Soto Bersantan dengan Seribu Kenangan

Soto Merah yang resepnya masih menjadi misteri bagi saya adalah menu andalan keluarga kami. Mama sering menghidangkan Soto Merah saat kami kecil, sayang saya tidak pernah mencatat resepnya

Soto Bersantan dengan Seribu Kenangan
Dokumentasi pribadi

 

Pagi itu Mama terlihat sibuk sekali. Berkali-kali mondar-mandir antara dapur dan ruang makan.  Kompor sudah dinyalakan, panci dengan ukuran besar berisikan  air dan potongan daging sapi sudah dijerang di atasnya.  Mama sibuk mengambil wadah berbagai ukuran dari   rak bagian atas lemari yang berisikan pecah-belah dan peralatan masak.

Di meja dapur tertata berbagai rempah: bawang merah, bawang putih, kemiri, merica, sereh, pala. “Tari, ayo bantu Mama tutup meja,” katanya. Saya pun maklum, maksud Mama adalah menata meja makan untuk persiapan makan siang. “Baru jam 10.00 pagi Ma, apa nggak kepagian tutup meja sekarang?” tanya saya. “Kalau kesiangan, khawatir belum rapi ketika Mbah Putri datang.  Kamu ingat kan Mbah Putri akan datang hari ini? Mama ingin menyambut Mbah Putri dengan makan siang. Lauknya Soto Merah,” jelas Mama.

Soto Merah adalah salah satu menu andalan di rumah kami, yang menghampiri meja makan di saat-saat acara istimewa, seperti saat Mbah Putri berkunjung. Mama selalau bercerita bahwa Soto Merah adalah salah satu menu kesukaan Mbah Putri, nenek kami yang asli Tegal. “Mbah Putri yang mengajarkan Mama memasak Soto Merah,” begitu selalu cerita Mama.

Bagaimana cara mengolah Soto Merah, bumbu apa yang digunakan?  Saya tidak terlalu paham.  Saya tidak terlalu berminat pada hal masak-memasak saat saya kecil. Saya hanya tahu rasa Soto Merah itu enak sekali.  Penampilannya juga sangat menarik: campuran santan dengan warna putih dengan cabai dan tomat yang merah merona  serta potongan daging sapi dan  jeroan seperti babat, paru  yang kecoklatan dengan taburan daun bawang hijau dan bawang merah goreng selalu menggugah selera.  Membayangkannya saja sudah menerbitkan air liur. Disantap bersama nasi putih hangat, pulen, harum ditemani dengan emping, maka lengkap lah kebahagiaan saya. Ingatan bahwa siang ini kami akan makan bersama dengan Mbah Putri dan hidangan istimewa membuat saya tidak lagi mengajukan pertanyaan.  Saya menata meja dengan semangat. Piring makan, sendok, garpu, serbet, saya tata seputaran meja makan keluarga yang berbentuk bundar.

Sesekali terdengar suara Mama dari dapur memberikan instruksi untuk tata meja yang layak dan apik menurut standar Mama. “Serbet makan sudah diambil? Serbet makannya sama dengan taplak ya, jangan selen. Nanti mbah Putri kaget,” katanya. “Sudah Ma, sudah seragam nih taplak dan serbetnya. Tatakan gelas dan tutupnya juga sudah,” jelas saya.  Mama kelihatannya puas dan percaya dengan jawaban saya, karena selama beberapa menit tidak terdengar instruksi apa pun.  Saya menarik nafas lega, karena tugas tutup meja sudah berhasil saya lakukan. Enam piring makan dengan serbet makan di atasnya, dilengkapi dengan sendok garpu. Gelas diletakkan di sebelah kanan piring, dialasi tatakan gelas dan dilengkapi dengan tutupnya. 

Meja makan sudah siap, terlihat cantik dan mewah dan saya pun siap-siap untuk meneruskan membaca  Gunung Setan di Rocky Mountains karya Karl May, yang terpaksa saya letakkan ketika dipanggil Mama. Saya pun tenggelam dalam kisah pertemuan Old Shatterhand dengan Old Surehand dan petualangan mereka. Saya merasa berada  bersama Old Shatterhand, berkuda melalui prairi yang luas, kemudian melintasi pegunungan Rocky Mountains sepanjang hari sampai matahari terbenam. Ketika malam tiba para pengembara bersiap-siap menyalakan api unggun  untuk menghangatkan badan dan memanggang rusa hasil perburuan. Saya bisa merasakan hangatnya api dan mencium aroma daging panggang yang wangi dan siap mencecapnya ketika terdengar suara nyaring: “Tariiiii….” Suara Mama dari dapur membuyarkan petualangan saya dan seketika saya kembali ke realita. “Sudah selesai tutup mejanya kan? Ayo bantu Mama di dapur,” lanjut Mama.

