Meluruskan Persepsi dengan Komunikasi

Komunikasi sebagai pemicu perilaku, tentu memiliki peran untuk mendorong perilaku baik. Itulah yang menjadi kekuatan komunikasi dalam menyelesaikan segala masalah yang ada.

Meluruskan Persepsi dengan Komunikasi

Meluruskan persepsi dengan komunikasi

Pada abad ke-19 para ilmuwan mengira bahwa apa yang ditangkap pancaindra kita sebagai sesuatu yang nyata dan akurat. Para psikolog menyebut mata sebagai kamera dan retina sebagai film yang merekam pola cahaya yang jatuh di atasnya. Para ilmuwan modern menantang asumsi itu. Kebanyakan percaya bahwa apa yang kita amati dipengaruhi oleh citra retina dan mata, terutama oleh kondisi pikiran pengamat. Oleh karena itu, kita biasanya mempunyai kesan berlainan mengenai lingkungan kita, meskipun kita tidak mengenal hal-hal itu. Kita sebenarnya tidak mengetahui dunia tersebut melalui dunia di sekitar kita sesederhana yang kita duga.

Proses memahami, menangkap, dan meneruskan informasi yang ditangkap dengan indera, tergantung dari cara kita mengkomunikasikan informasi tersebut kepada pendengar atau pengamat. Persepsi adalah proses internal yang memungkinkan kita memilih, mengorganisasi, menafsirkan rangsangan dari lingkungan kita, dan proses tersebut mempengaruhi perilaku kita. Sebenarnya kita tidak punya kontak langsung dengan realitas. Sehingga butuh yang namanya komunikasi untuk menjembatani persepsi dan realitas yang ada. Supaya realitas tersebut bisa dipahami dan akan menghasilkan persepsi. Ketika para ahli fisika meneliti fenomena alam, atau ketika para insinyur mengui sebuah mesin, persepsi mereka boleh jadi mendekati akurat. Namun, ketika mereka berkomunikasi dengan manusia, baik dengan sesame ilmuwan atau bahkan pasangan hidup mereka masing-masing, persepsi mereka mungkin kurang atau bahkan tidak cermat karena berdasarkan motif, perasaan, nilai, kepentingan, dan tujuan berlainan.

Persepsi adalah standar bagaimana komunikasi bisa berjalan efektif. Jika komunikasinya baik, maka hasil persepsi atau pemahamannya pun akan baik pula. Contohnya, jika kamu tau kasus miskomunikasi yang biasa terjadi ketika kita berkomunikasi, proses komunikasi yang berjalan secara kurang atau tidak baik yang menyebabkan informasi yang disampaikan tidak sesuai dengan harapan.

Saya : “Excuse me, can you show me how to get bus station?”

Warga lokal A : cuma diam

Warga lokal B : “bus … small (sambil memperagakan bentuk bus kecil)”

Atau

Abang penjaga loker : “Kamu dari Indonesia sendiri kah?”

Saya : “iya bang”

Abang penjaga loker : “Mari, saya belanja Kamu”

Saya : “Hah???”

Abang penjaga loker A : “maksud saya, belanja Kamu makan dan minum”

Abang penjaga loker B : “he said, he wants buying food for you”

Saya : “Oalah… TRAKTIR Bang maksudnya? Mau mau mau “

 

Itu contoh sederhana pada masalah sehari-hari. Jika komunikasi tidak dibangun dengan baik, akan timbul persepsi atau pemahaman yang salah. Dalam contoh di atas, komunikasi yang dibangun menimbulkan persepsi yang keliru dan tertunda karena tidak menggunakan komunikasi antarbudaya di dalamnya. Akan bahaya jika komunikasi tersebut menimbulkan emosi negative bahkan konflik. Sehingga, peran komunikasi dalam membangun hubungan, menyamakan pemahaman, serta menanamkan konsep diri.

Semua tindak tanduk manusia berawal dari cara berpikirnya. Komunikasi yang mempengaruhi persepsi seseorang, otomatis akan sangat berpengaruh pula terhadap perilaku seseorang. Dengan begitu, komunikasi memiliki kekuatan dalam menyelesaikan masalah sebab dia mempengaruhi perilaku seseorang.