The Legend Of NITU

Tuhan menciptakan alam semesta beserta isinya, dan rahasia alam adalah bagian dari rahasia sang Pencipta

The Legend Of NITU
jadilah seperti pistia stratiotes , meski tidak diperhitungkan tapi sangat bermanfaat untuk membersihkan air yang tercemar dan membantu pasokan oksigen air dan komunitas nya

Pengalaman masa kecilku, diwarnai banyak cerita lucu, insiden memalukan sampai cerita sedih karena pertama kalinya dalam hidup aku dan kakakku dihajar papa, kalau dihajar mama buat kami berdua, itu sudah biasa seperti lagu wajib di hari Senin, minimal seminggu sekali.

Aku ingat, sewaktu aku kecil kurang lebih umurku 9 tahun dan kakakku 10 tahun, kami berdua pernah dihajar  papa sampai berdarah-darah kaki kami berdua, padahal papaku adalah orang yang sabar dan jarang marah, tidak pernah sampai main tangan. Beda sama mama, yang sangat cepat kaki ringan tangan, hahaha. Ohya,  kakak laki-lakiku namanya Dedy, biasa kupanggil Koko, sedangkan aku sendiri biasanya dipanggil Ade.

Aku tinggal di sebuah kota kecil bernama Bajawa merupakan ibukota Kabupaten Ngada, yang terletak di Pulau Flores, Propinsi NTT tepatnya. 

Cerita bermula ketika kakakku mengajak main ke Kali Waiwoki-sebuah kali kecil
yang terletak dibawah jembatan dipinggir Kota Bajawa, tempat kami tinggal. Kali ini terkenal dengan cerita keangkerannya. Kata orang tua ada Nitu disitu, konon menurut cerita Nitu adalah hantu air, berwujud perempuan berambut panjang dan telanjang. Membayangkannya sosoknya antara campuran film kuntilanak dan ular cobra, sudah terbayang bakalan seru kayaknya.


Menurut cerita yang kami dengar, anak kecil yang main kesana akan ditangkap dan disembunyikan oleh Nitu dan tidak pernah dikembalikan.
Cerita itu tidak membuat kami takut, malah semakin penasaran akan sosoknya, karena kalau lewat jembatan Waiwoki saat perjalanan keluar kota kami selalu melongokkan kepala keluar jendela mobil dan membelalakkan mata selebar-lebarnya ke arah kali, berharap menemukan sosok Nitu, yang kami sendiripun belum jelas seperti apa, apakah berwujud wanita cantik atau berupa ular yang menyeramkan, selama ini tidak pernah berhasil dan tidak kelihatan ada penampakan apapun.

Singkat cerita,  kami berdua berencana pergi kesana untuk menangkap ekofego(yang kemudian baru kami tahu nama ilmiahnya adalah kecebong) dan mencari Nitu-tentu saja. Perlengkapan berupa bekal makanan ringan dan minum serta ember dan plastik sudah kami persiapkan jauh hari sebelum hari-H. Rencana rahasia ini hanya kami berdua yang tahu.


Kami pergi saat hari pertama libur sekolah, setelah penerimaan raport. Rencananya kami akan berangkat pagi-pagi sekali, karena kalau hari libur biasanya seisi rumah bangun siang. Hari masih pagi, ketika kami bangun tidur, kami langsung melompat dari ranjang dan berlari ke kamar mandi secepat mungkin menyelesaikan urusan mandi kilat kemudian mengendap-ngendap keluar rumah menuju ke arah luar kota, perjalanan memakan waktu 15 menit berlari dari rumah sampai ke tujuan, melewati tangsi Polisi, Gereja MBC, melintasi Lapangan Kartini dan menuruni Kompleks Susteran Karmel, menuju jembatan.

Sesuai rencana hal pertama yang kami lakukan tentu saja bermain air sepuasnya, walaupun udara masih dingin dan air kali terasa menusuk kulit. Permainan dimulai dengan lomba berenang katak, main perahu-perahuan menggunakan pelepah bambu kering, di sekitar kali banyak ditumbuhi tanaman bambu dan tentu saja uji menyelam, sambil bermain detektif untuk mencari Nitu di sekitar situ.

Kami mencari ke semak-semak sekitar dan menyibakkan tanaman-tanaman liar, membalikkan batu-batu serta mengaduk air kali, dari tempat kami pertama datang hingga batas bawah jembatan, karena menurut pengamatan kami daerah setelah jembatan kalinya lebih dalam dan jalannya curam serta batu-batunya licin, belum tentu ada Nitu di bagian sana. Pencarian Nitu diselingi dengan acara menangkap ekofego dan mengambil tanaman air Apu-apu untuk kolam papa, semuanya kami masukkan ke dalam ember kecil yang sudah dipersiapkan dari rumah.

Pencarian ini dihentikan sesaat karena rasa lapar yang melanda, kami memakan bekal yang kami bawa dari rumah sambil menyusun rencana untuk mencari jejak Nitu, di sekitar sungai siapa tahu ada bekas kaki atau tinggalan lainnya. Tiba-tiba suasana yang hening dipecahkan oleh bunyi air ditumpahkan, kami berteriak ketakutan karena tidak nampak orang lain disekitar kali,  ternyata tidak jauh dari tempat kami duduk ada orang memakai mesin penyedot untuk mencuci mobil, saking asiknya kami tidak menyadari ada mobil di hulu sungai. Om sopir dan konjak(kondektur) tertawa dan melambaikan tangan, kami balas melambai dan melanjutkan rencana.

Tak terasa hari sudah sore, kami membereskan barang bawaan dan bersiap pulang serta tidak lupa membawa hasil tangkapan kami. Sepanjang perjalanan kami bercerita tentang keseruan tadi dan berjanji akan kesana lagi untuk menangkap lebih banyak ekofego dan menemukan Nitu, kalau misi ini berhasil kami bisa terkenal dan teman-teman pasti kagum.

