STRATEGI BETAH BEKERJA DARI RUMAH

WFH bukanlah ‘liburan’. Pada dasarnya, bekerja bisa di mana saja dan kapan saja serta bisa dilakukan oleh siapa saja namun, pasti ada suka dukanya yang dirasakan bagi mereka yang belum terbiasa bekerja dari rumah. Pandemi covid-19 ini mengubah segalanya, untungnya sudah ada teknologi Internet yang menjadikan betah kerja dari rumah.

STRATEGI BETAH BEKERJA DARI RUMAH
WFH

 

 

 

            Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) yang berlangsung dari tanggal 3 Juli sampai dengan 20 Juli 2021 sungguh terasa lama bagi mereka yang ‘rajin’ ke kantor. Tapi apa boleh buat, ternyata kluster perkantoran disinyalir sangat tinggi. Data penularan pandemi covid-19 tidak hanya mengalami fluktuasi namun, makin membubung tinggi. Dalam situasi dan kondisi seperti ini, apa yang mesti kita lakukan?

            Berikut ini penulis hendak menganalisis apa saja kelebihan dan kekurangan bekerja dari rumah atau Work From Home (WFH) sebagai berikut:

Kelebihannya, antara lain:

  • Tidak banyak kehilangan waktu di jalan, terutama bagi mereka yang tinggal di kota-kota besar seperti DKI Jakarta. Urusan macet dan kelelahan di jalan membuat sebagian energi menjadi terkuras.
  • Tidak meninggalkan rumah cq keluarga tercinta, yang sesungguhnya selama ini menggerutu dalam hati, bahkan ada yang berangkat kerja anak belum bangun dan pulang kerja anak sudah tidur, lalu kapan ketemunya? Kapan ada waktu kebersamaan (quality time) yang bisa merekatkan emosi antarkeluarga (suami –isteri, orangtua – anak/anak-anaknya, saudara – bersaudara, apalagi kalau bagi keluarga yang beruntung masih mempunyai ayah – ibu /kakek – nenek).
  • Tidak terlambat hadir rapat, yang biasanya kalau rapat off line sering terjadi keterlambatan peserta rapat yang akhirnya sangat mengganggu jadual acara. Dengan diselenggarakannya rapat secara on line (daring) menunjukkan ketepatan waktu yang cukup efektif.

Di samping ada kelebihannya, tentu ada pula kekurangannya, antara lain:

  • Apabila pekerjaan itu sifatnya memang mengharuskan pekerja nya untuk hadir secara langsung (contoh: Para pemeriksa yang biasanya turun langsung ke lapangan untuk melakukan inspeksi mendadak (sidak).
  • Bagaimana pula dengan urusan operasi ‘tangkap tangan’, karena ada orang melakukan perbuatan tindak pidana; para pekerja sosial yang menangani atau harus mendampingi korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), pelecehan seksual, mereka yang tergabung dalam devisi advokasi, devisi informasi dan dokumentasi, karena tuntutan pekerjaannya mengharuskan mereka ini stand by di tempat secara full timer (dari pagi hingga malam). Pekerjaan jurnalis di media cetak dan elektronik, dan sebagainya.
  • Terpisah jarak satu sama lain, tentu ada kendala komunikasi dan kordinasi. Belum lagi karena WFH ada sebagian mereka yang pulang kampung, bisa saja terjadi sinyal mereka terganggu sehingga sulit untuk dihubungi dan akibat semua ini menjadikan hasil kerja kurang optimal.

Yang jelas WFH bukanlah ‘liburan’, jadi pekerja harus tetap melaksanakan tugas dan pekerjaannya. Oleh karena itu, pandai-pandailah membuat strategi agar betah bekerja dari rumah atau bekerja di rumah. Memang pandemi covid-19 ini mengubah segalanya, kebiasaan kerja yang sudah berpuluh tahun atau bahkan berabad-abad yang lalu secara ‘drastis’ manusia harus dapat menyesuaikan diri dengan keadaan darurat ini.

