TIDAK ADA ANAK BODOH DAN TIDAK ADA ANAK NAKAL

Sesungguhnya tidak ada anak bodoh, yang ada adalah karena ia belum mengerti. Anak adalah peniru ulung, apa saja yang ia dengar dan lihat dengan mudah ia menirukannya.

TIDAK ADA ANAK BODOH DAN TIDAK ADA ANAK NAKAL
Multiple Intelligences

 

            Suatu pemandangan tak elok telah penulis saksikan dengan mata kepala sendiri bulan yang lalu. Memang orangtua cq ibu di rumah tidak semua yang berprofesi guru. Oleh karena itu, ketika ia harus mendampingi anaknya belajar di rumah selama pandemi covid-19 datang dan menghempas seluruh kegiatan di bidang apa saja terutama bidang pendidikan, para orangtua khususnya ibu, mau tak mau ia harus berperan ganda. Selain sebagai ibu rumah tangga juga harus bisa berperan sebagai guru bagi anak-anaknya, mulai dari TK – SD – SMP – SMA/SMK.

            Namun, apa yang terjadi? Ada ibu yang tidak sabaran ketika mendampingi anaknya belajar di rumah, sehingga suara jadi keras, diikuti dengan kata-kata yang tidak pantas (seperti ‘bodoh kamu!’), bahkan nyaris mengayunkan tangan (menampar) sering dialami si-anak (kasusnya dalam hal ini kepada anaknya yang masih duduk dibangku SD). Si-ibu menjadi begitu sewot karena sudah berulang-ulang diajarkan, akan tetapi si-anak tetap melakukan kesalahan yang sama dan tidak kunjung mengerti. Pekerjaan mengajar dan mendidik itu perlu kesabaran dan memang ada unsur seni di dalamnya, lebih dari pada itu harus ada rasa cinta.

            Tidak semua orang bisa berprofesi sebagai pendidik, menempuh studi di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) pun harus disertai dengan kemampuan pedagogi yang mumpuni, karena yang diasah dan diasuh itu adalah anak manusia yang meliputi ranah kognitif-afektif-psikomotorik. Ketiganya harus dikerjakan dengan sepenuh hati tanpa kecuali dalam memperlakukan anak, karena sesungguhnya tidak ada anak pintar dan anak bodoh, yang ada adalah mereka yang slow learner dan fast learner, rajin atau malas, termotivasi atau tidak.

            Benarkah ada anak bodoh? Mengapa ada orangtua yang tidak sabaran? Bukankah orangtua adalah adalah pendidik pertama dan utama bagi anak-anaknya? Bukankah karakter anak terbentuk mulai dari rumah? Anak adalah peniru ulung, apa saja yang ia dengar dan lihat dengan mudah ia menirukannya, jadi jelas tidak pantas jika ada orangtua yang mengatakan: ‘Dasar anak bodoh – anak nakal, dan sebagainya’. Menurut hemat penulis, tidak ada anak yang terlahir bodoh, dengan catatan ia lahir normal, artinya tidak ada kelainan bawaan waktu lahir.

            Pendapat ini penulis kemukakan ada dasarnya, yaitu dengan membaca dan mempelajari buku yang ditulis oleh Howard Gardner yang berjudul Multiple Intellegences, yang isinya sangatlah menarik. Beliau adalah tokoh pendidikan dan psikolog terkenal, yang mencetuskan teori tentang kecerdasan majemuk  (Multiple Intellegences). Adapun yang penting untuk dicatat di sini adalah keyakinan bahwa semua anak memiliki kelebihannya masing-masing. Sedangkan dalam bukunya yang berjudul Frames of Mind, didefinisikan kecerdasan sebagai kemampuan untuk memecahkan suatu masalah, menciptakan suatu (produk) yang bernilai dalam suatu budaya.

            Pada mulanya Howard Gardner menyatakan ada 7 jenis kecerdasan (The Seven Smart), yaitu: (1) Logical Smart, (2) Verbal Smart, (3) Visual Smart, (4) Musical Smart, (5) Kinestetical Smart, (6) Intrapersonal Smart, (7) Interpersonal Smart. Kemudian, seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan maka dikemukakan kecerdasan yang ke 8 yaitu Natural Smart dan selanjutnya berkembang lagi menjadi Multiple Smart (Kecerdasan Majemuk). Kecerdasan Majemuk (bahasa Inggris: Multiple Intellegences) adalah salah satu teori belajar yang sangat perlu dipahami oleh seseorang yang berprofesi sebagai pendidik (guru/dosen).

