Anak Dilepas Orangtua Was-was

berikan semangat anak untuk kembali sekolah, supaya anak mengalami keceriaan bersama teman-temannya, namun tetap waspada.

Anak Dilepas Orangtua Was-was
melepas anak kembali ke sekolah

 

            Seiring bergulirnya waktu kini beberapa sekolah di tanah air sudah banyak yang mulai membuka sekolah lagi, yang berarti Pembelajaran Tatap Muka (PTM) sudah berlangsung. Pendidik, peserta didik dan orangtua sudah harus siap dengan kondisi yang demikian, sebab bagaimanapun juga tidak mungkin kegiatan bersekolah digantikan dengan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang semuanya dikerjakan dari rumah secara terus-menerus. Benar memang pemerintah memberi kebijaksanaan bahwa untuk orangtua yang mengirimkan anaknya kembali ke sekolah yang dibuktikan dengan persetujuan tertulis dan disertai syarat-syarat protokol kesehatan ketat untuk memikul tanggung jawab bersama.

            Bahwa sesngguhnya sebagian orangtua ada yang menyambutnya dengan antusias sekalipun tetap diliputi perasan was-was, karena covid-19 masih ada dan ia tidak ke mana-mana, ia juga belum ke mana-mana dan tidak bisa ke mana-mana. Berarti covid-19 sesungguhnya masih bersama kita. Oleh karena itu, kita harus tetap waspada, jangan terburu-buru eforia. Beberapa orangtua diliputi perasaan galau untuk melepas anaknya kembali ke sekolah. Wajar saja karena anak adalah tumpuan harapan dan merupakan generasi penerus orangtua.

            Perasaan ragu dan khawatir pasti ada pada setiap orang, apabila hal ini berlangsung lama akan menimbulkan banyak kerugian, seperti terganggunya kesehatan mental. Penyebabnya harus segera dicari dan ditemukan agar tidak berlarut-larut, karena akan berimbas pada pemborosan energi seseorang. Bagaimanapun juga kita harus belajar menepis segala bentuk kekhawatiran karena mengakibatkan stres bahkan depresi dan gangguan kejiwaan.

            Rasa khawatir dan cemas itu merupakan keadaan psikologis. Ke dua nya memiliki makna yang berbeda meskipun pada umumnya orang sering menggunakan ke dua istilah tersebut secara bergantian. Khawatir cenderung lebih spesifik, sedangkan cemas lebih meluas ke banyak hal. Kekhawatiran  cenderung lebih terfokus pada pikiran di kepala kita, sementara kecemasan lebih mendalam karena kita merasakannya ke seluruh tubuh. Kekhawatiran terfokus secara verbal, sedang kecemasan mencakup pikiran verbal dan gambaran mental; demikian dikatakan oleh seorang psikolog asal Amerika Serikat yang bernama Guy Winch.

            Melalui kesempatan ini penulis menghimbau kepada para orangtua yang mengijinkan anaknya kembali ke sekolah agar tidak selalu diliputi rasa was-was yang berlebihan, karena hal kembali ke sekolah ini sudah benar-benar dipikirkan oleh para pakar di bidang pendidikan. Mereka cukup memberikan ketenangan dan kepedulian untuk mencari solusi terbaik pada bidang pendidikan ketika sekolah kembali dibuka. Sejumlah pakar pendidikan tingkat dunia dan Indonesia mencari solusi terkait permasalahan pendidikan. Mereka berharap bisa bekerjasama untuk menciptakan masa depan yang lebih baik bagi anak-anak di seluruh dunia, karena penutupan sekolah selama ini (hampir 2 tahun lamanya) mengakibatkan populasi siswa di tingkat global benar-benar terdampak.

Para orangtua menghadapi tantangan, anak-anak nyaris kehilangan proses pembelajaran yang efektif, wajah-wajah ceria dan pekik nyaring gambaran kegembiraan anak-anak yang bisa belajar, bermain dan bersendau-gurau bersama teman-temannya tidak terjadi manakala mereka harus belajar dari rumah (School From Home). Kini adalah waktu yang cocok untuk memotivasi anak-anak dan mengembalikan suka cita mereka di dunianya yaitu dunia sekolah, berteman, belajar, bermain dan bergembira. Jangan pernah jemu untuk selalu mengingatkan akan pentingnya menerapkan protokol kesehatan (terutama tetap pakai masker) dan menjaga kebersihan (terutama rajin mencuci tangan), sementara orangtua mengatur pola makan sehat, istirahat dan olah raga yang teratur. Semua itu hendaknya dilakukan tanpa ada keterpaksaan, melainkan dibiasakan secara berkelanjutan.

Tepis Was-was, Ganti dengan Mawas Diri

Sebuah penelitian tentang kekhawatiran yang dilakukan di Amerika Serikat, secara umum menunjukkan bahwa sekitar 85% hal-hal yang dikhawatirkan seseorang itu tidak pernah terjadi. Orang-orang yang melepaskan kekhawatirannya lebih sehat daripada mereka yang menggenggamnya. Jadi sebenarnya tidak ada alasan untuk terlalu khawatir. Teringat penulis pada sebuah cerita lama, bahwa ketika wabah sampar melanda dunia, begitu banyak korban meninggal dunia. Setelah diadakan penelitian, maka sesungguhnya yang meninggal akibat wabah sampar itu tidak sebanyak faktanya, karena justru sebagian besar korban adalah orang-orang yang mengalami kekhawatiran yang berlebihan terhadap wabah tersebut.

Oleh karena itu, mari atasi rasa was-was dengan mawas diri. Sebuah Survei Mawas Diri (SMD) adalah kegiatan pengenalan, pengumpulan dan pengkajian masalah kesehatan oleh sekelompok masyarakat. Hasil dari diskusi SMD disimpulkan bahwa penanganan covid-19 memiliki nilai USG (Urgency Seriousness Growth) paling tinggi, sehingga disimpulkan penanganan dan pencegahan covid-19 menjadi prioritas yang harus ditangani secara serius (penelitian dilakukan di Desa Cikasungka Kecamatan Cikancung Kabupaten Bandung Provinsi Jawa Barat, November 2020).

Mari kendalikan rasa khawatir (was-was) tersebut dengan bermeditasi, berolah raga, melatih mindfulness, curhat kepada sahabat, niscaya kekhawatiran itu akan berhenti. Mulai sekarang milikilah pikiran dan hati yang tenteram, berhentilah menyalahkan diri sendiri, tingkatkan emosi positif dan stop mengkhawatirkan hal-hal yang sesungguhnya belum tentu terjadi. Rasa khawatir itu adalah emosi manusia yang sepenuhnya normal, belajarlah untuk menerima ketidakpastian. Usaha  plus doa (ora et labora) dan berserah kepada Yang Maha Kuasa.

Jakarta, 17 Oktober 2021

Salam penulis: E. Handayani Tyas; Universitas Kristen Indonesia –tyasyes@gmail.com

 

Dapatkan reward khusus dengan mendukung The Writers.
List Reward dapat dilihat di: https://trakteer.id/the-writers/showcase.