Menyapu Lantai

Kegiatan seorang anak bersama bapaknya yang menyapu lantai, seorang pembuat konten yang sedang sepi job.

Menyapu Lantai
Photo by Valeria Zoncoll on Unsplash.

Aku melamun.

Job bikin konten di Instagram masih sepi. Baru satu bulan ini aku mencoba menekuninya, dan baru ada satu klien yang memakai jasaku. Aku nggak pasang tarif mahal, karena aku juga butuh portofolio buat nawarin jasaku ke orang lain. Yah cukuplah buat bayar BPJS kelas II dan kuota sebulan buat upload ke Instagram.

Kadang aku sambil mikir ide konten, seperti terlihat melamun. Selain mikirin konten, tentu saja bingung mau nawarin ke siapa lagi karena portofolio belum banyak. Tapi ini melamun betulan.

"Bapak, ruang tengah minta tolong disapu", kata Istriku tiba-tiba, yang sedang menyetrika baju anakku. Anakku usianya 1 tahun 6 bulan. Jalan sudah lancar, tapi kalau berhenti masih agak susah ngerem.

Beberapa kata sederhana mulai diucapkan, seperti "Bapak", "Jatuh", "Mandi", dan "Maem". Kadang-kadang ada kata yang seragam, misal untuk "Ibu", "Bambu", "Bau", "Saru" (Bahasa Jawa: Memalukan), disebut dengan satu kata: "Babu".

Kalimat-kalimat perintah juga mulai dipahami, seperti ajakan ke kamar mandi karena buang air besar atau mau mandi, ajakan ke kasur untuk segera minum ASI lalu tidur, atau ajakan jalan-jalan.

Aku kemudian menyapu ruang tengah depan TV. Anakku ini memang sudah sering melihat bapaknya menyapu lantai. Sejenak dia melihat bapaknya ke pojok-pojok ruangan menyapu debu-debu, yang kadang kalau Istriku yang menyapu di situ, entah mengapa bisa dapat lebih banyak.

Anakku lari ke dapur. "Lho, mau ke mana?" Anakku masih diam. Mungkin dia belum punya frasa untuk menyampaikannya. Rupanya dia mengambil sapu lagi.

"Ya Allaah, pinter banget 'nak mau bantu bapak menyapu!", bercampur sedikit haru karena terbawa suasana. Aku senang, dong, job baru sepi, ada anak bayi paham harus bantu bapaknya menyapu, tahu itu sapu ditaruh di mana, gunanya buat apa.

"Bapak!", teriaknya sambil mendatangi aku. Debu pertama dilewati. Oh, oke mungkin debu kedua mau mencoba disapu. Ternyata masih dilewati.

"Adik mau bantu menyapu yang di sini? Ayo". Anakku masih diam saja.

"Lho, kok nggak disapu", tanyaku pada si anak.

"Bapak!", sambil menyodorkan sapu.

"OOO KAU INGIN BAPAKMU MENYAPU PAKAI DUA SAPU YA? BAIKLAH". Akupun menyapu lantai dengan dua sapu, dan anakku tepuk tangan.