Surat dari Kamoy: Menyambut Bibi

Surat kedua dari Kamoy, kucing saya yang sudah meninggalkan dunia fana tempat manusia hidup ini.

Surat dari Kamoy: Menyambut Bibi
Sumber foto: https://pixabay.com/illustrations/renovation-paint-the-labor-banner-1262389/
"Semalam dengar tidak?" anak kucing berbulu telon itu bertanya pada temannya.
 
"Tangisan si kembar tiga ya? Ya, aku dengar," temannya yang berbulu hitam-putih seperti pingguin menjawab.
 
"Kasihan ya...," si telon berkata lagi.
 
“Iya. Sudah 2-3 malam ya mereka begitu”.
 
Hai Nina, sudah terima suratku yang terdahulu? Berkabarlah kalau sudah. Cukup dengan berbisik di dalam hati. Supaya kutahu kau sudah terima suratku. Dan, bahwa kau baik-baik saja.
 
Nina, pembicaraan di atas kudengar saat aku sedang berbaring santai berjemur di lapangan rumput di Jembatan Pelangi ini. Kedua kupingku langsung berdiri tegak saat mendengar kata-kata ‘kembar tiga’. Pikiranku langsung mengarah ke Bebe, Bubu, dan Bobo. Satu-satunya kembar tiga yang kutahu di sini.
 
Sinar matahari sedang nyaman-nyamannya. Malas aku bergerak. Tapi, ada dorongan yang terlalu kuat untuk mengetahui siapa yang dimaksud sebagai si kembar tiga itu. Meski tak ada peraturan khusus, tapi kucing-kucing besar dan kucing-kucing kecil cenderung tidur di lokasi yang berbeda. Jadi, aku tak bisa dengar kalau ada anak kecil yang menangis di malam hari saat semua orang tidur, karena tempat yang terpisah begitu.
 
Kuhela nafas sedikit, kuangkat tubuhku, dan ngulet sejenak. Sebelum kemudian melangkah ke tempat dua anak kucing yang sedang leyeh-leyeh di antara bunga-bunga berwarna-warni di lapangan rumput ini.
 
"Tadi kalian sebut bahwa semalam ada anak kembar tiga yang menangis," tanyaku sesampainya di dekat mereka.
 
Dua anak itu sedikit terkejut melihatku. Ya, maklumlah, aku kan selalu berwajah serius, yang selalu dianggap orang berwajah jutek. Kamu pun selalu juga bilang begitu, ya kan, Nin?
 
"I-i-iya, paman...," tergagap dua-duanya menjawab.
 
"Siapa mereka?" lanjut kubertanya.
 
"Anak-anak jahe kembar tiga, paman. Aku tak tahu nama-namanya," kata si telon.
 
"Aku juga tak tahu nama-nama mereka, paman," si pinggguin menambahkan.
 
Begitulah di Jembatan Pelangi ini. Meski kami para peliharaan manusia yang sudah tak hidup di dunia fana ini tak lagi mengenal penderitaan, tapi kami tak bisa langsung tahu nama-nama penghuni di sini. Kalaupun sudah tahu, kami bisa lupa. Mungkin, karena nama-nama kami itu pemberian manusia ya. Yang selalu ingat ya manusianya tersebut.
 
"Mereka menangis sambil tetap tidur, paman. Mengigau," telon menjelaskan.
 
Aku menduga keras bahwa itu adalah trio Bebe, Bubu, dan Bobo. Kulanjutkan langkahku, menuju ke tempat biasanya anak tiga itu sering menghabiskan hari, di dekat pohon kayu besar dengan ayunan. Di sana mereka biasa bermain atau menangis bersama. Hmmm…, kenapa sih mereka banyak sekali menangisnya ya…
 
Betul saja, mereka ada di sana. Di kejauhan sudah kulihat sosok mereka bertiga, yang sepertinya sedang resah. Seekor sebentar-sebentat berjalan mengelilingi dua saudaranya. Satu ekor lagi duduk dengan gaya sphinx, dengan empat kakinya terlipat di bawah badan. Yang terakhir memeluk sambil menjilat-jilat saudaranya yang duduk sphinx itu.
 
"Kudengar, kalian semalam menangis dalam mimpi, ya?" kubertanya saat dekat mereka.
 
Mereka mengangguk dengan lemas. Raut wajah ketiganya terlihat sangat cemas.
 
"Ada apa? Aku maklum kalau kalian menangis, tapi kenapa sepertinya cemas begitu?"
 
Hening sejenak. Ketiganya saling berpandang-pandangan seperti saling menguatkan, dan bagaikan saling menyuruh saudaranya untuk menjawab pertanyaanku.
 
Aku sungguh penasaran, Nina. Tapi, aku tak mau memaksa mereka agar segera bicara. Jadi, dengan sabar kutunggu saja, meski wajahku pasti terlihat bagai bete tak sabaran. Namun, kuyakin anak tiga itu sudah hafal dengan raut wajahku. Jadi, kamu tak usah khawatir, Nina, bahwa mereka akan merasa takut padaku.
 
