng enamel kecil yang berwarna biru telor asin. Tanpa memperlihatkan tanda-tanda bahwa ia akan bergerak ke sana.
 
"Apa’an sih," tanyanya lebih ke pada dirinya sendiri.
 
"Tuuuuut!!!" Amir bersuara bagaikan peluit kereta api.
 
"Apa’an sih," Tuti bertanya lagi, kali ini dengan keras cenderung berteriak agar terdengar oleh Amir.
 
"Ini koq begini-begitu-begono sih Tut!?" Amir bertanya yang entah apa, saya tak begitu menangkap apa yang dikatakannya.
 
"Ya nggak tau, cari aja sendiri," jawab Tuti lagi-lagi dengan keras.
 
"Ke sini lah, Tut!" Amir menjawab dengan keras juga, langsung dari dalam tenda.
 
"Nggak bisa ntar aja? Lagi ngopi nih, tanggung" teriak Tuti lagi.
 
"Ke sini aja dulu, ntar lanjut lagi ngopinya".
 
Dengan sedikit menggerutu, Tuti meletakkan cangkirnya di bangku kayu. Lalu, ia berdiri dari duduknya, dan beranjak ke arah tendanya. Dengan tetap menggerutu kecil. Jelaslah, kan kenikmatannya ngopi terpaksa harus dihentikan dulu. Para penikmat kopi pasti tahu rasanya terganggu begitu—saya bukan penikmat kopi, jadi tak begitu paham.
 
"Itulah TIDAK enaknya punya suami, Tut!" aku berkata sambil tertawa.
 
"Kampret!" Tuti ganti memaki sambil nyengir kuda tanpa garuk-garuk kepala.
 
Hehe, score kami sama deh. Seimbang.  =^.^=