Haruskah Ada Pelajaran Calistung di PAUD?

Pelajaran membaca, menulis dan berhitung tidak bijak disajikan pada PAUD atau TK. Play and learn adalah hak anak.

Haruskah Ada Pelajaran Calistung di PAUD?
PAUD

 

            Sebelum penulis menuangkan pemikiran tentang judul di atas, berikut adalah beberapa istilah yang ada dalam tulisan ini:

PAUD adalah Pendidikan Anak Usia Dini.

Calistung adalah Membaca – Menulis – Menghitung

Batita adalah Bawah Tiga Tahun dan Balita adalah Bawah Lima Tahun (merujuk pada usia anak).

            Sebagaimana kalangan pemerhati pendidikan ketahui bersama, bahwa pendidikan formal anak itu dimulai sejak usia kanak-kanak. Kalau dulu kita mengenal tingkat TK (Taman Kanak-Kanak), maka kata PAUD dimaksudkan sebagai Pendidikan Anak Usia Dini, yakni ketika usia anak 3 tahun atau lebih (sampai 5 tahun). Sebelum usia tersebut tentu anak-anak memperoleh pendidikan informal dari orangtuanya dan ketika anak mulai masuk ke pendidikan formal, pendidikannya dilakukan oleh guru.

            Mendidik anak usia dini tentu ada strateginya tersendiri, guru harus bertindak panjang sabar sehingga anak tidak mengalami ketakutan. Kreatif adalah salah satu kunci untuk membuat anak rindu dan rajin ke sekolah. Hal demikian sangat penting, karena pada pendidikan yang paling dasar inilah ‘pondasi’ itu mulai diletakkan. Sebagaimana orang membangun rumah tentu pondasi itu dibuat sedemikian rupa supaya rumah yang didirikan di atasnya kokoh/kuat, karena pondasi itu akan menunjang tegak berdirinya bangunan rumah tersebut.

            Pada hakekatnya tujuan pendidikan adalah kebahagiaan, demikian dikemukakan oleh filsuf terkenal yaitu Aristoteles; sedangkan John Locke yang terkenal dengan teorinya Tabularasa mengibaratkan bahwa setiap anak manusia terlahir ke dunia, ia ibarat selembar kertas putih, baru kemudian ditulisi oleh orangtua dan guru sebagai pendidiknya. Oleh karena itu jangan sampai ‘kertas’ itu ditulisi dengan berbagai huruf dan gambar yang jelek/kotor serta penuh coretan yang tidak bermakna.

            Selanjutnya ijinkan penulis menambahkan, bahwa di bawah setiap lembaran kertas putih itu ada tersembul (tonjolan-tonjolan) yang penulis maknai sebagai bakat-bakat bawaan, seperti gen dari keluarga misalnya bakat menyanyi, menari, melukis, kompetensi verbal, visual, kinestetikal, dan sebagainya. Tugas pendidiklah untuk mencari dan menemukan bakat-bakat bawaan si anak dan kemudian menumbuhkembangkan agar si anak dapat meraih prestasi gemilangnya, sesuai talenta yang dimilikinya sehingga mereka pun bersekolah dengan antusias dan gembira. Mereka merasa bahagia karena bergaul dengan teman-teman sebayanya, bermain dan belajar bersama.

            Bermain dan belajar adalah hak anak, janganlah mereka dibebani untuk berpikir ‘berat’ seperti harus bisa membaca – menulis – menghitung karena usianya yang masih batita dan balita. Mereka tidak bisa ‘dipaksa’, mereka bisa murung dan menjadi enggan ke sekolah. Ibarat memaksa bayi untuk mengunyah makanan keras sebelum giginya tumbuh. Mereka menjadi tidak bahagia karena merasa tertekan dan hal demikian harus benar-benar dipahami oleh guru TK. Sesungguhnya melalui bermain itu guru dapat membentuk karakter, mental, komunikasi, kerjasama, sikap toleran, kedisiplinan, sopan-santun (tata krama), dan kepekaan sosialnya. Di situlah akan mampak perilaku dan tabiat anak dalam intra maupun interpersonalnya. Selain diasah ranah kognitifnya juga penting ranah afektifnya dan ranah psikomotoriknya.    

