LDR Bersama Ayah - Ibu

Karena melanjutkan studi dan tuntutan pekerjaan, orang tua saya menjalani long distance relationship (LDR). Maka perjalanan Semarang-Jakarta, Jakarta-Semarang menjadi kegiatan yang agak rutin

LDR Bersama Ayah - Ibu
Koleksi pribadi

 

 

Sebelum istilah LDR (long-distance relationship) populer, orang tua saya sudah menjalaninya selama cukup lama. Betapa tidak. Di pertengahan tahun 50 -an, ayah saya mendapatkan bea siswa ke Amerika Serikat. Ibu saya tinggal di Bandung bersama kakak saya yang baru lahir. LDR pertama berlansung sekitar 3 tahun. Kemudian di pertengahan 70an, mereka LDR lagi. Lagi- lagi karena ayah saya kembali melanjutkan sekolah ( jangan-jangan hobinya memang sekolah ), dan Ibu bersama kami tinggal di Semarang. Rupanya kota pelabuhan di Pantai Utara Jawa Tengah itu menjadi puncak dari hubungan jarak jauh ini – yang berlangsung hampir 5 tahun --  karena sekembalinya dari negara Paman Sam, ayah saya mendapatkan perkerjaan di Jakarta. Untungnya – masih untung ya – beliau memiliki kewajiban mengajar di sebuah universitas negeri di Semarang, sehingga kami masih bisa menghabiskan waktu bersama, layaknya keluarga normal lainnya yang orang tuanya tinggal dalam kota yang sama.

Seiring dengan kemajuan transportasi pada pertengahan 1970-an itu, jarak Jakarta-Semarang termasuk manageable. Meski pun belum ada jalan tol, tetapi lalu lintas tidak sepadat tahun 2000 an,  sehingga ayah-ibu saya sering saling menengok. Kalau bulan ini 2 kali ayah saya pulang ke Semarang, maka bulan depannya ibu yang akan ke Jakarta.  Sangat tergantung dengan keadaan anggaran rumah tangga saat itu. Dalam masa liburan sekolah, bila cukup rejeki, maka kami akan mengunjungi ayah di Jakarta. Naik kereta senja utama, kalau rejeki cukup, atau kereta ekonomi kalau sedang pas-pasan; namun tidak jarang kami mengendarai mobil sendiri. Bagi saya perjalanan paling menyenangkan adalah bila naik mobil sendiri. Keleluasaan waktu adalah salah satu faktor yang membuat saya bahagia bila melakukan perjalanan ini. Kami bisa berhenti beberapa kali di perjalanan, bisa melihat pantai utara Jawa dengan perahu-perahu nelayan yang berwarna-warni, membeli telor asin di Brebes, makan siang di Cirebon dan seterusnya.

Kenikmatan lain yang saya rasakan, adalah bekal berlimpah yang disiapkan ibu. Selalu ada arem-arem buatan sendiri. Terbuat dari beras yang diiisi dengan potongan kentang, wortel dan daging cincang, dicampur santan kemudian dikukus,  arem-arem merupakan cemilan yang mengenyangkan. Di samping itu masih ada beragam snack, potongan buah, dan tidak ketinggalan 2 buah termos. Yang satu diisi  teh  nasgitel,  teh yang panas-legi kentel -- ramuan Ibu --  satu lagi dibiarkan kosong.

 “Kenapa selalu bawa termos kosong Bu,?” tanya saya. “Supaya nanti diisi dengan  wedang jeruk peras di rumah makan,” kata ibu. “Kok gak bikin sendiri saja, lebih bersih kan,” saya lanjutkan bertanya. “Jeruk peras nya di sini gak seenak yang dijual di restoran itu,” jawab Ibu dengan suara yang sangat meyakinkan. Ya sudahlah, saya percaya dan manut saja. Dan benar saja, antara Jakarta-Semarang, kami pasti mengisi termos kosong itu dengan wedang jeruk di sebuah restoran di Brebes. Memang wedang jeruk itu terasa istimewa. Campuran antara rasa asam dan manisnya  pas sekali, aroma jeruk yang wangi dan warna cairan kuning-jingga benar-benar membuat ketagihan.

