MERDEKA BELAJAR  TIDAK SAMA DENGAN  BELAJAR MERDEKA

Program Merdeka Belajar Kampus Merdeka merupakan kebijakan yang bertujuan mendorong mahasiswa untuk menguasai berbagai keilmuan yang berguna untuk memasuki dunia kerja. Kampus Merdeka memberikan kesempatan untuk memilih mata kuliah yang akan mahasiswa ambil sesuai Panduan Kampus Merdeka 2020. Kompetensi lulusan Pendidikan Tinggi yang akan datang  harus memiliki dedikasi yang kuat kepada bangsa dan negara, memiliki rasa kemanusiaan yang tinggi dan sifat toleransi untuk menjaga kerukunan

MERDEKA BELAJAR  TIDAK SAMA DENGAN  BELAJAR MERDEKA
Mengenal Merdeka Belajar - Kampus Merdeka

 

Bermula dari mendengar kemudian mengetahui dan selanjutnya timbul rasa ingin tahu. Apa itu Merdeka Belajar? Mengapa Mas Menteri Nadiem berhasrat banget untuk menyelenggarakannya? Sedangkan untuk pertanyaan-pertanyaan selanjutnya:  Kapan dimulainya? Di mana harus mendaftar? Siapa saja yang dapat mengikuti Program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM)?  Bagaimana caranya? Itulah 5+1 pertanyaan yang perlu diketahui oleh para mahasiswa, yaitu 5 W + 1 H (What, Why,   When, Where, Who dan How). Semua pertanyaan itu dengan mudah diperoleh jawabannya melalui internet.

Sekalipun sudah sering kita mendengarnya namun, ada baiknya jika kita ingin mengetahuinya lebih lagi. Program Merdeka Belajar Kampus Merdeka yang selanjutnya akan ditulis MBKM merupakan kebijakan yang bertujuan mendorong mahasiswa untuk menguasai berbagai keilmuan yang berguna untuk memasuki dunia kerja. Kampus Merdeka memberikan kesempatan untuk memilih mata kuliah yang akan mahasiswa ambil sesuai Panduan Kampus Merdeka 2020.

Saat ini sudah ada 14.000 mahasiswa telah bersedia mendaftar pada Program MBKM. Mereka adalah anak-anak muda, generasi muda, generasi yang akan melanjutkan tongkat estafet perjuangan bangsa dan mengisi kemerdekaan di Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan ide-ide cemerlangnya. Dengan tenaga yang kuat membangun negeri menuju Indonesia adil makmur aman dan sejahtera.

Menurut Mas Menteri Nadiem, selama 18 tahun Indonesia berada di peringkat bawah untuk bidang literasi dan numerasi. Lalu bagaimana kita harus bangkit? Diakuinya memang tidak mudah tapi tidak untuk menyerah! Harapan harus tetap menyala untuk mengangkat martabat bangsa Indonesia, membentuk karakter baik, menjadi bangsa yang tangguh. Oleh karena itu, pemerintah mengajak pemuda-pemudi Indonesia untuk tidak hanya mengikuti melainkan berkontribusi, cepat bertindak, mau dan mampu untuk terus mengasah diri dan nantinya memiliki kompetensi kepemimpinan serta mempunyai kepekaan sosial.

Sebagai cendikiawan yang mampu mensejajarkan bangsa Indonesia dengan negara-negara maju di dunia ini di masa yang akan datang, yang terus berdedikasi untuk negeri tercinta Indonesia. Kaum muda yang memiliki karakter baik (terpuji, teruji, jujur dan berintegritas), keterampilan (skills) yang terus diasah dan siap sedia untuk selalu meng-up date pengetahuan seiring dengan kemajuan teknologi yang pesat sekarang ini. Kompetensi yang dimiliki mahasiswa di masa lalu tidak sama dengan tuntutan masa kini, berpikir dan bertindak cepat lah jika tidak ingin tertinggal, ubah rintangan menjadi tantangan dan segera wujudkan Sumber Daya Manusia (SDM) unggul.