Rencananya awal kami akan memutar, masuk dari belakang rumah, seolah-olah kami datang dari arah kebun di belakang rumah, tapi upsss dari arah jalan kelihatan pintu rumah terbuka, terlihat sosok papa duduk menunggu, ditemani rokok kretek dan kopi hitamnya serta sebatang kayu dipangkuannya, ini gawat dan tidak kami perkirakan sebelumnya. belakangan kami tahu 
ternyata kepergian kami tanpa pamit sudah diketahui papa, dari Om sopir dan Konjaknya yang tinggal tidak jauh dari rumah kami, padahal kami sudah berencana berbohong dan mengatakan kami main ke tempat saudara sepupu yang rumahnya cukup jauh, papa dan mama biasanya tidak pernah marah kalau kami main kerumahnya.

"Darimana,  Koko dan Ade?" Tanya papa
"Dari..." jawab Kakakku 
Terputus oleh pukulan papa yang bertubi-tubi kearah kaki kami berdua.
"Ampun, pa..." 
"Nakal sekali, sudah dibilang tidak boleh main ke kali", hardik papa tanpa ampun
"Kalau kamu berdua ditangkap Nitu gimana? 
"Tapi pa, Nitu tidak ada pa!" Jawab kakakku.

"Plak, plak, plak!!!

Cuma itu yang kuingat. 
Aku diam saja,  karena tahu tidak ada gunanya, kami malah tambah dimarahi dan bakal dihukum lebih berat.

Dan penyelamatan terlambat datang dari mama yang melihat kaki kami.
"Cukup pa" kata mama.
Eh, baru saja kami menarik nafas lega, perhatian kami teralihkan dengan sebotol Rivanol dan Tieh Ta Yo Cin merah yang sudah bisa dibayangkan perihnya kalo dituangkan ke luka yang terbuka, lebih sakit dua kali lipat dari pukulan papa.
"Hukum mereka tidak boleh keluar rumah dan harus membantu kita di toko selama libur, pa", tambah mama, sambil tersenyum manis.
Hatiku terasa lebih sakit daripada kakiku, liburan sebulan baru dimulai sehari. 

Malam harinya kami berdua masih diceramahi panjang lebar, tentang mitos Nitu sama papa dan mama, tentu saja bagian pengulangan yang menambah panas kuping dan perih di kaki dengan si merah andalannya untuk semua luka, walau tidak untuk luka hati.

Nitu di tempat kami dikaitkan dengan petuah adat Dewa Zeta Nitu Zale, yang berarti  percaya kepada Allah yang ada diatas  dan juga pada leluhur. Nitu dipercaya sebagai jelmaan leluhur, oleh karena itu harus dihormati dan tidak boleh diusik atau diganggu. Dalam  mitos di daerah kami Nitu dipercaya sebagai sejenis mahkluk halus yang menguasai air seperti kali, sungai dan wujudnya bisa berupa berupa apa saja, wanita/manusia jadi2an(biasanya dipakai untuk menakuti-nakuti anak-anak) dan berupa hewan terutama ular yang tidak biasa ditemui di daerah kami.

Sebenarnya ada beberapa kali di daerah kami, tapi yang terkenal adalah Kali Waiwoki. Di Kali Waiwoki sendiri terdapat sebuah tempat yang disebut Tiwusengi yang terkenal angker dan turun-temurun dipercaya tempat berdiamnya mahkluk halus  penjaga tempat tersebut. Kami sendiri tidak tahu di bagian mana Tiwusengi itu.

Kami berdua terisak menahan sakit dan kantuk ketika cerita berlanjut dengan kejadian yang menghebohkan tentang hilangnya seorang anak di kali tersebut, sampai sekarang belum ditemukan, itu sebabnya anak-anak tidak diperbolehkan bermain di kali apalagi tanpa pengawasan orang tua (yang menurut kami hanya cerita karangan orang tua menakut-nakuti anaknya).

Penderitaan kami ditutup dengan cerita yang turun temurun dikisahkan tentang seorang wanita yang terkejut akan kehadiran seekor ular dihadapannya saat hendak mandi. Ular tersebut kemudian dipukul hingga mati. Saat pulang ke rumah tiba-tiba ia merasa tidak enak badan dan sekujur tubuhnya ditumbuhi sisik. Hal itu kemudian diceritakan ke keluarganya.
Keluarganya memanggil tetua adat dan merunut peristiwa di kali, kemudian membuat upacara adat untuk meminta maaf dan memanggil leluhur ular yang dibunuh, serta menanyakan ganti rugi agar tidak memakan korban manusia.
Akhirnya disepakati upacara adat besar yang mengorbankan seekor kerbau merah(albino).
Percaya tidak percaya, wanita tersebut sembuh dan tidak pernah mandi ke kali lagi.

Singkat cerita, aku dan Kakakku diijinkan istirahat, setelah sepakat dengan hukuman tidak ada liburan keluar kota dan wajib membantu di toko selama liburan sekolah, juga dipaksa berjanji, tidak akan pernah main ke Kali Waiwoki lagi apalagi mencari Nitu, alasannya simple karena pamali. Janji itu terbukti, dari kelas 3 SD sampai saat kami tamat SMA dan meninggalkan Kota Bajawa untuk melanjutkan sekolah kami berdua tidak pernah main kesana.

Pada hari keberangkatan kami, aku dan kakakku secara tidak sengaja berpandangan dan tersenyum, saat melintasi Jembatan Waiwoki, dan serempak melambaikan tangan, pada penguasa kali, yang mungkin saat itu juga tersenyum dan balas melambai.