Air Mata KEBODOHAN

Air Mata KEBODOHAN

Seandainya aku bisa menjadi egois. Padahal sudah berkali- kali ku yakinkan diriku untuk menjadi egois. Bahwa suatu hubungan orang tua dan saudara adalah takdir. Betapa hanya aku yang berkorban dan memberi walaupun kulakukan dengan ikhlas kata hatiku tapi tetap setidaknya hargai aku. Walaupun berapa sakit yang kurasakan dalam hubungan orang tua dan saudara ini. Walaupun berapa air mata yang kukeluarkan tapi mereka tak pernah peduli. Aku merasa hanya alat yang mereka pergunakan saat mereka perlu. Sesudah itu aku mereka campakan layaknya keset. Selalu. Mereka akan lebih memilih kebahagian masing- masing dan melupakan ku. Mereka hanya mencariku hanya bila membutuhkan dan mengiba. Dan aku begitu mudahnya dibujuk dengan kata ' maaf" . Bodohnya aku. Entah apa yang aku takutkan dari hubungan orangtua dan saudara ini . Balas budi ? Busyet. Atau kasian? atau takut ditinggal sendiri dan kesepian?

Sendiri dan kesepian ? Bukankah aku lahir juga sendiri ? Dan matipun sendiri ? Apa aku benar- benar naif ? Jika begitu takutnya sendiri kenapa tidak memilih berpasangan ? Apa aku juga takut ? Takut terluka oleh pasangan ? Takut pada apa yang terjadi pada kedua orang tuaku ? Yaitu perceraian ? Jika saja penderitaan dapat dihindarkan , tentu tak ada yang mau menderita. Maunya senang saja. 

Jika lahir, mati. orang tua, saudara tidak dapat diplih. Setidaknya aku dapat memilih untuk menghabiskan sisa hidupku dengan seorang yang ku sukai. Seandainya orang itu ada. Mungkin lebih mudah bagiku untuk egois terhadap orang tua dan sudaraku. Walaupun orang itu tidak ada aku pun masih bisa memilih bahagia. Melupakan kewajiban sebagai anak, melupakan tanggung jawab sebagai kakak, melupakan rasa kasihan terhadan keluarga, rasa berdosa atau bersalah atau rasa pamrih. Jadilah berani untuk meraih kebahagian diri sendiri, berhenti berkorban untuk siapapun yang hanya menyisakan luka dan air mata. Ingat mereka baik hanya ada maunya. Tidak lebih. Tidak perlu takut pda apapun dengan memiliki rasa takut saya meragukan keMahakuasaan sang pencipta. Itu yang kuharapkan meraih kebahagiaan ku sendiri tanpa perasaan terluka. Aku kalah pada tumbuhan walaupun panas , hujan, apapun tak pernah mengeluh dan terus tumbuh keatas meraih kebahagiannya sendiri.