Tidak Demokratis

"Tapi kamu tidak bisa mewakili mereka. Mereka ada di sini. Mereka tinggal bilang.

Tidak Demokratis
<a

"Mo makan di mana, nih, kita?" tanya mbak Jawa.

"Anker Mi, dong?!" jawab om Swiss pede.

Dua om Flores diam saja. Itu cukup memberikan unspoken code. Mbak Jawa peka mengendus kode ini.

"Pilihan selain Anker Mi, di mana sih, Om, buat maksi?" tanya mbak Jawa kepada om supir.

"Ada tempat makan enak dan lengkap di daerah pasar Maumere," jawab om supir.

"Makanannya apa saja?" tanya mbak Jawa ingin memastikan.

"Ada sate, nasi goreng, ..." jelas om supir antusias menyebutkan deretan makanan. Masakan Nusantara.

 

Suatu hari, di suatu masa, empat orang melakukan perjalanan bersama. Satu laki-laki orang Swiss, dua laki-laki orang Flores dan satu perempuan orang Jawa. Perjalanan, yang menempuh jarak sekitar setengah panjang Pulau Flores ini, dilakukan dengan mobil.

Supirnya si laki-laki Flores. Kulitnya hitam, tubuh besar, mata berkilat dengan kelopak besar, dan berambut ikal. Tanpa banyak bicara dan tersenyum, ia melakukan tugasnya dengan baik. Maklum saja, dia mantan supir bis antar kota di Flores. Dia hapal liku lekuk turun naik jalan.

Laki-laki Flores satunya, orang cukup terkenal di daerahnya. Seorang politisi yang kalo tidak salah pernah duduk sebagai wakil rakyat. Dia juga seorang entrepreuner, dengan business insting super tajam. Politisi dan wirausaha itu kombinasi top untuk memajukan bisnis. Memang, si om politisi ini sukses punya macam-macam bisnis.

Si laki-laki Swiss, adalah yang termuda dari keempat orang itu. Tapi karena dia yang mengepalai riset, otomatis dia yang in charge. Wajahnya mirip wajah Ben Afflect. Cute, baik hati, tapi ada nyebelinnya.

Si perempuan Jawa, entah kenapa dia nyasar masuk ke perjalanan ini. Dia termasuk orang yang cukup toleran dengan berbagai perbedaan. Intuisinya cukup terasah untuk mengendus kemauan orang di sekitarnya. Ia tak segan bicara apa adanya, jika diperlukan. Kadang ia mempertanyakan kejawaannya.

Perjalanan dimulai dari kota Ende menuju barat, yaitu ke sebuah desa kecil dekat kota Larantuka. Di mobil, bermacam percakapan terjadi. Dari mulai yang serius soal riset, sampai yang sepele macam nggosipin bos, atau guyon kere yang biasanya menjadikan si paling muda bulan-bulanan. 

Bahasa yang dipakai pun tiga macam. Kadang bahasa Inggris dan kadang bahasa Indonesia, karena si om Swiss sudah bisa berbahasa Indonesia. Sesekali bahasa Bajawa dipakai oleh dua laki-laki Flores itu. Dari situ, terdengarlah bunyi /s/ yang cukup kental dari om supir, sehingga mirip bicaranya Sylvester James, si kucing di Looney toon.

Perjalanan menuju lokasi aman-aman saja, suasananya juga. Mereka berhenti di Maumere untuk makan siang sebelum melanjutkan perjalanan ke barat. Om Swiss memilihkan tempat makan, yaitu Anker Mi. Ini adalah sebuah cottage, yang sekaligus dive resort, yang punya sebuah resto. Karena segmen si Anker Mi adalah bule, maka makanan juga selera bule. So far, tiga orang nonbule tidak ada yang keberatan. Semua makan, lalu perjalanan dilanjutkan.

Perjalanan usai makan siang ini mulai meriah. Om Swiss, yang duduk di samping supir, beberapa kali memasang CD musik yang dibawanya. Lagu-lagu berbahasa Inggris dengan genre musik kesukaannya. Habis satu keping, si om supir menggantinya dengan musik seleranya. Hanya ada dua selera om supir, lagu-lagu berbahasa Flores dengan irama tekjing-tekjing, atau lagu berbahasa Indonesia dengan vokalis perempuan era 70-80 yang mendayu-dayu.

Tidak tahan dengan selera si preman melankolis, om Swiss kembali menggantinya dengan musik pilihannya. Begitu terus sepanjang perjalanan. Dua orang yang lain hanya menahan senyum, tidak protes, karena keduanya toleran dengan musik apapun yang disetel.

Akhirnya Om Swiss menghentikan aksinya mengganti musik. Ia sadar diri, bahwa di dalam perjalanan dengan mobil, yang in charge adalah om supir. Om supir harus diupayakan agar tetap berhati senang agar perjalanan lancar.

Akhirnya, para penumpang tidur. Nyenyak tapi tidak lama. Mereka terbangun ketika seakan dipaksa naik wahana di theme park. Ya, om supir mengendarai mobil dengan zig-zag, melebihi urutan belokan jalan yang seharusnya. Sepertinya dia mencoba ngusir kantuknya, ato dia tak rela sendirian melek sementara yang lain tidur. Wkwkwk.