Jarak Semarang-Jakarta yang ratusan kilometer itu sungguh tidak terasa, karena perut selalu kenyang dengan bekal yang disiapkan ibu, serta tambahan asupan di berbagai perhentian.  Dengan hati riang dan energi positif kami mencapai Jakarta. Kegembiraan pertama tentulah karena kami bisa berkumpul dengan seluruh keluaraga: Bapak-Ibu, kakak, adik. Kegembiraan kedua adalah plesir ke Jakarta, ibu kota negara yang gemerlapan. Meski pun rumah yang ditempati Bapak ada di ujung  Jakarta Selatan, kami masih bisa menikmati keriuhan di Blok M, menikmati air mancur menari di Monas, menikmati makanan dan restoran yang saat itu hanya ada di Jakarta, seperti Bakim GM, American Hamburger. Pokoknya mengasyikkan dan merasakan sensasi  yang berbeda dengan suasana Semarang.

Saya juga terkesan dengan cara ayah saya mengelola rumah tangganya.  Maklum kalau di rumah Semarang, Bapak  tidak pernah ikut campur mengurus rumah tangga. Beliau tahu beres saja, rumah rapi, masakan selalu tersedia, halaman asri. Semua dikerjakan Ibu mulai kerapihan rumah, halaman, sampai perbaikan berbagai kerusakan: atap bocor, keran air rusak, WC mampet, semuanya diurus Ibu. Bapak boss baca buku, baca koran, diskusi dan ngobrol dengan keluarga atau pun tamu-tamu yang tidak berhenti datang.

Awalnya saya mengira bahwa rumah Ayah  di daerah Jakarta Selatan itu akan selalu dalam keadaan berantakan. “Ah Bapak kan gak pernah beres-beres. Pasti koran, buku, kertas-kertas, amplop-amplop berserakan di mana-mana," pikir saya dalam hati. “Rumah Bapak di Jakarta rapih kok. Gak ada debu di meja-kursi, dibersihkan tiap hari,” kata Ibu, saat saya bertanya tentang kondisi rumah  di Jakarta. “Ada Warno yang tugasnya bersih-bersih,” tambah Ibu. “Tapi kan Bapak gak pernah tahu urusan rumah tangga Bu. Meski pun ada yang bantu, kalau nggak diawasin ya hasilnya gak maksimal," sanggah saya. “Nanti kamu lihat saja," jawab Ibu sambil tersenyum.

Ternyata dugaan saya salah. Rumah  yang ditinggali Bapak memang rapih, lantainya kinclong, kaca-kaca jendela juga bening. Saya mengusap meja, kursi dan rak buku, memang betul apa yang disampaikan Ibu, tidak ada debu. Saya makin kagum melihat ada tanaman juga di dalam ruangan, pohon palem kecil yang ditaruh dalam pot rotan ukuran lumayan besar. “Waaaah Bapak bisa juga ya ngurus rumah,” kata saya sambil memeluk Ayah  dengan riang gembira. “Kamu ini kok meragukan ketrampilan Bapakmu,”  jawab ayah saya sambil mengacak-acak rambut saya. “Yang kerja keras pasti mas Warno. Bapak kayaknya duduk-duduk aja deh,” kata saya sambil terus menggoda. “Yang mengerjakan Warno tapi yang bikin SOP (Standard Operation Procedure) tentang bagaimana membersihkan rumah kan Bapak,” jawab ayah saya, kumisnya yang hitam tebal bergerak menahan senyum, melihat saya terkejut dengan jawaban ini.

Kami pun tertawa terbahak-bahak, membayangkan SOP yang diketik dan ditempel di dinding kamar mas Warno. “Warno itu anak baik, rajin, tapi suka ngelamun, akibatnya kalau Bapak minta tolong apa pun, lebih sering salah daripada benernya.” Kata Ayah. “Kemarin Bapak minta dibikinkan kopi kental dan pahit, lha kok yang datang adalah kopi encer dan manisnya minta ampun,” lanjut ayah saya dengan nada sewot. Saya tergelak mendengat curhatan  Bapak. “Wah lha kok sekarang udah kayak Ibu, ngomelin pekerjaan Asisten Rumah Tangga. Baru tahu kan boss, gimana repotnya ngurus rumah, makanya Bapak harus sayang sama Ibu, “ kata saya sambil tertawa.

Ketika akhirnya saya bertemu Warno, saya langsung senyum-senyum sendiri teringat air muka Bapak yang jengkel ketika menceritakan pekerjaan Warno. Warno berperawakan tinggi, sekitar 167 cm,  rambut keriting dan berumur sekitar 20an. Raut mukanya terlihat serius, jarang tersenyum, dan rajin. Sebelum jam 06.00 pagi, ia sudah mulai bekerja: mematikan lampu, menyapu halaman, menyirami tanaman, dilanjutkan dengan nyapu ngepel, melap meja kursi pendek kata membersihkan ruangan. Jam 7.00 Warno bergeser ke dapur dan menyiapkan sarapan Bapak. Rupanya Ibu sudah sempat memberikan latihan: membuat teh,  menyeduh kopi, membuat nasi goreng,  roti bakar.

