CAHAYA IMAN SEORANG SUAMI

CAHAYA IMAN SEORANG SUAMI

Semenjak pertemuan pertama beberapa minggu yang lalu dengan pegawai baru itu, aku merasa ada yang berbeda dalam diri ini. Tubuh terasa gerah dan panas jika menjelang malam. Keringat dingin bermunculan jika terbayang wajahnya. Rasa rindu pada istri dan anak-anak di rumah seakan hilang dibawa angin malam. Ingin rasa hati menemuinya di mess wanita, tapi buat apa? Bisa terguncang dunia persilatan, jika aku menemui seorang pegawai wanita malam-malam. Sementara status sudah anak tiga. 


Oh, Ayu, pesonamu memudarkan duniaku. Apakah aku jatuh hati padamu? Bayanganmu seakan membelai alam bawah sadarku. Terasa menyeruak bagai air segar di tanah gersang. Hasrat ini terasa nyata. Astaga, beruntungnya di sekian detik aku langsung terjaga. Sepertinya iman dalam diri sedang berperang dengan rayuan setan yang menerjang. Aku sadar ini tidak benar. 


“Astagfirullah, astagfirullah,” ucapku berkali-berkali, melawan bayangan Ayu yang merasuk dalam jiwa karena begitu menggoda.

Segera, kutepuk-tepuk dada yang berdebar-debar dan bergerak cepat mengambil air wudu. Kutunaikan sujud di sepertiga malamku. Kue dan nasi kiriman Ayu yang sudah layu, kubuang jauh-jauh.


Orangnya sebenarnya biasa saja. Namun, entah kenapa terlihat menarik di mata. Banyak yang memuja karena dia satu-satunya pegawai wanita yang dikirim dari kantor pusat untuk mengisi bagian administrasi. Namun, ada seorang pegawai kantor bilang, dia tak secantik itu. Konon katanya, pegawai itu bisa melihat hal gaib dan berpesan padaku untuk berhati-hati karena terlihat nyata cara dia menarik perhatianku.


Kebetulan jabatanku cukup mentereng di perusahaan ini. Sudah hampir lima tahun lamanya aku menduduki jabatan ini. Ingin rasa hati keluar dan membuka usaha di rumah agar dekat dengan istri dan anak-anak. Sayangnya, niat masih niat. Belum berani bertindak. Jadilah kami berjauh-jauhan antar pulau. Memendam rindu, agar dapur tetap mengepul.

 
“Pagi Pak Arya, ini kopinya. Tumben awut-awutan. Semalam gak bisa tidur ya mikirin saya?” sapa Ayu sambil membawa nampan berisi kopi dan gorengan seperti biasa dan diletakkan di meja hadapanku. Kerling matanya memberi kesan manja. 


“Ah, kamu bisa saja.” Aku hanya terkekeh tanpa melihatnya. Dada ini terasa berdetak tak karuan. Entah kenapa, aku merasa dia bisa mendengar degup jantung ini. Sorot matanya tajam, menusuk hati. Sambil memiringkan bibir membentuk seutas senyum menggoda. Ayu memandangiku dari balik meja.


“Ah iya, bagaimana tawaran saya semalam? Kalau Bapak butuh sesuatu, kabarin saya ya, Pak? Saya siap membantu.” Tiba-tiba Ayu sudah berdiri tak jauh di sampingku. Suaranya cukup berbisik. Tangannya sedikit membelai pundak membuat bulu roma berdiri. Sekilas baru tersadar jika kondisi kantor masih sepi. Membuat diri harus waspada menjaga nurani. Dengan tetap tenang, aku beristigfar dalam hati. Kuat iman. Kuat iman. 


Dering gawaiku tiba-tiba berbunyi. Tak biasanya Ibu di Jawa menelepon di jam-jam seperti ini. Dengan penuh syukur aku segera pergi dari tubuh harum yang terus saja mendekati.

Ah, ibu. Apakah karena ada yang  menggangguku sehingga beliau merasa ada yang tidak beres denganku? Subhanallah, begitu kuatnya firasat ibu. 

