Makan Demi Hidup

Urusan makan di sebuah basecamp ekspedisi ilmiah di pedalaman Pulau Seram.

Makan Demi Hidup
Foto Koleksi Martua Sirait
 
"Heeeei, Mamat!!!" Thomas yang berbadan besar menyapa sambil tertawa.
 
Ia lalu duduk di sebelah kiri saya.
 
"Halooo, apa kabar!?" menyusul Maria yang menghampiri.
 
Menegur ramah sambil tersenyum lebar, dan lalu duduk di sebelah kanan saya.
 
Hallo, you two,” saya menyahut sapaan mereka masing-masing sambil nyengir lebar.
 
Tengah hari itu, langit di basecamp kami di Kanikeh, di lereng Gunung Binaiya pada Taman Nasional Manusela, Pulau Seram; cerahnya enak. Saatnya makan siang. Cerah begini, memang asyik menikmati—kalau bisa dikatakan menikmati—makan siang di udara terbuka.
 
Ya padahal di basecamp di hutan bambu ini nyaris tak ada ruang tertutup sih. Namanya juga camp ekspedisi, bangunannya serba darurat semua. Tak ada ruangan atau bangunan yang benar-benar tertutup. Semuanya bangunan nonpermanen yang terbuat dari batang-batang bambu yang diambil dari sekitar lokasi. Bambu memang merupakan materiel yang melimpah di situ. Namanya saja hutan bambu.
 
Saya duduk di bagian muka laboratorium yang merupakan 'kantor' saya. Laboratorium yang, sebagaimana bangunan nonpermanen darurat lainnya di camp ini, dibangun berpanggung. Tempat saya duduk merupakan selasar sempit di luar laboratorium. Saat berada di camp yang sedang sepi begini, untuk makan siang saya selalu memang lebih suka duduk santai di situ. Tidak ke dining hall.
 
Menu makan siang hari itu tak terlalu berbeda dengan menu-menu makan siang lainnya—kalau tak mau mengatakannya sama dan serupa. Merupakan menu cepat saji dan cepat makan. Kering-kering saja. Terdiri dari empat keping crackers, beberapa iris bawang bombay mentah, dua lembar keju lembaran (slice), dan sebatang coklat batang merek mars. Mars bar, tepatnya.
 
Coklat mars bar adalah coklat yang waktu itu belum beredar secara umum di Indonesia. Ukuran dan bentuknya mirip dengan ukuran coklat beng-beng versi pertama. Yang sekarang kan, baik mars bar maupun beng-beng, ada ukuran yang lebih kecil, kecil, dan kecil lagi.
 
Coklat memang dikenal sebagai makanan penambah enerji. Biasanya, di luar ekpedisi yang saya ikuti ini, meski bukan penggemar coklat, kalau naik gunung dan kebetulan sedang sedikit punya uang, saya akan membekali diri dengan coklat. Kalau sedang tongpes, biasanya cukup bawa gula Jawa saja haha… Kalau uang di kantong rada lumayan lagi, coklat yang saya beli adalah yang merek van houten. Model polosan, yang pada masanya banyak dipakai untuk memasak atau bikin kue. Kadang-kadang, beli yang ada almond-nya. Lebih mahal lagi sih, tapi buat variasi dalam hidup, boleh donk.
 
Coklat van houten makannya rada ribet. Harus dipotel dengan tangan dua tangan terlebih dahulu. Kalah praktis dengan coklat asal Garut, silver queen. Coklat yang satu ini praktis sebab bisa dimakan sambil jalan. Dapat dipegang dengan satu tangan. Pun harganya lebih murah daripada van houten. Tapi, sayangnya terlalu manis buat saya. Bisa bikin sugar high tujuh keliling.
 
Di ekspedisi kami ini, banyak teman yang anak Indonesia yang sangat senang mendapatkan mars bar. Itu kan coklat mahal dari luar negeri, kawan! Peserta internasional di ekpedisi ini juga banyak yang suka, ternyata. Dalam keseharian hidup, mereka memang sudah akrab dengan coklat mars bar itu. Saya? Ah, saya tak suka coklat sebenarnya. Kalau terpaksa saja, sebagai makanan survival, bolehlah. Begitu pemikiran saya. Namun, ternyata mars bar ini terlalu kaya di rasa. Terlalu manis. Lebih manis daripada silver queen. Rasa manis yang bisa menyebabkan rasa pening di antara dua mata saya.
 
