NGOPREK BUKU: NGOBROLIN IKLAN, YUK!

NGOPREK BUKU: NGOBROLIN IKLAN, YUK!

 

 

Judul: Ngobrolin Iklan, Yuk!

Penerbit: Galang Press

Penulis: Budiman Hakim

Cetakan ke-2, 2008

321 halaman, 15,5 x 23,3 cm

 

Buat saya yang dulu sempat bercita-cita kerja di periklanan, karena di sana banyak dibutuhkan kreativitas, yang mana saya merasa demikian, buku ini menggambarkan situasi di industri tersebut.

Di awal obrolan, buku ini masih terasa ringan. Yang dibahas seputar kreativitas dan profesionalisme dalam bekerja. Walaupun yang dijelaskan situasi di industri periklanan, agensi iklan tepatnya, tapi kondisinya relevan ke industri lainnya.

Seperti karyawan yang mulai membanding-bandingkan gajinya dengan yang lain. Yang sok-sok resign padahal ingin ditahan supaya gajinya naik. Padahal atasannya juga gak peduli. Resign ya resign aja. Ada juga karyawan yang membela karyawan yang mau resign tersebut, berusaha untuk mempertahankan temannya karena kerjanya bagus. Ada lagi yang bilang cek harga di sebelah ternyata lebih tinggi, tapi dia nyaman kerja di tempat sekarang, ujungnya sama minta naik gaji. Di industri lain, ada juga kan model yang begitu?

Obrolan berikutnya sampai ke cerita hambatan dalam berkreativitas. Kurang update, kurang passion, kurang berani tampil, kurang berani bertaruh, dan kurang-kurang yang lainnya. Semua membuat kreativitas jadi mentok.

Lalu obrolan mulai memanas. Terjadi kutub dalam dunia tersebut. Dunia ideal dan dunia nyata. Agensi lokal dan multinasional. Iklan festival dan iklan klien. Bahkan Om Bud menampilkan diskusi dalam mailing list periklanan, saya yang baca jadi berasa panasnya kondisi perkutuban tersebut. Bawaannya ingin segera baca ujungnya, apa ada satu kesimpulan yang harus dilakukan agar industrinya kembali sehat?

Diceritakan kondisi industri periklanan di awal 2000an itu sudah berbeda dengan 90an di mana agensi iklan berjaya, margin besar, untung banyak. Lalu masuk ke tahun 2000an perang harga dimulai. Akhirnya berdarah-darah. Sebagian tak sanggup bertahan. Sebagian pemutusan hubungan kerja, sebagian bertahan sambil megap-megap. Yang bikin heboh lagi adalah kalimat, "orang kreatif lebih rendah dari pelacur". Konteks di situ adalah rate card. Karena yang terjadi saat itu unsur kreatif dibanting harganya sampai nol rupiah. Pelacur aja masih punya harga. Begitulah.

Di akhir obrolan tentu ada opsi solusi. Freelancer salah satunya. Dan yang masih kuat bertahan sampai sekarang adalah non-traditional advertising. Kalau tradisional itu konteksnya beriklan di TV, radio, print ad, non-traditional itu di luar yang tadi. Apalagi era sekarang begitu tumbuh dengan: digital.

Obrolan ditutup dengan dua cerita dari Iim Fahima, juragannya Virus Communication yang diposting ke milis Creative Circle Indonesia.

"Di antara kepungan ratusan brand yang setiap hari mencoba mencuri perhatian konsumen, dua brand di atas dengan cerdik berkomunikasi dengan cara non tradisional yang low tech namun high impact. Hasilnya, mereka tak sekadar berhasil mencuri perhatian saya, tapi mencuri hati saya.

"Taksi datang tepat waktu dan supir yang ramah, adalah layanan yang standar. Begitu juga dengan mempersilakan konsumen menunggu dengan menyediakan tempat duduk yang pantas. Gamya dan Fish &Co berhasil membawa komunikasi beberapa tingkat lebih maju dibanding brand sejenis.

"Selamat datang di dunia non traditional marketing communication, dunia di mana setiap cara berkomunikasi dituntut menjadi lebih baru dan lebih baik dari apa yang sudah pernah ada."

Kata Budiman Hakim di akhir obrolan dalam buku yang terbit pertama kali 2007 itu, "... dapat disimpulkan bahwa kita bisa mencari sesuatu yang sederhana tapi efektif. Investasi tidak harus mahal, yang penting mengena di hati konsumen."