Pulih dan Terbaring

pulih-dan-terbaring

Pulih dan Terbaring
Stasiun Tugu Jogja, 2019.

"Hari ini akan jadi hari baik. Lo bisa, Nya!!" Ujar Anya sambil tersenyum menyemangati pantulan diri nya sendiri di depan kaca. Dengan atasan lime polos dan trousers khaki nya, wanita itu menyambar tas pundak biru tua kesayangannya di kursi dan beranjak keluar dari kamar. 

"Pagi mbak, Kanya", Sampai di lantai 12 gedung perkantoran tempat editor kesayangannya bekerja, ia disambut dengan resepsionis dengan nametag bertulis "Morin" yang sudah mengenalnya. Sambil membalas sapaan itu, pandangannya menyapu sekeliling dan berhenti di seorang wanita mungil dengan potongan rambut bob yang melambaikan tangannya sambil memegang gelas karton kopi. Di dalam ruangan temannya itu, Anya memberikan beberapa lembar draft tulisan nya yang baru rampung kepada Monic, editor sekaligus teman baiknya.

-

“Takjub sekali dengan mereka yang mampu menidurkan ego nya untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan. Tidak bermaksud memuji tapi... Rasanya begitu pula dengan kami, yang mencoba lebih keras kepala dari sebelumnya untuk berbesar hati dan memilih mundur jauh sebelum memulai nya. Takjub atau ironi ya, lebih tepatnya?

Puluhan tahun bangsa ini hidup berdampingan dengan berbagai perbedaan dan kata banyak orang, perbedaan itulah yang biasanya menyatukan. Tapi nyatanya? Tiga tahun sudah aku mencoba mencari celah. Mencari jejak langkah, arah, remah roti, apapun itu yang memungkinkan dua raga ini bisa akhirnya bersatu. Sepuluh tahun berlalu, kami sudah berusaha sekuat tenaga melupakan rasa familiar yang menggelitik perut untuk mereka yang pertama kali menjadi alasan setiap kita tersenyum geli sendiri melihat pesan masuk di ponsel.

Masih nggak habis pikir, bagaimana bisa kami ini berjalan sendiri selama bertahun-tahun, mencoba membuka pintu-pintu baru dengan semangat empat lima tanpa masa lalu, tapi kemudian luruh semua dinding pertahanan nya dengan pertemuan yang bahkan tidak lebih dari lima jam?”

-

Monic menarik napas panjang dan melepaskan kacamata nya. Jemari mungilnya merapikan lembaran itu, “Bagus. Nanti gue terusin ke Adit juga. Kita lihat responnya gimana.” Ujarnya sambil mengangguk. Anya masih terdiam, ucapan Monic barusan terasa bagai angin yang numpang lewat di telinganya sama sekali tak membuat hati berdesir.

“Tapi lo yakin, Nya?” tanya Monic ekstra hati-hati pada Anya. Sahabat nya itu mengangguk pasti walau sekilas jelas terlihat ada kesenduan yang minta diperhatikan di bola mata cokelat nya.

“Yakin. Udah dua tahun gue ga bisa kasih cerita baru, Mon, sampe yang ada di tangan lo sekarang ini. At least, harusnya setelah ini langkah gue bakal lebih ringan.” Ia mencoba meyakinkan Monic, bukan, bukan Monic. Ia mencoba meyakinkan perasaannya sendiri.

Grekk. Pintu ruangan Monic terbuka, seorang laki-laki dengan kemeja putih bergaris-garis tipis dengan rambut ikal yang jatuh sedikit melebihi kerahnya melongok ke dalam. Mulutnya terbuka, tapi tidak ada kata-kata yang keluar dari sana. Tatapan mereka bertabrakan tanpa aba-aba, satu.. lima.. tujuh.. Entah berapa detik sudah berlalu dan yang terdengar hanya sunyi, sampai lelaki itu menemukan kembali titik tumpunya. Mata nya mencari pertolongan, ah iya, Monic.

“Mon, kalo udah ke ruangan saya ya.”

“Oke, bos!”

Pintu kembali tertutup. Ingin rasanya Anya melebur dengan udara dan menghilang seketika karena untuk beberapa detik tadi ia tidak punya kendali atas tubuhnya sendiri. Seakan lupa kalau dunia masih berputar. Kikuk, ia menenggak habis segelas kopi yang ada di hadapannya. Saat itu juga ia tahu, rasanya nggak akan semudah itu langkahnya menjadi lebih ringan. Bahkan setelah menumpahkan segala emosi nya ke setumpuk kertas putih polos yang sekarang penuh dengan tinta hitam. Karena semesta mempertemukan mereka kembali, Anya dan cinta pertama nya.