Setelah berhasil keluar dari ruangan yang hanya ada ayu. Aku segera mencari tempat yang longgar agar bisa leluasa berinteraksi dengan ibu. 


“Halo Arya, gimana kabarmu Nak? Ibu semalam mimpi buruk. Kamu baik-baik saja di sana?” tanya Ibu, suaranya lembut dan dalam, membuatku merasa tenang dan aman seperti masuk dalam pelukannya.


“Baik Bu, Arya ada di kantor sekarang. Minta doanya, segalanya baik-baik saja,” jawabku singkat.

Dalam hati ingin kubecerita pada Ibu tentang apa yang sedang terjadi. Aku takut, ini hanya perasaanku saja yang terbuai dengan pesona wanita. Karena cukup lama berjauhan dengan istri di rumah.


“Ingat salat ya Le, salat lima waktu jangan lupa, sering wirid, Ibu bantu dari rumah. Ibu kok punya firasat gak enak, Ibu mimpi kamu dikejar ular di sana.” Nasehat Ibu terdengar was-was.


Akhirnya, dengan hati-hati akupun memberitahu pada ibu tentang Ayu dan perilakunya. 


“Di sini ada pegawai baru Bu, bukannya ge-er. Tetapi Arya merasa, dia suka menggoda dan perhatian. Padahal, semua tahu kalau Arya adalah laki-laki beristri tiga anak. Namun, tetap saja. Dia suka memperhatikan dengan mengirim makanan dan pesan perhatian. Hanya sebatas itu dan belum terlalu jauh Bu. Arya sendiri juga takut, karena jauh dari Ratna dan anak-anak,” jelasku cukup panjang.


“Ya Allah Le. Pantas hati ibu serasa panas. Mengingatmu yang jauh di tanah rantau. Bener ya, ingat selalu pesan Ibu. Jaga salat, selalu wirid dan jangan batal wudu. Ibu bantu dari rumah.”

Ibu mengulangi lagi nasehatnya, sebelum menutup salam dari sambungan telepon. Kurasakan kelegaan setelah aku mencurahkan beban dalam hati dan menginginkan adanya solusi.

Setelah menutup gawai. Nasehat Ibu, terngiang-ngiang di telinga. Bahwa di manapun berada, selalu mengingat salat dan menjalankannya. Selalu melibatkan Dia di setiap langkah yang akan diambil kemanapun diri ini berada. Sampai-sampai aku menyadari bahwa kelalaian dalam beribadah berimbas pada pekerjaan yang berantakan dan kurangnya perhatian pada istri tercinta. Karena sering tidak fokus dan merasa gelisah. 

Hingga beberapa hari setelah itu, ketika aku berhenti di masjid tengah kota saat perjalanan dinas. Ada seseorang yang ingin mengajak bicara. Seorang pria tua memakai peci dan sarung. Di mana sebelum aku datang, beliau sudah duduk di dalam masjid dengan membawa tasbih. 

“Assalamualaikum Nak, selalu jaga solat dan wirid dalam hati. Jangan lupa mengajilah jika kau bisa membaca Al qur’an,” tuturnya tiba-tiba ketika aku berdiri setelah menuntaskan salam pada sang pemberi kehidupan.

“Waalaikumsalam, insyaallah, Bah,” jawabku dengan menunduk hormat.

“Ada yang mau mengusikmu, berhati-hatilah dengan godaan setan yang menyerupai manusia. Ingatlah selalu padaNya. Agar logikamu tetap berjalan dan imanmu tetap terang,” ucapnya lagi dengan menatapku tajam tapi menyejukkan.

Tiba-tiba ada rasa segar yang menyeruak dalam dada. Entah kenapa, aku bisa merasakan adanya keikhlasan dalam kata yang diucap oleh seseorang yang tanpa sadar kupanggil Abah ini.

“Kalau bisa, hindari makanan dan minuman serta pemberian dari orang yang tiba-tiba perhatian padamu. Jaga selalu wudumu, dan wirid dalam hati tanpa putus,” ulangnya lagi, membuat bulu kuduk sedikit meremang.