Untuk mewujudkan cita-cita mulia itu, ada 4 penyesuaian kebijakan di lingkup Pendidikan Tinggi. Kebijakan Kampus Merdeka ini merupakan kelanjutan dari konsep Merdeka Belajar:

  1. Kebijakan Kampus Merdeka pertama adalah otonomi bagi Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan Swasta (PTS) untuk melakukan pembukaan atau pendirian program studi (prodi) baru.
  2. Kebijakan Kampus Merdeka yang ke dua adalah program re-akreditasi yang bersifat otomatis untuk seluruh perangkat dan bersifat sukarela bagi Perguruan Tinggi dan prodi yang sudah siap naik peringkat.
  3. Kebijakan Kampus Merdeka yang ke tiga terkait kebebasan bagi PTN Badan Layanan Umum (BLU) dan Satuan Kerja (Satker) untuk menjadi PTN Badan Hukum (PTN BH). Kemendikbud akan mempermudah persyaratan PTN BLU dan Satker menjadi PTN BH tanpa terikat status akreditasi.
  4. Kebijakan Kampus Merdeka yang ke empat akan memberikan hak kepada mahasiswa untuk mengambil matakuliah di luar prodi dan melakukan perubahan definisi satuan kredit semester (sks).

Perguruan Tinggi wajib memberikan hak bagi mahasiswa untuk secara sukarela, jadi mahasiswa boleh mengambil atau pun tidak sks di luar kampusnya sebanyak 2 semester atau setara dengan 40 sks. Ditambah mahasiswa juga dapat mengambil sks di prodi lain di dalam kampus nya sebanyak 1 semester dari total semester yang harus ditempuh (dengan catatan, ini tidak berlaku untuk prodi kesehatan). Setiap sks diartikan sebagai ‘jam kegiatan’, bukan lagi ‘jam belajar’. kegiatan di sini berarti belajar di kelas, magang atau praktik kerja di industri atau organisasi, pengabdian masyarakat, wirausaha, riset, studi independen maupun kegiatan mengajar di daerah terpencil.

            Dimungkinkan terjadi pertukaran mahasiswa baik di dalam maupun di luar negeri. Bagi Kampus Merdeka Fakultas Vokasi diharapkan dapat menjalin hubungan dengan Dunia Usaha dan Dunia Industri (DU-DI). Kompetensi lulusan Pendidikan Tinggi yang akan datang  harus memiliki dedikasi yang kuat kepada bangsa dan negara, memiliki rasa kemanusiaan yang tinggi dan sifat toleransi untuk menjaga kerukunan. Perkembangan IPTEKS dan perkembangan informasi tidak menunggu mereka yang lambat. Oleh karena itu, konsep Merdeka Belajar ini benar-benar tidak sama dengan ‘Belajar Merdeka’.

            Indonesia sudah merdeka 76 tahun silam, sudah waktunya Indonesia tidak menyandang predikat negara berkembang, melainkan sudah harus menjadi negara maju. Sudah tidak waktunya lagi kita bersantai-santai, kerja keras para pemimpin terdahulu kini harus diisi dengan berbagai kemajuan terutama di bidang pendidikan, karena bangsa yang maju adalah bangsa yang peduli dengan pendidikan. Semua insan yang peduli bidang pendidikan harus ‘lari’ mengejar ketertinggalan, jangan menganut paham ‘Belajar Merdeka’ (contoh: selama pandemi covid-19 ini, kuliah diselenggarakan secara daring, mahasiswa dengan santai memakai kaos oblong, celana pendek, mungkin juga daster dan mereka yang tidak rajin suka ‘hilang-hilang’ selama kuliah berlangsung dan baru muncul kembali di layar ketika kuliah hampir selesai).      

            Akhirnya penulis sependapat bahwa Kampus Merdeka adalah cara terbaik berkuliah. Mahasiswa mendapatkan kemerdekaan untuk membentuk masa depannya sesuai dengan harapan yang di cita-citakan. Kampus Merdeka merupakan bagian dari kebijakan Merdeka Belajar oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Republik Indonesia yang memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mengasah kemampuan sesuai bakat dan minat dengan terjun langsung ke dunia kerja sebagai persiapan karir di masa depan.

 

Jakarta, 15 Juli 2021

Salam sehat dari penulis: E. Handayani Tyas – tyasyes@gmail.com