Tidak selalu hasil dari dapur Warno sesuai dengan bayangan kami: kadang tehnya terlalu encer, jadi tidak ada rasa teh, hanya air merah manis saja; atau nasi gorengnya sangat berminyak dengan kecap yang berlebihan. Kalau Ibu ada di dapur,maka hasilnya okay, tapi kalau ditinggal, berantakan lagi. Dan seperti yang disampaikan Bapak,  Warno sering sekali lupa dengan  tips dan cara mengolah bahan makanan  meski  pun sudah berulang kali disampaikan.

 “Untuk buat nasi goreng, minyaknya ½ sendok makan saja. Kecapnya juga ½ sendok makan juga, “ kata Ibu. “Maaf Bu, ½ sendok atau  1½, sendok,?” taya Warno. “½ sendok. Ingat ya.” Ibu menegaskan. Warno kemudian sibuk di dapur dan menghidangkan nasi yang berminyak berwarna coklat. Ibu menarik nafas panjang dan bertanya: “ini tadi berapa banyak kecap dan minyaknya?”  “1½ sendok bu. Tadi Ibu bilang 1½  sendok makan kan?” jawab Warno dengan wajah polos. “Se- te- ngah sendok makan Warnoooo,” jawab Ibu dengan nada suara mulai tinggi dan menekankan kata se-te-ngah. Wajah Warno langsung mengkeret, badannya membungkuk. Ibu langsung lumer melihat reaksi Warno, dengan nada suara kembali lembut Ibu menegur “lain kali diingat ya. Dicatat ya di buku resep masakan, “ kata Ibu, menutup percakapan.

Pendidikan Bapak untuk Warno rupanya berhasil untuk bersih-bersih, tetapi tidak terlalu sukses untuk urusan dapur. Termasuk di antaranya dalam membantu Ibu menyiapkan berbagai keperluan perjalanan Jakarta-Semarang. Kedua termos minuman andalan Ibu, selalu diisi teh manis oleh Warno. Meski pun sudah puluhan kali diberi tahu bahwa  “satu termos diisi teh manis, satu lagi dikosongkan saja,”  kami selalu membawa  2 termos isi teh manis, dan buyarlah rencana Ibu beli wedang Jeruk di resto kesayangannya.

Setelah sekian kali keliru, Bapak akhirnya turun tangan. Pagi hari sebelum perjalanan kembali ke Semarang, bapak memanggil Warno. “Warno, setelah selesai beres-beres, siapkan termos ya. Satu diisi teh manis, satu lagi kosong.” “Baik Pak,” kata Warno. Setelah selesai mengepel, Warno mendekati ayah saya. “Saya mau isi termosnya Pak. Yang satu diisi teh manis, satu lagi teh pahit ya,?” “Bukan. Satu termos diisi teh manis, satu lagi kosongkan saja,” jawab ayah saya.

Warno kemudian ke dapur menyiapkan teh manis. Sebelum memasukkan teh ke dalam termos, ia kembali lagi mendekati ayah saya. “Pak ini saya mau ngisi termosnya. Satu diisi teh manis, satu lagi air panas ya?” Saya lihat air muka Bapak sudah berubah, menahan kejengkelan, dan dengan nada kesal Bapak mejawab: “Satu diisi teh manis, satu lagi diisi udara. Mengerti?” suara bapak mulai agak menghadik. Warno kelihatan bingung, ia memandang ke kanan, ke kiri, seolah minta pertolongan, tetapi yang ada hanya saya yang sedang sakit perut menahan ketawa.

Dengan suara takut-takut Warno bertanya lagi: “Diisi udara? Maksudnya gimana Pak?” “Udara bisa dipegang tidak?” tanya ayah saya. “Tidak Pak” jawab Warno lirih. “Nah, karena udara tidak bisa dipegang, artinya termos yang satu dikosongkan. Paham kan?” Ayah saya melanjutkan. “Iya Pak, saya mengerti,” jawab Warno.  Warno kembali ke dapur, menyiapkan termos, dan menyerahkannya kepada saya. Saya buka tutup termos, dan ternyata kali ini benar. Satu isi teh manis, satu lagi kosong. Langsung saya acungkan jempol dan berterima kasih ke Warno. Jadilah perjalanan pulang ke Semaranag kali itu  kami mampir beli wedang jeruk. Sejak diminta menyiapkan “termos isi udara” Warno tidak pernah keliru lagi dalam menjalankan tugas-tugas di rumah ayah saya.