Sebagian peserta ekspedisi sudah maklum bahwa saya tak suka coklat. Bahwa saya pasti takkan memakan mars bar jatah saya. Bahwa saya pasti akan menyodorkan si mars bar ke siapapun yang ada di sebelah saya. Baik itu anak-anak Indonesia, ataupun internasional. Siapa saja. Dua anak Inggris bernama Thomas dan Marie itu, yang sekarang duduk di samping kiri dan kanan saya, termasuk mereka yang hafal dengan ketaksukaan saya pada mars bar. Itu sebab, mereka tadi adu cepat duduk dekat saya.
 
"Awww, Marie!!!" seru Thomas sebal waktu Marie kemudian nimbrung dengan kami.
 
Kenapa dia protes? Karena, berarti dia harus berbagi mars bar saya dengan si Marie.
 
Saya tertawa sambil menyelipkan irisan tebal bawang bombay dan keju lembaran di antara dua keping crackers. Perang perebutan mars bar antara Thomas dan Marie sudah usai. Dengan santai kami makan siang bersama, sambil ngobrol dengan riang gembira. Meski ada udang di balik mangkok penyebab mereka duduk di dekat saya siang itu, mereka cukup akrab dengan saya. Mereka termasuk anak-anak yang sering ngobrol dengan saya. Jadi, tak ada kecanggungan sama sekali.
 
Kurasa, gara-gara model makan siang seperti itulah yang membuat saya sangat suka dengan bawang bombay di kehidupan saya selanjutnya. Termasuk yang mentah—catatan tak penting.
 
Makan siang di camp memang selalu ringkas tapi kaya kalori dan protein. Begitu berlangsung nyaris setiap hari selama tiga bulan kami berada di camp itu. Memang lebih bersifat survival. Makan untuk hidup. Dari pagi sampai sore camp cenderung sepi, berhubung sebagian besar penghuninya berkegiatan di luar camp. Terlalu sedikit orang di camp, maka terlalu ribed kalau dapur harus menyiapkan makanan yang lebih berat. Malam hari, ketika semua sudah kembali ke camp, barulah bisa repot masak-masak.
 
Mereka yang mengembara jauh dari camp Kanikeh sampai berhari-hari lamanya, selalu dibekali dengan makanan survival yang disebut raven pack. Merupakan paket lengkap survival food yang kebanyakan jenis makanan yang tak nendang buat anak-anak Indonesia. Hahaha… Di antaranya, ada jenis makanan kering yang disebut flapjack.  Flapjack itu makanan yang British banget. Kue kering batangan yang terbuat dari campuran biji oat, kismis, mentega, gula kelapa, dan lainnya. Selain itu, ada juga gula batangan rasa mint yang disebut Kendal mint cake. Lagi-lagi sesuatu yang British banget—ekspedisi ini memang ekspedisi British sih.
 
Makan malam di camp lebih sering berupa olahan dari bahan-bahan makanan awetan juga sih. Yang asalnya instan, keringan, botolan, dan kalengan. Jarang ada makanan segar semisal sayuran. Tetapi, makan malam adalah kegiatan yang mengasyikkan. Semua berkumpul di dining hall untuk makan bersama. Setelah acara makan selesai dan kelar cuci alat makan masing-masing; semua bisa santai-santai di dinginnya malam. Mengobrol atau kegiatan lainnya. Seseorang ada yang mempunyai album CD Graceland-nya Paul Simon. Habis makan CD diputar. Kami semua lalu joged dengan tetap duduk. Lantai panggung dining hall pun berderak-derak, menggoyang seluruh bangunan. Seru! Dinginnya malam di lereng gunung ini menjadi tak terasa karena kehangatan persahabatan.
 
"Teruji sudah, bahwa bangunan dari bambu ini ternyata memang kuat," entah siapa yang berkata begitu, sebelum kami semua undur ke barak tidur.
 
Makan siang yang asyik, makan malam yang seru. Mau apalagi? Sayangnya, yang menyiksa, buat saya, adalah sarapan. Padahal tinggal makan saja haha..., sebab ada tim dapur yang selalu mempersiapkannya. Pagi hari, jam 7, kami akan dibangunkan oleh teriakan si juru sarapan.
 
"Breaky breaky!!! Weaky weaky!!! Poridge!!!"
 
Uuuuuuukh... Biasanya saya malah menarik sleeping bag sampai ke atas kepala. Terbayang sarapannya yang uuuh...
 