            Pola pendidikan asah – asuh – asih perlu di ke depankan sejak dini, dibiasakan sehingga mendarahdaging atau ter-internalisasi sebagaimana ajaran Ki Hajar Dewantoro yang sangat terkenal, yaitu: “ing ngarso sung tulodoing madyo mangun karso tut wuri handayani” (artinya: ketika pendidik berada di depan peserta didik ia harus memberikan teladan baik; ketika pendidik berada di tengah/di antara peserta didik ia harus dapat menggerakkan/memotivasi peserta didik; dan ketika pendidik berada di belakang peserta didik ia mendorong dan memberdayakan/memberi kekuatan).

            Setiap guru PAUD/TK harus benar-benar mumpuni, ia ikut membentuk kepribadian anak, mendidik bertingkah laku dan bertutur kata baik, karena anak-anak adalah ‘peniru ulung’. Pendidik hendaknya dapat mengemas pembelajaran budi pekerti, menaruh hormat kepada orangtua, perilaku hidup bersih, merawat kesehatan dan rasa ingin tahu yang memerlukan jawaban dari pendidik. Ada interaksi positif antara pendidik dan peserta didiknya, serta terjalinnya ikatan emosi yang baik sehingga terwujud situasi yang menyenangkan dan nyaman bagi ke dua belah pihak. Hal ini membuat orangtua menaruh kepercayaan bahwa kelak anaknya menjadi Sumber Daya Manusia Unggul.

Play and Learn

            Kiranya hal bermain dan belajar ini dapat direalisasikan di lembaga-lembaga pendidikan seperti PAUD dan TK, tidak ada lagi tuntutan bahwa batita dan atau balita harus mendapatkan pelajaran membaca-menulis-berhitung. Kalaupun berhitung, bisa di sajikan dalam bentuk lagu/bernyanyi atau dapat juga secara visual, misalnya menghitung buah apel atau mangga, mengenalkan bentuk-bentuk huruf namun bukan harus membaca kalimat dan disajikan dalam bentuk gambar-gambar atau kartu sebagai media pembelajarannya. Menuntut batita dan atau balita untuk pelajaran calistung adalah tidak bijak.

            Ironisnya, manakala anak akan lanjut ke tingkat SD ada sekolah yang mensyaratkan calon siswanya  harus sudah dapat membaca, menulis dan berhitung. Jelas tuntutan itu kontradiktif dengan prinsip belajar sambil bermain yang ada di tingkat PAUD/TK. Sampai kapan kesenjangan ini harus terjadi? Anehnya pula ada orangtua yang bangga jika anaknya sudah pandai calistung di usianya yang masih dini itu. Sesungguhnya orangtua yang demikian memang tidak bisa sepenuhnya disalahkan, karena kemampuan calistung dijadikan bahan tes untuk masuk ke jenjang SD. Bukankah cara-cara seperti itu akan menimbulkan pesoalan di masa yang akan datang, karena pelajaran calistung pantasnya diberikan kepada anak usia  6 atau 7 tahun (SD).

            Menjadi Pekerjaan Rumah (PR) bersama para pemerhati pendidikan supaya tidak larut berada dalam keraguan/kebimbangan para orangtua yang akan menyekolahkan anaknya. Penyelenggaraan PAUD yang holistik-integratif harus terealisasikan, pendidik harus menempatkan peserta didiknya sebagai subyek belajar, proses pembelajaran yang menyenangkan (joyfull learning) penulis yakini akan mengantarkan anak-anak Indonesia menjadi SDM unggul dan siap bersanding di kancah internasional di masa mendatang.

 

Jakarta, 8 Nopember 2021

Salam penulis: E. Handayani Tyas; Universitas Kristen Indonesia – tyasyes@gmail.com 

Dapatkan reward khusus dengan mendukung The Writers.
List Reward dapat dilihat di: https://trakteer.id/the-writers/showcase.