“Kalau boleh tahu, kenapa Abah tiba-tiba berkata seperti ini? Kita belum pernah bertemu, tapi Abah sepertinya mengetahui banyak hal tentangku,” tanyaku dengan hati-hati diiringi rasa bergidik seperti sengatan air es yang menyentuh kulit. 

“Sesungguhnya pertolongan Allah itu nyata, percayalah pada doa ibu dan istrimu yang jauh di sana. Mereka akan selalu bersamamu bersama doa-doa mereka,” jawabnya singkat.

Sebelum aku mau bertanya lagi, Dani-supirku yang selalu kuajak kemanapun perjalanan dinas pergi, menepukku dari belakang.

“Pak, mari berangkat. Bapak sudah cukup lama ketiduran di dalam Masjid.”

Aku terbangun, gelagapan. Menoleh ke kanan dan ke kiri. Kaget dan bingung. Abah yang berbicara denganku tadi, kucari-cari tak ada. Aku seperti orang bodoh yang tampak linglung. Percakapan dengan Abah tadi terasa nyata sekali. Mungkinkah tadi mimpi?

Aku langsung bertanya pada Dani,” Dan, kamu lihat gak, ada orang tua yang duduk dan berbicara denganku di sini?"

Dani hanya menggelengkan kepala dan berkata,”Pak Arya tadi solat dulu, lalu saya menyusul. Setelah saya selesai, Pak Arya terlihat tidur di tempat selama hampir satu jam. Saya lihat Pak Arya kelelahan, jadi saya tidak berani membangunkan.” 

Penjelasan Dani, seakan menabokku. Membawaku terhempas ke tanah setelah terbang melayang tanpa sadar. Aku langsung beristigfar, “Astagfirullah, subhannallah, maafkan dosa-dosaku ya Allah, lindungi aku.” Semua terasa secepat kilat. Seperti terangkat kembali ke bumi setelah terjun bebas ke dasar laut.

Kuambil nafas besar, kuatur ulang agar diri ini tenang. Kuyakinkan diri aku tak sendirian. Ada Allah bersamaku. Ada doa ibu dan istri yang menyertaiku. Bulu kudukku kembali meremang mengingat pesan Abah tadi.

“Sesungguhnya pertolongan Allah itu nyata, percayalah pada doa ibu dan istrimu yang jauh di sana. Mereka akan selalu bersamamu bersama doa-doa mereka.”

Aku pun bergegas menuju mobil yang sudah disiapkan Dani. Untuk melaju pada kantor dinas yang kutuju. Dalam perjalanan, tiba-tiba aku rindu istriku, sangat rindu. Aku rindu tawa anak-anakku dan saat-saat mereka berebut masuk dalam gendonganku.

Segera kutelepon mereka. Suara renyah kangen di seberang sana membuat wajah ini meneteskan air mata. Rasa sejuk menyegarkan tiba-tiba terasa dalam. Meleleh dalam dada. Aku bisa merasakan kembali akan cinta dan sayangku yang hanya untuk mereka seutuhnya.

Kulihat kalender pada gawaiku. Alhamdulillah, akhir bulan ada tanggal merah yang panjang. Aku harus bergegas menyelesaikan tugas ini agar bisa pulang dua minggu lagi. “I love you, Suamiku.” Ucapan yang keluar dari bibir seorang wanita halalku di ujung sana, membuat semangat dalam dada bergelora. Berpacu secepat roda mobil yang melesat di tanah Borneo yang panas.

Pesan singkat dari seseorang yang sempat membuatku resah beberapa waktu lalu, sekarang berubah jadi suatu hal yang biasa saja. Bahkan terasa aneh saat dibaca. Dengan tanpa beban aku langsung menghapusnya dan memberi tanda hapus notifikasi untuk pesan yang bukan urusan kerja. Semoga kedatangan Abah tadi, memberiku tanda dan pengingat. Agar aku harus menjadi laki-laki tangguh yang tegar dari godaan setan yang berwujud pesona wanita. Karena harta yang paling mulia sudah kudapatkan. Istri dan anak-anakku tercinta.