MAJU – MUNDUR RENCANA PEMBELAJARAN TATAP MUKA TERBATAS

Keselamatan manusia penting, kesehatan penting namun, pendidikan juga penting. Tanggal 3 Juli 2021 dimulai Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan  Masyarakat (PPKM) darurat, semua ini gara-gara serangan pandemi covid-19 yang semakin ‘menggila’. Banyak yang mengeluhkan kalau Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) tidak efektif. Lalu bagaimana solusinya?

MAJU – MUNDUR RENCANA PEMBELAJARAN TATAP MUKA TERBATAS
Pembelajaran masa kini

 

 

 

 

            Bulan Juli 2021 adalah bulan yang ditunggu-tungu, terutama bagi insan pendidikan. Rencana Pembelajaran Tatap Muka, selanjutnya penulis menuliskannya dengan PTM pada tahun ajaran baru 2021/2022 bisa dimulai. Penulis sadar bahwa manusia bisa merencanakan, tentu membuat rencana yang terbaik bagi dunia pendidikan. Justru dalam ilmu manajemen, rencana (planning) harus ada dalam lingkaran PDCA (PlanDoCheckAction), yang biasa dikenal dengan PDCA cycle.

            Kenyataan yang ada dan yang harus kita alami bersama, bahwa tanggal 3 Juli 2021 dimulai Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan  Masyarakat (PPKM) darurat, semua ini gara-gara serangan pandemi covid-19 yang semakin ‘menggila’. Keselamatan manusia penting, kesehatan penting namun, pendidikan juga penting. Apa jadinya kalau terjadi learning lost, dampaknya bisa hilang satu generasi. Banyak yang mengeluhkan kalau Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) tidak efektif. Lalu bagaimana solusinya?

            Melangsungkan pembelajaran di masa pandemi baik PJJ apalagi PTM besar risikonya, walau PTM dirancang terbatas dan diikuti penerapan protokol kesehatan yang sangat ketat. Kalaupun pemerintah bertahan untuk tidak mengambil kebijakan lock down, demi keberlangsungan kehidupan ekonomi yang harus tetap bergulir semua itu demi kemaslahatan hidup orang banyak. PTM tidak dibatalkan tapi wajib mengikuti aturan PPKM darurat. Sedangkan untuk daerah-daerah yang masih tergolong aman diharapkan tetap menyelenggarakan PTM terbatas.

            Kini PPKM darurat akhirnya diberlakukan pemerintah khususnya untuk Jawa dan Bali, untuk menekan laju penularan kasus covid-19 di tanah air. Pemerintah ‘terpaksa menginjak rem darurat’. Inilah respon satu-satunya yang dipandang cukup efektif, mengingat makin bergugurannya dokter dan tenaga kesehatan di mana-mana. Mereka sudah berjuang dengan seluruh pikiran dan tenaganya demi kecintaannya kepada sesama manusia.

            Lalu skenario apa yang bisa disajikan oleh para pendidik kepada peserta didik, generasi muda, penerus cita-cita bangsa untuk mengisi kemerdekaan dan menuju bangsa yang berdaulat, adil dan makmur sebagaimana tercermin dalam UUD 1945. Demi menjalankan amanat konstitusi tersebut yakni mencerdaskan kehidupan bangsa melalui penyelenggaraan pendidikan nasional, insan pendidikan memutar otak dan harus bisa menemukan solusi terbaik sebagai terobosan pembelajaran di masa berlangsungnya pandemi covid-19 yang nyaris meluluh-lantakkan dunia pendidikan.

