Sang Angin

Sang Angin
Foto diambil dari pixabay.com

Sang Angin meniup sepoi- sepoi

Menyegarkan wajah merah merona berseri

Sang Angin membelai lembut lalu hanyut terbawa aliran darah yang mendidih

Betapa bahagia ketika angin berlimpah dan tak ingin pergi

Namun pada suatu hari, Sang Angin perlahan berlalu... tak lagi mendiami

 

Bapak itu bertanya pada awan berarak tak jauh berdiri

"Apakah Kau bisa datang menjengukku hari ini?"

Awan menyanggupi sedang Sang Angin tersenyum perlahan lalu terbang menghampiri

Dia tak sanggup mendengar awan ikut merengek setiap hari

Angin tak bebas berhembus karena dia harus dibeli

 

Adalah awan dan ucapan yang bersatu pagi ini

Pohon Mangga turut menari di bawah matahari

Aromanya menguar di udara yang sunyi sepi

Mencium lidah yang semangat tak terperi

Adalah awan dan ucapan yang bersatu pagi ini

 

Kapas- kapas berguguran dari pohon yang menjulang tinggi

Jeritan hati nyanyikan lagu sendu yang tak terbendung lagi dan lagi

Namun angin terus berlari dan menghampiri

Di ujung jalan ada Penenun yang memintal dan menenun dengan penuh kasih

Terbentang kain megah penuh warna- warni....hingga tiba suatu saat nanti

 

The Green, 21 Juli 2021