Sayur Labu di Gunung

Nikmatnya makan sayur labu di kaki gunung nan di pedalaman Maluku…

Sayur Labu di Gunung
Foto Koleksi Bung Jopie Tenlima
 
"Ada jadwal sarapan sepanjang hari nih!' aku berkata ke Lisa.
 
Jariku menunjuk ke secarik kertas berukuran A4 yang berisi jadwal acara. Dan, yang tertempel rapih di tembok gaba-gaba—tembok yang terbuat dari pelepah pohon sagu. Lisa melihat ke arah yang kutunjuk sambil tersenyum lebar.
 
Beneran loh, di jadwal itu ada tercantum lebih dari satu kali sarapan dalam satu hari. Tulisannya kira-kira begini:
Sarapan pagi - jam 07.00
Sarapan siang - jam 12.00
Sarapan malam - jam 19.00
 
Aku dan Lisa berpandangan-pandangan, lalu tertawa bersama dengan girang. Dan, segera menghafalkan jam-jam sarapan itu. Senangnya! Sangat penting buat kami untuk bisa hadir tepat waktu pada jam-jam tersebut. Tak boleh terlambat. Karena, yang telat kabarnya tak boleh masuk ke area 'sarapan'.
 
Eh, kenapa sangat penting? Karena, itu adalah kesempatan kami untuk menikmati makanan segar. Selingan sejenak dari makanan sehari-hari di basecamp kami, basecamp Kanikeh.
 
Oh, begini! Jadi, ceritanya kami—saya, Lisa, dan lainnya—tergabung dalam sebuah tim ekspedisi di Taman Nasional Manusela, Pulau Seram, Maluku. Basecamp kami berada di Kanikeh, di kaki Gunung Binaya. Lokasi yang berada di atas Desa Kanikeh. Di desa mana kami menemukan jadwal sarapan-sarapan tersebut. Apa sebab? Berhubung di Desa Kanikeh sedang ada acara. Saya lupa tepatnya acara apa, yang pasti dilengkapi dengan makan bersama seharian, dan malamnya.
 
Makanan kami di basecamp sebagian besar adalah survival food. Umumnya makanan-makanan instan alias cepat saji. Rindu juga dengan makanan-makanan segar yang mengandung sayur-sayuran yang segar juga. Kalau berkunjung ke desa ini, kami bisa saja dapat makanan idaman. Kalau ada kerian macam itu, berarti jaminan makan besar. Apalagi, kami pasti akan menjadi tamu istimewa. Makan sambil mendengarkan musik khas setempat surga sekali!
 
Makanan di pesta itu tak menghidangkan nasi. Yang ada adalah kasbi atau singkong, dan ubi. Kalau tak salah, ada juga papeda basah yang terbuat dari sagu. Lauknya terdiri berbagai macam olahan sayuran dan ikan air tawar. Ada juga dendeng kijang hasil buruan orang-orang setempat. Tak hanya kami yang orang Indonesia yang kemudian sangat menikmati santapan di situ. Bule-bule yang juga dari tim ekspedisi pun demikian pula. Saking senangnya, mereka jadi banyak bertanya. Yang kadang-kadang sulit juga menjawabnya.
 
"Ini apa ya?" tanya satu anak perempuan asal Inggris, dalam bahasa Inggris.
 
"Ini namanya labu siam," jawab saya dalam bahasa Inggris juga, kecuali saat menyebut kata labu siam.
 
"What is labu siam/Apa sih labu siam itu?" tanyanya lagi.
 
Waduh...
 
"Oh, it’s a kind of pumpkin/Itu sejenis labu deh," jawab saya sekenanya.
 
Sungguh saya sebetulnya tak tahu harus menjawab apa—bahasa Inggris saya kan pas-pasan gitu. Maka, saya tengok ke Lisa yang duduk di sebelah kiri saya.
 
"Apa ya, Lis?" tanya saya.
 
"Mmm, oh, it's siamese pumpkin," kata Lisa.
 
"Oh, yeah, iya, siamese pumpkin," saya membeo.
 
"Oh, okay," si gadis bule tampaknya senang dan puas dengan jawaban kami.
 
Lisa dan saya juga senang hati. Maka, kami pun tertawa-tawa dan ngobrol ngalor ngidul bersama dengan si bule juga. Sempat juga sih berteori kenapa labu itu namanya labu siam alias siamese pumpkin. Mungkin, karena kontur badan labu yang seperti gundukan-gundukan yang saling menempel, maka kesannya bagaikan kembar Siam alias Siamese twins. Duh, makin berantakan hahaha... Tapi, kan kami jadi gembira. Ya sudahlah...
 
Jauh hari kemudian baru saya ketahui bahwa, labu siam yang nama latinnya adalah Sechium edule itu, dalam bahasa Inggris disebut chayote.   =^.^=