            Menurut pemodelan UNESCO Institute for Statistics, setiap sebulan kehilangan waktu sekolah, peserta didik kehilangan dua bulan pembelajaran. Jadi dapat dibayangkan jika sudah lebih tiga semester pembelajaran dari tingkat PAUD sampai dengan perguruan tinggi diselenggarakan secara daring, sekolah dari rumah dan belajar dari rumah (learning from home). Tergerusnya pembelajaran yang efektif mengakibatkan peserta didik kehilangan keterampilan dasar, dan dampak lebih jauh yang dirasakan adalah kompetensi peserta didik menjadi minim ketika mereka naik ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

            Berikut ini apakah bisa menjawab kebutuhan belajar di rumah atau School from Home yang berkepanjangan? Begitu banyak keraguan yang menggelayut di benak penulis. Sepertinya cara PTM harus bersabar dulu, walau pernah dirancang berbagai strategi yang mengombinasikan PTM terbatas dan PJJ. Adapun pertimbangannya penentuan komposisinya adalah dengan mempertimbangkan: Jumlah kelompok belajar; tingkat kemandirian peserta didik; dan tingkat risiko pandemi.

            Stein dan Graham (2014) mengatakan bahwa komposisi PTM terbatas dan PJJ direkomendasikan sebagai 1:3 (satu banding tiga); artinya setiap 1 jam PTM, diikuti dengan PJJ selama 3 jam atau setiap 5 jam PTM kemudian disertai dengan 15 jam PJJ atau dengan menggunakan Ilustrasi Penyesuaian Komposisi PTM Terbatas dan PJJ dengan durasi 8 jam PTM dan dilanjutkan dengan 12 jam PJJ. Pendidik boleh melakukan penyesuaian berdasarkan tiga pertimbangan di atas (Sumber: Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran PAUD Dikdasmen di masa Pandemi covid-19).

            Sekolah tidak harus memaksakan mengejar capaian materi pembelajaran kepada peserta didik, dengan perkataan lain yang lebih diutamakan adalah penyampaian materi esensial, sementara selebihnya dapat disampaikan melalui PJJ dengan bantuan kecanggihan teknologi namun, marilah kita mengingat bahwa teknologi hanyalah alat (tool). Komitmen, kreativitas dan kepedulian pendidik yang mumpuni lah yang akan menunjukkan perbedaan dalam pengalaman PJJ bagi peserta didik.

            Oleh karena itu, marilah kita berkolaborasi , berpikir bersama, bertindak secara gotong royong antara pendidik – peserta didik – orangtua – serta lingkungan masyarakat untuk memupuk semangat putera/puteri kita untuk tetap rajin belajar di tengah pandemi covid-19. Mari kita ciptakan suasana yang mendukung untuk mereka betah dan menyukai untuk tetap tinggal di rumah dan mengisi waktu nya dengan belajar dan belajar apa saja yang dapat memperkaya diri, karena tak seorangpun yang tahu kapan pandemi covid-19 ini berakhir.

            Fakta menunjukkan mereda pun tidak, bahkan terjadi lonjakan, jadi tak usah menunggu, lakukan saja yang terbaik sesuai bidang kemampuan masing-masing. Laju penularan virus corona ini sangat mengerikan, saring berita, jangan sampai karena ketakutan imun tubuh menjadi turun. Kita harus tetap sehat, kelola diri sendiri baik-baik, patuhi protokol kesehatan dengan tertib, sayangi diri sendiri, keluarga dan masyarakat, bangsa dan negara. Tak kurang usaha pemerintah dengan memberi vaksinasi sesuai skala prioritas. Pendidik dan tenaga kependidikan diutamakan selain para lansia dan bahkan kini sudah boleh diberikan kepada anak-anak dengan batasan usia tertentu namun, nampaknya usaha vaksinasi ‘kalah’ laju dibanding dengan ganasnya penularan virus yang satu ini.

            Oleh karena itu, ada baiknya kita semua tetap betah tinggal di rumah dengan segala aktivitas yang positif, mendidik putera/puteri dengan penuh kehangatan dan kasih sayang, tak usah  dulu buru-buru memikirkan PTM dengan bentuk apapun, karena pastinya selama PPKM darurat ini segala kegiatan PTM menjadi tertunda, tidak hanya maju – mundur tetapi STOP!

 

Jakarta, 3 Juli 2021

Salam sehat dari penulis: E. Handayani Tyas – tyasyes@gmail.com