Rumah yang Ditinggalkan Penjaganya

Rumah yang Ditinggalkan Penjaganya
http://clipart-library.com/cartoon-dog-house-pictures.html

"Mas, kalo Mas mo pergi, Mama ikhlas. Mama sayang Mas."

Malam sudah larut. Aku terkejut mendapati nyonya duduk di lantai teras belakang, terisak-isak menangisi sesosok tubuh yang terbaring di lantai. Tubuh itu kejang-kejang tanpa suara.

Air mata nyonya tumpah-ruah berderai-derai. Dia berbicara tersendat-sendat diiringi tangisan. Malam seakan membisu, larut dalam kesedihan dan duka sang nyonya.

Si nona datang mendekat, tetapi sebenarnya ia tak ingin berada di situ. Tak siap ia bertemu duka. Tuan datang tak lama kemudian, tanpa berkata apa-apa. Nyonya menggendong tubuh anak kesayangannya itu. Berempat mereka pergi dengan mobil.

Aku tak memicingkan mata malam itu. Melihat mereka pulang. Melihat si sakit yang lemas dalam bopongan nyonya. Melihat nyonya tidur di kursi panjang supaya dekat dengan si sakit yang tak banyak bergerak. Melihat jarum jam dinding bergerak tanpa henti sambil berdetak.

Aku tak bisa lagi menggambarkan perjalanan waktu selanjutnya dengan kata-kata. Sedih itu menulariku. Rasanya sakit!

Kini, aku kesepian. Si sakit itu adalah penjagaku. Ia hanya bertahan sehari setelah malam itu. Di malam berikutnya, nyonya menangis dalam diam, memeluk tubuh yang kaku. Tangis itu menulariku. Rasanya sesak dan sakit!

Hampir setengah tahun berlalu. Nyonya masih sering memanggil nama penjagaku itu. Setiba dia di rumah dari bepergian, terutama jika sendirian. Nyonya juga masih selalu menyapaku.

"Halo rumah. Sepi, ya, ga ada Mas Mochi? Ga ada yang jagain kamu?"

"Halo rumah. Aduh, ademnya sampai di rumah. Thank you. Sendirian, ya? Maaf lama perginya."

"Mas Mochi. Mama kangen Mas Mochi." Kadang nyonya ngajak ngomong Mas Mochi yang sudah tak ada. Mas Mochi mungkin sudah terurai kembali di dalam tanah di bawah pohon alpukat di lapangan depan sana.

Aku hanya diam. Aku tak bisa bicara. Iya, aku kesepian. Tak ada lagi Mas Mochi, si penjagaku.

Tak ada lagi gonggongan pagi-pagi, ketika Mas Mochi merasa terganggu dengan orang yang lewat. Tak ada gonggongan siang, ketika Mas Mochi ngusir kucing dan ayam tetangga yang trespassing masuk ke halaman. Tak ada Mas Mochi yang zooming, muter di halaman, riang digoda nyonya. Tak ada lagi jeritan nona ketika bercanda dan berkejaran dengan Mas Mochi. Tak ada ritual pagi Mas Mochi bangunin nyonya, ajak jalan, dan malah kena semprot tuan.

Kini aku kesepian, juga kesal. Kapan hari, kucing sialan itu tidur-tidur di kursi teras depan. Kucing yang lain melenggang masuk ke halaman, dan bahkan masuk ke rumah. Juga ada ayam, yang masuk ke halaman dengan leluasa, dan ngerusak tanaman nyonya. Aku tak bisa bergerak atau menggonggong mengusir mereka. Aku bukan Mas Mochi.

Seperti nyonya, aku juga kangen Mas Mochi. (rase)