"Lima menit lagiii!!!" teriak saya.
 
Sarapannya kadang-kadang moesli (sejenis gandum yang dicampur dengan biji-bijian dan buah-buah kering), suka-suka couscous tawar yang terbuat dari sejenis gandum. Namun, yang paling sering adalah oatmeal atau havermut. Aiyaaa... Paling tak kusuka!!! Buat saya, oatmeal itu makanan orang sakit. Mana lagi sulit untuk ditelan. Sifatnya yang makin dingin makin padat, tambah menyebalkan. Masih lama kemudian dalam hidup saya baru sadar bahwa ia bisa dibikin encer. Belum berpengalaman sih
 
Sebagai teman untuk makan oatmeal dan lain-lain itu, tersedia berbotol-botol madu dan berbagai jenis selai buah. Manis semua. Ingin rasanya di pagi yang dingin itu sesekali bisa sarapan semangkuk mi instan panas yang gurih. Bagus kalau bisa pakai telur.
 
Mi panas sangat cocok lho untuk dimakan di camp Kanikeh ini. Karena, lokasinya yang di lereng gunung Binaiya yang berketinggiannya 3.027 meter dpl itu hawanya dingin sekali. Saya tak pernah mengukur suhu udara pada jam 7 pagi yang adalah jam sarapan itu. Tapi, pada jam 5 pagi suhunya berkisar di sekitar -5° C. Yak, minus lima derajat celsius. Saya hafal karena merupakan tugas harian saya untuk mencatat suhu dan curah hujan tiap jam 5 pagi.
 
Ternyata, bukan hanya saya yang merindukan mi panas untuk sarapan. Satu saat, ketika ada cukup banyak anak-anak Indonesia dan Jepang di camp, tiba-tiba kami satu suara. Apalagi kalau bukan soal sarapan dengan mi panas. Semua mengharap ada satu saja pagi dengan sarapan mi panas. Sekali saja! Berhubung saya satu-satunya orang Indonesia yang berstatus staf, maka saya dibebankan tugas untuk bicara dengan staf bule terutama penguasa dapur. Permintaan diijinkan tapi bersyarat. Syaratnya, kami, anak-anak Indonesia dan Jepang, yang harus menyiapkannya. Syarat yang dengan senang hati kami terima.
 
Esok paginya, meski dingin masih sangat menusuk tulang dan suasana masih gelap tanpa matahari, semua anak Indonesia dan Jepang keluar dari sleeping bag masing-masing dengan penuh semangat. Semua mengambil tugas memasak bersama dengan gembira. Yasu si anak Jepang bernyanyi sehingga menambah keriangan pagi itu.
 
"Noodle..., noodle..., noodle...," begitu nyanyian ngasal si Yasu.
 
Tiba saat sarapan, semua penghuni camp antre untuk mendapat jatahnya. Dan, di situlah terjadi pemandangan seru nan tak terduga.
 
Aroma gurih yang tercium di pagi itu sungguh membangkitkan semangat kami yang orang-orang Asia. Sebaliknya, air muka bule-bule itu malah berubah. Wajah mereka terlihat menjadi khawatir dan mungkin agak-agak panik.
 
"Looks very spicy," terdengar beberapa orang saling berbisik dengan cemas.
 
Semua meminta untuk tak diberi kuah. Bahkan setelah mi sudah di piring, mereka masih berusaha 'memeras' mi agar ekses kuah yang masih ada dapat dibuang sebanyak mungkin. Kemudian, yang semakin membuat saya terkejut adalah, mereka menumpahkan sebanyak mungkin selai atau madu di atas mi. Lebih banyak dari biasanya. Mengubur mi dalam-dalam, demi menghilangkan rasa dan aroma gurih mi tersebut. Saat itu saya baru paham, bahwa buat bule sarapan harus yang manis-manis. Sama seperti ketika umat Islam berbuka puasa di bulan puasa, harus dengan yang manis-manis. Namanya sama-sama breakfast kan.
 
Pagi itu, kami tim perut Indonesia-Jepang sarapan mi panas dan pedas dengan bahagia. Di sisi lain, tim Belahan Bumi Barat tampak makan dengan sedikit tersiksa. Terbayang sih, padahal sudah susah payah menutupi rasa gurih dan pedas mi dengan rasa manis, ternyata tak terlalu sukses. Pasti rasanya jadi tak karuan. Maaf ya…   =^.^=