"Ng..., ini tentang Bibi," salah satu dari mereka akhirnya bicara.
 
"Saudara kalian yang masih hidup di dunia manusia, ya?"
 
"Iya...," kali ini tiga-tiganya serempak menjawab.
 
"Ada apa dengan Bibi?"
 
"Sepertinya dia akan segera menyusul kami ke Jembatan Pelangi ini".
 
"Oh ya!? Bagaimana kalian tahu?" kaget aku merespon.
 
"Kami memimpikannya selama beberapa malam," jawab anak yang tadi terlihat resah bolak-balik melangkah.
 
Benar-benar berita yang mengejutkan. Aku tak tahu harus berkata atau berbuat apa. Aku lalu duduk sphinx juga, menemani mereka dalam diam. Sampai akhirnya tiba waktu untuk seluruh penghuni Jembatan Pelangi kembali ke tempat tidur.
 
Pagi keesokan hari, hal pertama yang kulakukan adalah menuju ke lokasi anak tiga itu biasa mangkal. Tanpa menengok, lokasi makan kulewati begitu saja. Tercium aroma sarapan pagi yang mengundang selera, tapi aku lebih merasa perlu untuk segera menemui anak-anak itu—pun tak masalah kan kalau aku tak makan kan, kami di Jembatan Pelangi tak pernah benar-benar merasa lapar atau harus makan.
 
Di tempat yang kutuju, tak kulihat sosok-sosok kecil mereka. Sempat terpikir untuk memanggil, tapi kurasa bukan tindakan bijak.  Tiga jahe itu sedang resah, kan. Kuputuskan untuk mencari mereka. Kuhampiri tempat makan, tak kulihat mereka ada. Jadi, kulanjutkan langkahku ke tempat anak-anak biasa istirahat di malam hari.
 
Di sana, di pintu masuk, kulihat seekor anak jahe duduk dengan tak sabar. Itu salah satu dari Bebe, Bubu, dan Bobo.
 
"Ayo, kalian berdua! Cepat!!!" serunya sambil menengok ke dalam.
 
"Selamat pagi... Ada apa?" kutanya saat mencapainya.
 
"Pagi, paman," katanya. "Mmm..., Bibi akan tiba hari ini," sambungnya pelan.
 
Aku sejenak melongo. Dari mana mereka tahu, ya?
 
"Kalian memimpikannya lagi semalam?" aku menduga.
 
"Ya!!!" serempak mereka menjawan—dua jahe yang tadi belum kelihatan, tiba-tiba sudah bergabung dengan saudaranya.
 
"Ayo cepat! Kita berangkat!!!" kata jahe yang tadi duluan di pintu—sungguh aku tak juga hafal mereka itu mana yang siapa.
 
"Mau ke mana?" aku bertanya.
 
"Menyambut Bibi, paman," ia menjawabku. "Ayo cepat! Kita terbang saja biar cepat!!!" perintahnya ke kedua saudaranya.
 
Dengan sigap mereka mengembangkan sayap, lalu melesat ke udara. Aku mengikuti saja, terbang di belakang mereka yang kali ini tak ngepot-ngepot terbangnya. Ada urusan penting, maka mereka serius lurus terbang ke tujuan. Ke manakah tujuannya? Titik dekat gerbang masuk ke dunia kami.
 
Kamu tahu kan, Nina, bahwa kami para penghuni Dunia Pelangi semua mempunyai sayap? Sayap ini tumbuh, pada saat kami meniggalkan dunia fana tempatmu berada.
 
Entah sudah berapa lama kami menunggu di dekat gerbang itu, tapi tak kunjung juga ada tanda-tanda gerbang dibuka untuk akses masuk penghuni baru. Tiga anak itu semakin resah, tapi mereka diam saja. Tak berbicara apa-apa. Aku memutuskan untuk tidur, dengan kupingku yang tetap waspada memantau situasi bagai radar.
 
"Itu dia!!!" tiba-tiba salah satu dari mereka berteriak.
 
Kubuka mataku, kubangkit dan duduk di kedua kaki belakangku. Gerbang yang perlahan terbuka, memberi jalan masuk sesosok anak kucing. Bulunya berwarna jahe, persis dengan saudara-saudaranya, Bebe, Bubu, dan Bobo.
 
Ia berjalan lunglai, sayapnya terseret lemah di sampingnya. Kesuraman yang terpancar dari dirinya, sangat kontras dengan birunya langit dan hijaunya rumput segar. Tiga saudaranya berhamburan ke ujung jembatan, tapi mereka tak bisa terus mendekat sampai ke tempat saudaranya yang baru datang itu. Karena, itu daerah terlarang untuk dilalui atau didatangi oleh kami, para penghuni Jembatan Pelangi.
 
"Bibi!!! Bibi!!! Cepat!!!” teriak mereka berbarengan.
 