            Melalui teorinya ini Haward Gardner memberikan sumber kekuatan baru bagi pendidik untuk lebih luas dalam berkreativitas dan berinovasi di dunia pendidikan. Selain itu setiap pendidik harus belajar meyakini bahwa di balik keterbatasan siswa juga terdapat kelebihan yang belum tereksplor dengan baik dan benar. Jadi sebagai pendidik profesional hendaknya dapat menggali dan menemukan potensi peserta didiknya, karena sesungguhnya tidak ada anak bodoh. Contoh: Ia mungkin berbakat seni, mengapa harus dipaksakan untuk menekuni bidang yang lain; bukankah orangtua justru harusnya memupuk dan mengembangkan bakat dan kompetensinya itu?

            Begitu juga halnya dengan anak yang di cap ‘nakal’, cobalah kenakalannya itu disalurkan dan dibuang huruf n nya, sehingga katakan yang baik bahwa dia banyak akal dan bukan nakal. Pakailah diksi (pilihan kata) yang baik dan benar, yang mendidik, yang memotivasi, karena dengan kata-kata itu masuk ke dalam memori anak dipikiran bawah sadarnya dan kemudian akan terinternalisasi ke dalam hidupnya. Hal itu akan sangat ‘mewarnai’ kehidupan si-anak dan terbawa sampai ia dewasa kelak.

            Sebagimana pernah disampaikan Bapak Muhadjir Effendy saat menjabat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, periode 2017 – 2019, beliau mengatakan tidak ada anak yang bodoh, semua cerdas!. Oleh karena itu, perlu guru yang cermat/jeli menyikapi dan mengenali potensi peserta didiknya masing-masing. Selanjutnya menurut beliau, justru dalam hal ini adalah tantangan bagi guru untuk lebih mampu menggali kecerdasan dan mengembangkan bakat serta potensi peserta didiknya. Berikut penulis kutipkan kata-kata beliau waktu berkunjung di sekolah Permata Insan Tangerang pada tanggal 15 Juli 2019: “Di sini semua tidak ada anak bodoh, semua adalah anak cerdas, anak pintar. Apakah bisa digali kecerdasannya, kepintarannya itu tergantung guru”.

            Baik sebagai orangtua atau pun guru, kita harus mempunyai pikiran yang positif dan optimis bahwa sesungguhnya tidak ada anak bodoh, yang ada adalah karena ia belum mengerti, begitu juga hal anak nakal. Marilah kita mempedomani ajaran Ki Hajar Dewantara, dengan Patrap Triloka, isinya: Ing Ngarsa Sung Tuladha (di depan memberi teladan); Ing Madya Mangun Karsa (di tengah membangun prakarsa/semangat); Tut Wuri Handayani (dari belakang memberi dorongan). Ketiganya harus diinternalisasikan untuk membentuk sikap dan nilai yang harus dipraktikkan pada setiap diri seseorang.

            Akhirnya, pada kesempatan ini penulis mengajak pembaca yang budiman untuk  merenung sejenak bahwa anak belajar dari kehidupan:

  • Jika anak dibesarkan dan dididik dengan pujian – ia belajar menghargai;
  • Jika anak dibesarkan dan dididik dengan kejujuran – ia belajar kebenaran;
  • Jika anak dibesarkan dan dididik dengan dorongan – ia belajar percaya diri;
  • Jika anak dibesarkan dan dididik dengan ketakutan – ia belajar gelisah;
  • Jika anak dibesarkan dan dididik dengan iri hati – ia belajar kedengkian;
  • Jika anak dibesarkan dan dididik dengan olok-olok – ia belajar rendah diri.

Oleh karena itu, marilah kita didik mereka dengan rasa aman, sehingga ia belajar menaruh kepercayaan dan menemukan cinta dalam kehidupannya.

 

Jakarta, 23 Juli 2021

Salam sehat: E. Handayani Tyas, Universitas Kristen Indonesia – tyasyes@gmail.com