Pentingnya Belajar Berbincang-bincang

Pentingnya Belajar Berbincang-bincang
https://pixabay.com/id/photos/nenek-anak-anak-laptop-myanmar-1822564/

Siapa yang suka kumpul sama teman-teman? Atau gemar berbincang dengan orang lain yang bahkan tidak dikenal sebelumnya? Atau seorang anak yang gemar berbincang dengan bapaknya sembari ditemani secangkir kopi dan sepiring kacang rebus sampai larut malam? Atau ketika waktu masih sekolah sering nongkrong sama teman-teman untuk sekadar bergurau? Atau sewaktu kecil sering bermain sampai lupa waktu?

Kenapa sih, orang gemar berbincang-bincang sampai berjam-jam? Mendengarkan orang lain atau berceloteh sampai lupa waktu? Bagaimana caranya belajar berbincang-bincang? Oke. Mari kita bahas.

Berbincang adalah salah satu cara berkomunikasi manusia satu dengan yang lainnya. Ada yang suka berbincang secara langsung atau melalui alat komunikasi. Banyak hal yang akan didapat dari berbincang, salah satunya menerima informasi. Selain menerima informasi, dari sebuah perbincangan akan mempererat hubungan antar manusia satu dengan yang lainnya.

Di awal tadi, saya menanyakan perihal orang-orang yang gemar berbincang dengan orang lain yang bahkan belum dikenal. Nah, ada segelintir orang yang kebetulan seperti beberapa teman dekat dan kenalan saya, bahkan saya sendiri gemar berbincang dengan orang yang bahkan tidak dikenal sebelumnya. Ada beberapa alasan mengapa saya dan mereka gemar melakukannya.

Alasan pertama, menumbuhkan pandangan baru. Semakin banyak menciptakan perbincangan dengan orang lain, apalagi yang tidak dikenal sebelumnya, itu akan menumbuhkan pandangan baru bagi satu sama lain. Biasanya, dalam sebuah perbincangan orang-orang seperti ini mampu membawa topik mengalir begitu saja tanpa harus memikirkan topik apa yang harus dibicarakan selanjutnya.

Selain itu, perbincangan yang dimulai dari siapapun itu, merupakan awal mulanya sebuah problematika mulai terselesaikan. Semisal, ada seorang penulis yang sedang ingin membuat sebuah tulisan. Namun, pada waktu yang sama pikiran sedang buntu-buntunya.

Akhirnya, penulis itu memutuskan untuk bertemu teman-temannya terlebih dahulu untuk berbincang perihal apa yang sedang ia hadapi. Setelah pertemuan itu, tanpa terduga sebuah ide muncul di dalam kepalanya. Ide itu tidak datang dengan sendiri. Ide itu dipancing dengan melakukan perbincangan yang ia lakukan sebelumnya.

Entah kecil atau besar, sebuah perbincangan cukup berperan penting dalam menyelesaikan sebuah permasalahan.

Alasan kedua, terciptanya hubungan silaturahmi. Banyak dari kita yang menganggap orang lain sudah seperti saudara sendiri. Entah tetangga samping rumah, teman kerja, teman curhat, teman berbincang dan banyak jenis lainnya. Nah, mereka membangun hubungan itu dari perbincangan kecil.

Semisal, tetangga samping rumah yang sering memberi makanan ketika mereka sedang ada hajatan ataupun sekadar mereka memasak lebih banyak dari biasanya. Dari situ, meski pada awalnya hanya ada proses memberi dan menerima makanan, tapi lama-kelamaan akan terbentuk perbincangan yang mulai nyaman dan hangat. Sekadar membahas topik yang sedang tren atau hanya sebatas membicarakan kegiatan harian mereka.

Contoh lainnya, ketika seseorang sedang menunggu kereta di stasiun atau teman duduk di bus atau seseorang yang tak sengaja bertemu ketika membeli segelas kopi di minimarket. Mereka membangun perbincangan dengan berbagai alasan.

Ada yang sekadar mengisi kebosanan ketika di perjalanan. Ada yang gemar mengamati dan memahami orang lain. Ada juga yang rasa ingin tahunya tinggi. Ada yang memang ingin berbagi ilmu, pengalaman dan sebagainya.

Hal itu yang akan mendasari silaturahmi mereka untuk ke depannya. Hal paling menyenangkan dari itu semua adalah ketika perbincangan yang mereka bangun tidak berakhir di situ saja. Namun, berlanjut pada perbincangan yang lain.

