Ode untuk Mereka yang Percaya

Dilema yang dirasakan Sandy, siswa kelas 12 SMA, ketika jurusan kuliah yang ia impikan tak bisa tercapai dan caranya membicarakan hal itu kepada orang tua.

Ode untuk Mereka yang Percaya
Wisuda. Credit: Pamhule dari visualhunt.com

Hari itu, enam tahun yang lalu, kau duduk berhadap-hadapan dengan ayah dan ibumu di ruang keluarga. Ayahmu memakai baju koko putih dan sarung hitam motif kotak-kotak. Ibumu, yang baru saja selesai melipat mukena, mengenakan daster merah berbunga.

Di rumahmu, ruang keluarga adalah majelis sidang tertinggi. Tidak ada kegentingan yang tidak dapat dipecahkan di sini. Namun kau tau, situasi kali ini jauh lebih runyam. Suasana tetap hening hingga ayahmu akhirnya buka suara: “Ayah dengar, kamu tidak jadi memilih teknik geologi sebagai jurusan kuliah. Kenapa?”

Sidang telah dimulai, pikirmu. Sebagai terdakwa, kau perlu memikirkan jawaban matang-matang. Meski tak berakhir dengan kurungan penjara, salah menjawab dapat membuat hubunganmu dengan orang tua merenggang. Dan untukmu yang sejak usia 10 rutin ikut pengajian kecil selepas magrib di masjid dekat rumah, itu berarti bencana dunia akhirat.

“Jumat lalu, sekolah Aa—sapaan akrabmu di rumah—didatangi petugas Puskesmas. Seluruh siswa kelas 12 harus mengikuti pemeriksaan kesehatan. Oleh petugas, Aa didiagnosa mengalami buta warna parsial,” jelasmu dengan suara yang sedikit bergetar.

Kau tak bisa menyembunyikan kesedihan. Kelainan genetik yang kau derita praktis memupus harapanmu untuk melanjutkan studi di jurusan teknik geologi yang kau idam-idamkan sejak masuk SMA. Begitu pula dengan jurusan-jurusan lain di klaster sains dan teknologi.

Raut wajah ayah dan ibumu gelap. Jelas, mereka sama terpukulnya dengan dirimu.

“Tapi Aa tahu warna, kan? Ini warna apa?” tanya ayahmu yang tengah menunjuk rak buku.

“Cokelat,” jawabmu lirih.

“Itu Aa bisa, berarti Aa nggak buta warna, dong,” sahut ayahmu girang.

Mendengar ucapan itu, hatimu justru ngilu. Tak ada yang lebih sia-sia ketimbang usaha menolak kenyataan. Kau kehilangan tenaga untuk menjelaskan mekanisme retina menangkap cahaya kepada ayah dan ibumu, juga cara otak memproses informasi itu hingga manusia mampu membedakan suatu warna dengan warna yang lain, juga apa yang terjadi di retina penderita buta warna parsial karena telah berhari-hari, dengan keyakinan dan ketidakpercayaan yang sama, berselancar di dunia maya untuk hanya menemukan fakta pahit bahwa: buta warna tak bisa disembuhkan. Kau tahu, ayahmu yang pandai biologi pasti paham mengenai hal ini. Dan itu membuat dirimu getir. Kau, ayah, dan ibumu kehabisan kata-kata.

Lima menit selanjutnya dilalui tanpa suara. Bagimu, ini merupakan jenis keheningan yang menyiksa, maka akhirnya, kau yang sudah tak tahan berkata dengan suara pelan: “Aa berencana untuk kuliah di jurusan Arkeologi UGM, Pak, Bu. Selain geografi dan bebatuan, Aa senang dengan purbakala dan petualangan. Sepertinya ini jurusan yang sesuai, meski sebenarnya Aa juga tidak begitu yakin dengan peluang kerja yang tersedia di masa depan. Tapi, bukannya kuliah adalah proses belajar dan mencari ilmu tentang hal-hal yang kita senangi? Toh, Gusti sendiri yang akan menjamin rezeki seseorang”. Ayah dan ibumu mengangguk. Sidang ruang keluarga di hari itu tuntas. 

Pada Februari 2020, kau lulus dengan predikat cum laude dari jurusan Arkeologi UGM.