Dengan model WFH ini, berkembang model kantor hibrida (hybrid). Orang menjadi bertanya-tanya, apa yang dimaksud dengan hybrid? Wikipedia menyebutkan: “Hibrida merupakan generasi hasil persilangan antara dua atau lebih populasi yang berbeda, baik fenotipe maupun genotipe nya. Pengertian ini dapat mencakup generasi langsung (dekat) hasil persilangan, ataupun generasi lanjut hasil segregasi dari persilangan tersebut”. Lalu apa kaitannya dengan WFH?

Pada dasarnya, bekerja bisa di mana saja dan kapan saja serta bisa dilakukan oleh siapa saja namun, pasti ada suka duka nya yang dirasakan bagi mereka yang belum terbiasa bekerja dari rumah, apalagi bagi mereka yang biasa ngantor, tentu adaptasinya tidak bisa langsung se mudah seperti orang membalikan telapak tangan. Bekerja dari rumah (WFH) membutuhkan kemampuan untuk beradaptasi dengan kebiasaan baru, yang sudah barang tentu harus bisa sabar dan berproses, asal saja tidak berlama-lama karena zaman nya menuntut yang serba cepat.

Kesehatan penting, pekerjaan juga penting, tidak sehat tidak bisa bekerja, kehilangan pekerjaan juga bisa sakit. Lalu kita mesti bagaimana? Berikut ini urun rembug penulis yang kiranya dapat dipertimbangkan oleh mereka yang harus WFH selama PPKM. Seberapa luas atau besarnya rumah Anda atau juga seberapa sempit atau kecilnya tempat tinggal yang Anda huni, kelola lah senyaman mungkin sehingga Anda bisa merasa betah tetap tinggal di rumah, bekerja di rumah, bekerja dari rumah, karena memang harus demikian keadaannya.

Jangan gampang menyerah, ‘tidak ada produsen gembok yang tidak menyertakan kuncinya’, artinya setiap masalah pasti ada jalan keluarnya. Supaya kebiasaan ngantor Anda tidak mendadak putus, tetaplah konsisten mengelola waktu. Jika biasa bangun pagi lakukan saja, berdandan rapi layaknya Anda akan berangkat ke kantor, sehingga Anda nampak layak di depan kamera. Selanjutnya sediakan tempat/ruang kerja senyaman mungkin bagi Anda dengan sirkulasi udara dan penerangan yang cukup, tidak harus mewah. Disiplin harus tetap dipatuhi, tidak hanya disiplin soal waktu tetapi dalam banyak hal, sehingga tidak terjadi keterlambatan dalam hal apapun, maka mengantisipasi dan senantiasa siap sebelumnya adalah hal yang bagus untuk dilakukan.

Bukankah Anda sudah terbebas dari ketergesa-gesaan dan harus stres menerobos kemacetan jalanan, sehingga efisiensi waktu dan tenaga menjadi milik Anda dan hal ini dapat meningkatkan efektivitas dan produktivitas kerja Anda. Istirahat (ishoma) dan kegiatan ber-olahraga jangan sampai terlupakan, karena hal itu penting untuk menjaga kesehatan fisik dan psikhis. Bukankah dengan WFH Anda lebih leluasa untuk menatur dan mengisi waktu Anda dengan seluwes mungkin.

Kita semua berharap corona segera berlalu. Menaikkan doa-doa pribadi sudah, bahkan doa secara nasional pun juga sudah, percayalah bahwa dengan doa plus usaha yang sungguh-sungguh ini akan didengar oleh Yang Maha Kuasa. Tuhan Maha mendengar dan mengabulkan sesuai waktu-NYA. Gusti mboten sare (Tuhan tidak tidur). Sabar dan tawakal, jaga iman baik-baik, teruslah berpikiran positif dan optimis, aamiin…….

 

Jakarta, 12 Juli 2021

Salam sehat dari penulis: E. Handayani Tyas – tyasyes@gmail.com