Tell Me a Happy Ending Story

Tell Me a Happy Ending Story
Florencia Viadana (@florenciaviadana) | Unsplash Photo Community

 

Marky mulai menuang JD ke dalam gelas diikuti oleh sedikit cola dan meletakkannya di hadapanku. “Thanks,” aku ucapkan sambil tersenyum. Terus bergilir gelas-gelas kosong diisinya demikian dan disajikan kepada setiap kawan yang duduk mengitari sebuah meja kayu kecil. Gelas terakhir yang tersisa ia isi dan ia angkat tinggi. Kami pun menirunya…. “Cheers!” Suara kami terdengar kompak. Aku pun kemudian langsung meneguk pelan minuman tersebut.

Kami berkumpul seperti biasanya di samping kolam renang dengan cahaya bulan yang menerangi. Kumpul-kumpul ini menjadi sebuah ritual yang kami jalankan setiap beberapa bulan sekali, yang pastinya setelah gajian. Windy dan Aleks suaranya makin terdengar kencang memperbincangkan autokrasi pemerintah, memang seru kalau mantan aktivis 80-an berdiskusi dengan pemuda milenial. Aji bermain gitar sambil bernyanyi lagu Beatles. Suaranya seperti biasa, pales, minum tidak minum sama saja, tapi petikan gitarnya memang makin OK setelah gelas kedua. Joko duduk diam menikmati minuman sambil mendengarkan–entah yang mana–diskusi politik atau lantunan lagu jadul.

 

Brooke Cagle (@brookecagle) | Unsplash Photo Community

 

Aku… aku sibuk mencoba mengambil foto-foto di bawah penerangan malam. Belum puas, aku kemudian duduk di tengah-tengah dan berusaha mengambil angle yang tepat untuk selfie bersama. “Ayo merapat dikit donk!” teriakku dengan sedikit memaksa. Tak peduli kalau mengganggu Marky yang sedang serius menyampaikan analisis ekonominya untuk membantah entah Windy atau Aleks. “Ayo, satu, dua, tiga…!”

Dan foto dua tahun lalu itu pun masih tersimpan di dalam ponselku hingga hari ini. Tak pernah aku bayangkan akan menjadi kenangan berharga. Melihat foto ini sekarang, mataku terfokus pada Joko yang duduk di sebelah kiriku. Senyumnya yang selalu bersahabat, wajahnya yang terbiasa aku lihat hampir setiap hari, tak pernah benar-benar aku perhatikan sebelum hari ini.

Pada suatu hari aku dan Joko bertemu di sebuah kedai kopi dekat kantor saat lunch break. Habis hunting foto, ia masih membawa kameranya. Wah aku jadi dapat sesi foto gratis! Foto itu menjadi profil foto di blogku. Sebagai penggemar kopi, kami memang sekali-sekali ketemuan untuk ngopi-ngopi, tentu ada foto-fotonya juga. Namun, foto favoritku adalah ketika kami selfie di Lapangan Banteng di tengah musik hingar-bingar… ah we had a good time that day. Tampak dari senyum kami yang lebar. Sekarang, aku seperti ingin menoleh ke kanan atau ke kiri, seolah aku akan menemui senyum itu lagi.

 

Nathan Waters (@nathangwaters) | Unsplash Photo Community

 

Malam itu, percikan rintikan hujan di atas air kolam renang mulai membasahi kami… “Wah, ayo pindah!” Ucap Marky sambil bergerak cepat. Kami terpaksa menggeser meja dan barang-barang kami ke tempat yang ada atapnya. Sudah terlindung dari hujan, Marky pun lanjut, mengisi gelas-gelas yang tampak kosong.

Kini suara Windy yang merdu menggantikan suara Aji, membuat udara sejuk dan hujan di malam hari itu makin terasa nyaman. Aku mendengarkan sambil asyik mengunggah foto-foto ke Instagram. Marky kemudian berduet dengan Windy… boleh juga. Suara mereka disertai bunyi petikan gitar Aji dan rintik-rintik hujan membuat kami mager pulang.

Aleks yang tampak mulai bosan, tapi belum ingin pulang, melihat ke arahku dan berceloteh, “Belum ada perspektif gender dari tadi nih.” Sepertinya ia belum puas dengan diskusi tadi, tapi Windy sudah memilih untuk bernyanyi saja. Sebelum aku sempat menanggapi, Joko sudah berkomentar terlebih dahulu. Aku menengok ke arah Joko, ia tersenyum seperti biasanya. Sekarang senyum itu aku cari-cari.

 

Canva

 

Rest in love, my friend. I didn’t get a chance to say good bye. Dua pesan terakhirku gak sempat kamu baca karena sakitmu. Biasanya malam-malam begini menerima chat darimu, kita bicara soal berita terbaru, keluarga, pacarmu, apa saja. I always thought I’d see you again! crying Air mata susah ditahan saat mendengarkan lagu Hole di tengah malam ini, “tell me a happy ending story… is there a happy ending story?” Pandemi belum kelihatan akhirnya.

 

Listen to Happy Ending Story by Hole