“Aku kan gak bisa masak Ma,” kata saya bersungut sambil memasuki dapur. “Nah makanya belajar, memasak itu penting. Salah satu life skill yang harus kamu kuasai.” Meski pun Mama mempersiapka hidangan istimewa, atau biasa kami sebut sebagai masak besar, dapur tetap terlihat rapi. Semua bumbu ditaruh dalam wadah. Hati saya kecut melihat jumlah bawang merah  yang memenuhi  mangkuk berukuran sedang. Saya khawatir diminta Mama mengupas dan mengiris bawang merah. “Bisa-bisa gak jadi makan Soto Merah nih, “ kata saya dalam hati. Saya tidak terampil  mengiris bawang merah: lambat dan selalu bercucuran air mata.

“Kamu belajar bikin santan ya. Nah kelapa parut ini disiram dengan air matang, lalu peras seperti ini,” kata Mama sambil memberi contoh.” Saya lega luar biasa karena pagi itu saya tidak jadi mengeluarkan air mata, tetapi mengeluarka air dari parutan kelapa menjadi santan. “Nah coba kamu teruskan,” lanjut Mama. Proses membuat santan ternyata cukup mengasyikkan, meski pun memakan waktu juga, dan akhirnya selesai. Santan kental  sudah siap. Saya melirik Mama, dan siap-siap lari meneruskan petualang di Rocky Mountains, tetapi saya lihat Mama sudah menaruh talenan, pisau, semangkuk tomat dan cabai merah besar.

“Nah sekarang potong-potong tomat seperti ini,” kata Mama sambil tanganya mengiris tomat menjadi potongan-potongan  berbentuk pesergi. “Jangan terlalu kecil ya, agak besar dan kasar saja mengirisnya,” kata  Mama. “Setelah selesai dengan tomat, potong cabai merah. Bijinya buang dulu. Seperti ini.” Kembali tangan Mama dengan lincah mengambil cabai. Dengan ujung pisau yang lancip, cabai merah dibelah tengahnya, dibuang bijinya, dan diiris serong, agak besar.

Saya tidak punya pilihan. Tugas mengiris tomat dan memotong cabai merah saya lakukan di dapur bersama Mama. Dapur sudah penuh dengan asap, karena bumbu-bumbu lain sudah ditumis dalam wajan besar dengan minyak panas setelah diuleg halus oleh mbok Yem. Wangi sekali. “Ayo Tari mana tomat dan cabainya, sudah harus dimasukkan sekarang,”  kata Mama dengan suara tidak sabar. “Ini Ma, tomatnya sudah semua. Cabai baru sebagian,” jawab saya sambil menyorongkan mangkok tomat. Tomat masuk ke wajan disusul oleh cabai merah, yang semuanya kemudian dimasukkan kedalam rebusan daging.  “Setelah daging dan jeroan empuk, nanti dicampur dengan santan,” kata Mama menjelaskan. Saya mengangguk sambil bergegas mencuci tangan meninggalkan dapur.

Siang itu, persis seperti direncanakan Mama, kami berenam: Mama-Papa, kakak-adik ,saya dan Mbah Putri duduk mengelilingi meja makan menyantap Soto Merah.  Sesuai dengan  bayangan saya, rasa soto ini sangat nikmat. Potongan daging dan jeroan yang empuk dalam gurih santan berpadu denga kecutnya tomat dan sedikit pedas dari cabai merah membuat saya tidak berhenti mengunyah. Mbah Putri terlihat menikmati hidangan Soto Merah. “Enak sotonya Tuti. Tapi  kalau Ibu, mericanya lebih banyak, biar agak pedas,” kata Mbah. “Iya Ibu, lain kali saya tambahkan,”  jawab Mama dengan sopan. “Ini masakan kesukaan keluarga kita. Jangan lupa anak-anakmu diajarin ya,” lanjut Mbah Putri. “Aku tadi bantuin di dapur Mbah. Bikin santan dan motongin tomat dan cabai,” saya meyela dengan bangga.  “Nah gitu. Ini baru cucu Mbah. Lain kali kamu yang masak ya Tari,” kata Mbah Putri tersenyum. “Belum tahu bumbunya Ibu. Tari tadi langsung lari setelah ngirisin tomat dan cabai,” kata Mama seolah mengadu. “Nggak apa-apa, lain kali kamu bantu Mama sampai selesai ya,”  Mbah Putri berkata sedikit membela saya. Saya pun mengangguk dengan takzim.

Namun lain kali, kesempatan itu, memasak Soto Merah bersama Mama tidak pernah terjadi. Bukan karena Mama tidak pernah memasaknya, namun setiap kali saya diminta membantu di dapur, selalu saja saya menghindar. “Lain kali ya Ma,” itu selalu yang saya ucapkan. Dengan berlalunya waktu, saya makin besar, kemudian kuliah di luar kota dan bekerja,  Mama-Papa mulai mengurangi konsumsi santan, daging, jeroan.    Kehadiran Soto Merah semakin jarang. Mama juga mulai jarang masak sendiri. Mama lebih banya mengawasi. Kalau saya sedang di rumah dan menyentil tentang Soto Merah, Mama menjawab santai: “Sekarang kamu yang masak. Mama masak hanya untuk Papa dan Mama. Gantian…” katanya sambil tersenyum.