Singkat cerita, urusan terkait riset selesai dalam empat hari tiga malam. Keempatnya kembali menuju Ende, dengan rute yang sama. Tentu saja kini ke arah berlawanan. Flores adalah pulau yang memanjang Timur Barat. Tak ada jalur alternatif seperti di Jawa ada jalur Selatan dan Utara.

Suasana di mobil lebih akrab dibandingkan ketika perjalanan berangkat. Om supir bisa bercerita lebih banyak, juga bisa tersenyum. Kedua laki-laki Flores itu bahkan bernostalgia tentang bis kayu yang pernah jadi transportasi andalan di Flores.

Siang sudah lewat, tapi mereka ingin makan di Maumere saja. Bisa dimaklumi karena sepanjang perjalanan, tak ada tempat untuk makan siang. Bisa dimaklumi juga, bahwa kini lapar lumayan menguasai pikiran. Otak reptil mulai dominan.

 

"Ya, sudah, mari kita tentukan pilihan," ujar om Swiss. "Saya milih di Anker Mi. Om politisi?"

Om politisi diam saja. Wahaha .... Sambil menunggu jawaban dari om politisi, om Swiss bertanya kepada om supir. 

"Om supir?" tanya om Swiss.
Setali tiga uang dengan om politisi, om supir tidak ngasi jawaban. Diam saja.

"Kalo saya, pilih yang dekat pasar," kata mbak Jawa mantap.

"Lho? Bukannya kamu bilang suka makanan di Anker Mi?" tanya om Swiss heran.

"Saya bisa makan di mana saja, asal vegetarian," jawab mbak Jawa kalem.

Kedua laki-laki Flores itu belum menyatakan pilihannya, padahal laju mobil mendekati lokasi Anker Mi.

"Gimana, nih? Mo makan di mana? Ayo Om, tentukan pilihan," ujar om Swiss.

"Ya, kita makan di dekat pasar saja," kata mbak Jawa.

"Horee ...." kata dua om Flores itu hampir bersamaan. Keceplosan.

"HA? Tidak bisa dong, kamu memutuskan begitu?" sergah om Swiss.

"Aku tahu pilihan kedua om itu," tangkis mbak Jawa.

"Mana? Mereka tidak bilang pilihan mereka?" om Swiss ngotot.

"Iya, mereka tidak akan menjawab, karena mereka sungkan sama kamu," jelas mbak Jawa.

"Tapi kamu tidak bisa mewakili mereka. Mereka ada di sini. Mereka tinggal bilang. KAMU TIDAK DEMOKRATIS," tuduh om Swiss.

WAKS!

Perdebatan panjang kemudian terjadi antara om Swiss dan mbak Jawa. Mbak Jawa menyadari, bahwa secara teknis om Swiss benar. Tetapi, mbak Jawa merasa menjadi wakil yang tepat untuk kedua om yang enggan memberikan suaranya. Mbak Jawa yakin ia memahami dengan baik kedua om itu, meskipun sebenarnya ia heran, siapa yang Jawa?

Sampai bosan mbak Jawa mendengar bahwa orang Jawa itu ngomongnya implisit, ga mau confront. Katanya orang Flores itu sebaliknya, ngomongnya apa adanya. Lihat apa yang terjadi? Dua orang Flores sungkan bilang ke orang Swiss tentang pilihan mereka. Justru mbak-mbak Jawa yang mewakili dan menanggung cap tidak demokratis.

Mbak Jawa merasa ia sangat ngerti yang diwakilinya. Tidak seperti so called wakil-wakil rakyat yang setelah duduk di gedung megah dan dapat gaji luar biasa, jadi lupa siapa yang diwakilinya. Mbak Jawa agak-agak ga rela dituduh tidak demokratis.

Anyway, perdebatan cukup panjang dan mobil melaju melewati Anker Mi, terus ke timur menuju pasar. Om Swiss menghentikan perdebatan dengan wajah dilipat. 

Mbak Jawa merasa dilema sebenarnya. Ia tahu, om Swiss pasti bosan dengan makanan di desa beberapa hari terakhir, dan pengen makan yang proper sesuai standarnya. Di sisi lain, kedua om Flores itu tidak menikmati makanan bule sama sekali, tetapi mereka sungkan bicara dan menyatakan pilihan.

Di resto dekat pasar, masing-masing makan sesuai pilihannya. Pembayaran bukan dari budget riset. Om Swiss membayar makanannya sendiri. Om politisi mentraktir dua orang nonbule.

"Kamu masih kesal?" tanya mbak Jawa usai makan sambil nyenggol om Swiss dengan sikunya.

"Engga," jawab om Swiss datar.

Sejenak kemudian, ia tersenyum tipis dan berkata, "Makanannya enak seperti kata mereka."

Pandangan mata om Swiss ke arah dua om Flores yang tampak happy usai makan sesuai selera. Sepertinya, semua otak reptil tak lagi dominan, tetapi kembali dormant.

"OK. Are we good?" tanya mbak Jawa.

"Yup, we're good," jawab om Swiss menebar senyum Ben Afflect-nya.