Yang dipanggil mengangkat kepalanya. Memandang para pemanggilnya dengan tercengang, lalu, boro-boro mempercepat langkahnya, dia malah menyerembabkan dirinya ke tanah dan lalu melolong.
 
"Bebe, Bubu, dan Bobo, tolong akuuu!!!" jeritnya.
 
Tiga saudaranya langsung panik.  Tapi, tak ada sesuatu apapun yang dapat mereka lakukan untuk bisa mendekati Bibi.
 
"Bibi!!! Ayo bangkit! Cepat ke mari!!!" teriak anak tiga itu.
 
"To-tolong a-a-aku...," terisak dia berkata.
 
"Kami nggak bisa mendekatimu! Terlarang buat kami pergi ke tempatmu," anak tiga itu berseru lagi.
 
Bibi melolong sedih. Tapi, akhirnya dengan dorongan semangat dari tiga saudaranya, Bibi berhasil memaksa dirinya melangkah. Sampai dia mencapai tiga saudaranya. Di mana lalu mereka berpelukan sambil bertangisan.
 
Selama itu, aku hanya mengamati saja, Nina. Bukan tak mau membantu, tapi memang tak ada yang perlu atau bisa kubantu sih...
 
"Maafkan aku... Karena, ternyata aku tak bisa memenuhi harapan kalian untuk membahagiakan Papajay sekeluarga," Bibi berkata sambil terisak.
 
"Bukan salahmu, koq. Kita memang tak punya kuasa karena fisik kita terlalu lemah," jawab salah satu dari anak tiga.
 
Demikianlah anak-anak buangan, ya Nina. Semangat mereka akan kehidupan sangat besar, tapi lebih sering badan mereka tak sanggup menghadapi hantaman virus penyakit. Terlalu cepat direnggut dari ibunya menjadikan mereka tak lagi mendapat nutrisi yang dibutuhkan badan kecil mereka yang sedang bertumbuh. Pagi masih lincah menari, sore sudah tak bernyawa lagi.
 
Aku mendekati si kembar empat jahe yang sedang berpelukan sambil bertangisan.
 
"Bersyukurlah bahwa selama hidup kalian yang pendek itu kalian sudah dikasihi dan disayangi oleh Papajay sekeluarga. Mereka orang-orang baik, yang akan terus mengingat kalian. Kuyakin, mereka takkan pernah lupa kalian. Doakan saja supaya mereka selalu bahagia dan sehat, ya," aku nimbrung.
 
Bibi memandangku dengan heran. Nina, kuyakin dia pasti berpikir, "siapa oom-oom ini sih, ikut-ikutan aja?"
 
"Bibi, kenalkan ini Paman Kamoy. Tampangnya emang jutek, tapi baik koq...,” salah satu Bebe, Bubu, dan Bobo menjelaskan.
 
Eeeh..., aku dibilang tampang jutek!!! Dasar anak muda...
 
"Oooh... Salam kenal, paman," Bibi berkata pelan sambil mengusap air matanya.
 
"Iya, Bibi, kita doakan Papajay, Mamajay, dan keluarga selalu sehat dan bahagia," kata Bebe, Bubu, dan Bobo yang lain.
 
"Doakan saja Papajay sekeluarga mendapat pengganti kita. Orang baik yang telah memungut kita, pasti akan melakukan hal yang sama untuk anak-anak kucing malang lainnya. Kita doakan juga pengganti kita itu yang akan membalas kebaikannya, dan akan memberi kebahagiaan kepada mereka," Bebe, Bubu, dan Bobo yang terakhir menambahkan panjang lebar.
 
Kupandangi anak itu, anak yang terakhir berbicara. Pandai juga dia menyusun kata-kata panjang ya...
 
"Baiklah, matahari sudah tinggi. Mari kita ke lapangan dalam. Kalian bisa bermain bersama di sana. Kalian bisa juga menunjukkan kepada Bibi berbagai tempat menarik di Jembatan Pelangi. Dan, makan makanan yang enak-enak itu," usulku.
 
"Baik! Yuk!"
 
Mereka berempat berjalan bersama. Bibi masih kelihatan kurang bersemangat. Tapi, kuyakin tak lama lagi ia akan menjadi anak kucing yang penuh enerji seperti tiga saudaranya. Mereka berempat mungkin kadang kala masih akan menangis bersama, namun kujamin mereka takkan lagi mengigaukan tangisan pilu dalam tidur di malam hari.
 
Kuberjalan perlahan di belakang mereka. Sambil memandang langit yang birunya takkan pernah terlihat di dunia manusia, aku menghela nafas lega. Sungguh aku bersyukur, Nina, bahwa di dunia manusia ada sosok seperti Papajay dan keluarganya. Yang tak sungkan membuka hati dan rumahnya untuk anak-anak kucing buangan seperti empat jahe Bebe, Bubu, Bobo, dan Bibi.
 
Doaku, Papajay sekeluarga selalu dalam lindungan dan berkah Ilahi. Dan, tetap akan membuka hati dan rumahnya buat anak-anak kucing terlantar lainnya.   =^.^=