Sayangya resep Soto Merah tidak pernah ditulis. Mama mengandalkan ingatannya yang diajarkan Mbah Putri. Cilakanya lagi,  saya tidak menyegerakan merekam ingatan Mama tentang Soto Merah. Selalu saja saya menundanya, sampai tiba masanya dimana saya benar-benar harus bisa masak  sendiri. Saat itu Mama sudah banyak lupa resep-resep peninggalan Mbah Putri. Barulah saya menyesal. Seperti kata pepatah, penyesalan selalu datang kemudian.

Untuk waktu yang lama  soto bersantan tidak ada dalam menu makanan saya. Saya selalu merindukan Soto Merah, tapi apa daya,  saya tidak bisa menemukannya di warung makan dan resto yang saya kunjungi.  Namun suatu hari,  ketika  saya mulai bekerja di kawasan Palmerah, Jakarta Barat, saya diperkenalkan kepada soto bersantan oleh teman sekantor. “Ini namanya Soto Betawi, Tari, enak kan?” kata Heni. “Iya enak banget. Baru kali ini aku makan soto bersantan sejak ibuku tidak lagi masak Soto Merah di rumah,” kata saya sambil menghirup kuah soto yang gurih manis itu dan mengunyah dagingnya yang empuk. “Wah baru dengar nih ada Soto Merah. Kayak apa rasanya?” Tanya Heni dengan bersemangat. “ Ya mirip ini. Beda sedikit saja. Soto Merah agak kecut karena ada  tomat dan  sedikit pedas karena cabai merah, dan tentu saja warnanya merah,” saya menjelaskan. “Dan kamu gak bisa bikinnya?” tanya Heni heran. “Ya aku menyesal sih, karena menyia-nyiakan kesempatan dulu,”jawab saya dengan agak malu. “Gak usah nyesel deh, kamu belajar bikin Soto Betawi aja, untuk obat kangen,” Heni memberikan usulan.

Ide belajar membuat Soto Betawi ini juga kemudian tenggelam digulung oleh waktu dan berbagai pekerjaan yang selalu saja menumpuk. Namun dengan dorongan dari Heni yang rajin mengingatkan dan memberikan  beragam resep Soto Betawi, akhirnya saya berani mencoba. “Masaknya barengan ya Hen. Kalau nggak  ditemenin nggak bakal kejadian nih masak Soto Betawi.

Ditemani Heni, saya  mulai membaca berbagai  resep Soto Betawi. “Banyak banget ya ragam resep Soto Betawi. Ada yang   menggunakan semua rempah: bawang merah, bawang putih, kembang lawang, merica, kemiri, kayu manis, cengkeh, pala. Ampuuuun,…” kata saya. “Sabar Tari, kita cari yang resepnya simple,” kata Heni menyemangati.  Akhirnya, kami dapatkan juga resep yang sederhana: bawang  merah, diiris-iris; pala, cengkeh, kayu manis, merica, ditumbuk kasar. Sereh, digeprek, jahe, digeprek, daun jeruk disobek-sobek serta  daun salam. “Ini  resep yang simple, gak usah nguleg bumbu. Cocok untuk kita yang gak bisa nguleg bumbu,” kata Heni terkekeh.

“Eh jangan girang dulu,” kata saya. “Ini dagingnya harus empuk. Aku kalau masak daging sering keras,” kata saya khawatir. “Tenang. Ada kuncinya. 12 menit. 30 menit dan 12 menit.” Heni tersenyum rahasia . “Apa itu, jangan bikin penasaran.” Kata saya. “Nah, menurut tante aku, kalau masak daging itu, rebus air dan daging sampai mendidih, tambah 12 menit. Lalu matikan kompor. Tutup panci 30 menit jangan dibuka. Setelah itu didihkan lagi, masukkan bumbu dan rebus 12 menit lagi, pasti empuk,” jelas Heni. “Awas ya kalau keras, tanggung jawab,” kata saya.

Akhirnya mengolah Soto Betawi berdua dengan Heni terjadi juga. Semua langkah diikuti, kuah berkali-kali dicicipi. Setelah sekitar 1 jam, Soto Betawai siap disantap. “Jangan lupa pelengkapnya lho: irisan tomat, kentang goreng, kecap daun bawang, emping,” Heni mengingatkan. “Sudah siap bos,”  kata saya. 

Tahap berikutnya adalah menghidangkan dalam mangkuk dengan rapi dan cantik. Akhirnya kami berdua duduk dan mulai menyantap Soto Betawi. “Tari, mana kecapnya? Terus kok rasanya santan semua sih bumbu yang digeprek tadi gak kerasa…” Heni komentar sambil tertawa. Saya tersenyum kecut sambil menyodorkan kecap. “Ini kecapnya, tambahin sendiri ya… tentang bumbu, iya, kenapa hambar gini?” sahut saya sambil tersenyum malu. “Ya udah lain kali  kita masak lagi ya…” saya menutup  pembicaraan sambil terus menghabiskan Soto Betawi yang rasanya kok beda dengan  yang biasa saya beli dan juga berbeda dengan Soto Merah Mama. Tak apa, kenangan tentang Soto Merah bisa dihadirkan melalui Soto Betawi ini. Masih ada dan harus ada waktu untuk menghidupkan kenangan memasak bersama Mama dengan hasil yang lebih sedap.