REM – GAS  PTM DAN PJJ

Pemerintah membuat kebijakan untuk melaksanakan social distancing hingga Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk mencegah berkumpulnya masyarakat dan dihimbau dengan sangat untuk melakukan aktivitas di rumah masing-masing (stay at home). Dalam dunia pendidikan, proses pembelajaran tetap dilangsungkan melalui pembelajaran on line

REM – GAS  PTM DAN PJJ
Mengerjakan Tugas secara on line

            Dengan adanya pandemi covid-19 yang berkepanjangan ini membuat banyak orang mengalami pergumulan berat, menjadi letih-sedih-pesimis. Kita semua tidak tahu kapan pandemi ini akan berakhir namun, pandemi ini sebenarnya tidak sekedar musibah atau ujian bagi umat manusia di seluruh muka bumi, tetapi juga membawa banyak pelajaran berharga. Pandemi covid-19 telah mengubah hampir semua tatanan kehidupan manusia, bahkan juga banyak mengubah sistem tatanan negara diseluruh dunia termasuk sistem pendidikan di Indonesia.

            Dalam Pembelajaran Tatap Muka (PTM), pengelolaan kelas merupakan salah satu komponen penting yang perlu diperhatikan oleh setiap pendidik.  Pengelolaan kelas merupakan suatu usaha yang dilakukan oleh pendidik dalam kegiatan pembelajaran dengan maksud agar tercapai kondisi optimal, sehingga dapat terlaksana kegiatan belajar seperti yang diharapkan. Sedangkan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), kenyataannya dirasakan menyulitkan peserta didik, guru dan orangtua. Perlu persiapan mental dan karakter semua warga sekolah (pendidik, tenaga kependidikan, peserta didik dan orangtua).

            Proses pembelajaran pada kondisi saat ini, peran orangtua penting terutama yang anaknya masih duduk di Sekolah Dasar (SD). Banyak waktu dihabiskan keluarga di rumah dan inilah momentum terbaik karena ada banyak kesempatan untuk menanamkam ilmu yang diperoleh dari sekolah dan kemudian diterapkan dalam kehidupan sehari-hari bersama keluarga. Orangtua bekerja dari rumah ‘work from home’ dan anak-anak mereka juga belajar dari rumah ‘learning from home’. Rencana PTM yang akan dimulai pada tahun ajaran baru, Juli 2021 sudah pasti tertunda karena pandemi terus berlanjut dan bahkan makin mengganas dengan munculnya varian-varian baru (delta-India, varian Inggris B.1.1.7, varian Afrika Selatan B.1.351, dll.).

            Pemerintah membuat kebijakan untuk melaksanakan social distancing hingga Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk mencegah berkumpulnya masyarakat dan dihimbau dengan sangat untuk melakukan aktivitas di rumah masing-masing (stay at home). Bagaimanapun juga institusi pendidikan merupakan tempat berkumpul para peserta didik untuk menimba ilmu pasti berdampak terhadap kebijakan ini. Kemendikbud-Ristek memutuskan pembelajaran secara daring (e-learning). Pemberlakuan belajar dari rumah sebagai upaya memutus rantai penularan covid-19, mengakibatkan semua lembaga pendidikan pada setiap jenjangnya untuk wajib menaati dengan melaksanakan pembelajaran on-line atau tatap muka secara virtual.

            PTM berisiko - PJJ berisiko, semua sama-sama mempunyai risiko yang tinggi oleh karena itu, kita mesti menggunakan strategi ‘rem dan gas’ untuk mengantisipasi. Jiwa manusia harus diselamatkan, PTM juga tidak boleh dipaksakan kepada warga sekolah walaupun, akibatnya tentu dengan pendemi ini pasti akan memperlebar kesenjangan pendidikan. Sedangkan model PJJ, bagi mereka yang berkecukupan fasilitas akan berdampak makin berkembang dengan dukungan kecanggihan teknologi namun, sebaliknya bagi mereka yang berkekurangan bisa jadi kian tertinggal dan sangat mungkin terjadi learning lost.

            Berpindahnya model pembelajaran luring ke daring sebenarnya tidak akan berpengaruh signifikan, jika pendidik menerapkan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik atau yang dikenal dengan Student Centred Learning (SCL). Dengan menempatkan peserta didik pada pusat pembelajaran berarti peserta didik adalah subyek, bukan obyek didik. Guru sebagai pendidik bukan lah orang yang serba tahu dan peserta didik bukanlah mereka yang serba tidak tahu. Itulah sebabnya dikatakan pembelajaran, ada proses di dalamnya. Bahkan Najelaa Shihab dalam kapasitasnya sebagai pendidik telah mendirikan dan menginisiasi organisasi pendidikan sebagai bentuk kontribusi dalam reformasi pendidikan Indonesia, yang dikenal dengan ‘semua murid – semua guru’.

            PJJ adalah suatu bentuk pembelajaran mandiri yang terorganisasi secara sistematis yang dilakukan oleh sekelompok pendidik yang memiliki tanggung jawab yang berbeda. Selama pandemi yang sudah berlangsung hampir dua tahun lamanya ini, model PJJ sepertinya membawa dampak negatif yang berkepanjangan, antara lain: (1) Ancaman Putus Sekolah; (2) Penurunan Capaian Hasil Belajar; (3) Terjadinya kekerasan terhadap anak, karena orangtua tidak paham strategi dan seni mendidik anak (sering marah dan tidak sabar). Orangtua tidak dapat melihat peran sekolah dalam proses belajar mengajar PJJ, sementara PTM diakui menghasilkan pencapaian akademik yang lebih baik dibandingkan dengan PJJ, dan ketika anak tidak datang ke sekolah bisa terjadi peningkatan risiko terjadinya pernikahan dini khususnya bagi remaja puteri.  

            PTM banyak kendala – PJJ juga banyak kendala, lalu mau pilih yang mana? Kita mengenal istilah blanded learning (campuran) untuk mendorong dan mengoptimalkan hasil belajar, agar segala kekhawatiran yang begitu besar menyelimuti pikiran orangtua dan guru bisa diminimalkan. Pengawasan melekat (WASKAT) dan monitoring dari semua pihak diharapkan dapat senantiasa berkordinasi, berkolaborasi dan berkomunikasi dengan baik agar tujuan pendidikan tetap dapat tercapai, bukankah misi kita (terutama pendidik) hidup di NKRI adalah ikut mencerdaskan kehidupan bangsa, sebagaimana tertuang dalam alinea ke empat Pembukaan UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

            Pada dasarnya proses belajar baik PTM maupun PJJ adalah sama. Pada ke dua sistem tersebut proses belajar juga terjadi antara pendidik dan peserta didik. Perbedaannya terletak pada cara penyampaian materi pembelajarannya. PTM berhadapan secara langsung dan berinteraksi antara pendidik dan peserta didik, PJJ  menggunakan teknologi internet secara virtual. Dalam situasi seperti sekarang ini kita harus pandai-pandai berstrategi dengan menggunakan ‘rem dan gas’ dalam mengampu pembelajaran di semua jenjang pendidikan agar tetap bermutu dan menarik, memupuk semangat belajar peserta didik dengan mengemas dan menyajikan pembelajaran dalam suasana joyfull learning.

 

Jakarta, 28 Juni 2021

Salam sehat dari penulis: E. Handayani Tyas – tyasyes@gamail.com