Seperti meminta kontak untuk berbincang via daring, tapi tidak sedikit yang meminta alamat rumah untuk pada suatu waktu sengaja singgah, bertatap muka dan menciptakan perbincangan lain yang lebih banyak secara langsung.

Semisal saya sedang ada acara di sebuah daerah, di mana ada seorang kenalan di daerah tersebut. Biasanya saya akan menyempatkan bertemu meski hanya sekadar untuk berbincang dengan menghabiskan segelas kopi ataupun sampai akhirnya menginap barang untuk semalam.

Alasan ketiga, menciptakan perdamaian. Seperti yang sudah saya singgung sebelumnya, tentang awal mulanya problematika mulai terselesaikan dari sebuah perbincangan. Ketika sebuah masalah muncul, berbincang adalah cara paling ampuh untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Diikuti pikiran dan pandangan yang terbuka tentunya. Agar tercipta perbincangan yang nyaman dan kondusif.

Hal yang sama juga terjadi ketika membuat masalah. Semisal, ketika seorang remaja laki-laki yang sedang asik bermain bola di lapangan dekat pemukiman. Ketika itu, bola yang ditendang oleh salah satu dari mereka mengenai genting salah satu rumah warga.

Untuk menyelesaikan permasalahan itu, salah satu atau dua remaja itu melakukan perbincangan kecil dengan pemilik rumah. Dimulai dari mengajukan permintaan maaf dan dilanjutkan pembicaraan mengenai ganti rugi. Tentunya, perbincangan itu dilakukan dengan kepala dingin.

Sebab, perbincangan yang menciptakan perdamaian tidak akan terjadi tanpa pelakunya bekerja sama untuk menyelesaikan sebuah permasalahan.

Nah, setelah beberapa alasan sudah saya tuliskan, tidak lengkap rasanya kalau tips belajar berbincang-bincang tidak saya sampaikan. Kalau dari saya sendiri, hasil dari berbagai pengamatan dan pengalaman. Tips berbincang itu hanya ada satu, yaitu gemar mendengarkan atau menjadi pendengar orang lain.

Kenapa begitu?

Jadi, untuk bisa berbincang-bincang dengan lancar, kita harus memulainya dari gemar mendengarkan atau menjadi pendengar orang lain. Nah, dari situ kita akan membiasakan diri dengan suasana, irama, hingga topik perbincangan. Kita akan tahu hal-hal yang sebelumnya kita tidak tahu. Memang cukup membosankan, kalau dari awal tidak menyukai hal-hal yang berbau "pengamatan".

Selain mendengarkan secara langsung, hal paling sederhana yang bisa dilakukan adalah mengamati orang-orang yang ada di sekeliling kita. Di sini belum perlu adanya perbincangan. Kita hanya perlu mengamati orang-orang. Apa yang diamati? Gaya bicara dan cara berpikir mereka. Kita bisa belajar mengamati orang lain di tempat-tempat umum seperti pasar, terminal, stasiun. Hanya saja, jangan sampai terlihat mencurigakan. Wkwkwk. Amati dengan mendengarkan dan sesekali melihat itu cukup.

Nah, dari hal yang didapat dari mengamati bisa menjadi bahan untuk diperbincangkan. Namun, harus dengan orang yang dianggap mampu memberi pendapat dari setiap analisis yang kita beri. Agar terjadi percikan perbincangan dua arah yang seimbang.

Belajar berbincang-bincang itu memerlukan waktu cukup lama untuk dipelajari, apalagi untuk beberapa tipe orang. Namun, itu tidak dijadikan sebagai alasan untuk tidak belajar berbincang-bincang.

Itulah sedikit pemikiran dan tips yang bisa saya sampaikan. Saya selalu yakin, semua orang selalu punya cara masing-masing untuk berkomunikasi. Tidak melulu dengan perbincangan sampai berjam-jam dan menciptakan perbincangan dengan orang baru. 

Meskipun begitu, perbincangan merupakan cara ampuh untuk menyelesaikan sebuah problematika yang sedang manusia hadapi. Meskipun tidak semua orang mampu menciptakan perbincangan yang lancar.

Adakalanya, sebab cara dan kemampuan yang dimiliki manusia berbeda-beda dalam berkomunikasi, tidak semua perbincangan bisa menyelesaikan problematika seperti yang saya sampaikan sebelumnya. Namun, pada intinya perbincangan itu sangat penting untuk kita pelajari -sebagai manusia- agar apa yang kita dan orang lain harapkan bisa sesuai dengan semestinya.

Itulah mengapa, seni berkomunikasi sangat penting untuk dipelajari, dipahami dan dipraktekkan dalam lini kehidupan kita sehari-hari.