I'll See You Soon, Pumpkin

I'll See You Soon, Pumpkin
Foto: Ms. Pumpkin dengan serbet di pundak

NEBRASKA. Plang nama hotel ini akhirnya diturunkan. Wajah bapak datar tak bisa kubaca. Dalam diam ia memandangi tukang yang mencopot plang. Ia bergegas memberi instruksi untuk menyimpan plang berbahan kayu bingkirai itu. Sebagai anaknya, aku hanya bisa menebak perasaan yang berkecamuk di hati bapak. 

 

Hotel Nebraska adalah usaha yang dirintis bapak dari nol, bahkan sebelum aku lahir. Hotel kecil, sepuluh kamar. Samar-samar aku ingat, pada masa jayanya, Nebraska selalu full booked, terutama hari Jumat, Sabtu dan Minggu. Tamu-tamu menginap berasal dari berbagai kota. Bahkan di bulan-bulan tertentu, tamu-tamu dari Belanda, langganan nginap Nebraska. Aku sering bertugas membawakan breakfast pada peak season. Upahnya lumayan untuk beli mainan saat itu.


Terletak di Kopeng yang berhawa sejuk, tak jauh dari jalur jalan utama, Nebraska menjadi hotel favorit. Apalagi bapak merawat kebun di belakang hotel, menanaminya dengan stroberi, aneka bunga dan beberapa jenis sayuran. Memetik stroberi untuk tamu hotel adalah ide brilian bapak, yang hingga kini ditiru banyak orang. Untuk tamu-tamu asing, ibu selalu menyediakan pilihan menu teh dari daun mint atau bunga cammomile, yang juga hasil kebun sendiri. Aku, sebagai anak sulung yang berbakti, adalah asisten sangat andal di Nebraska. Setidaknya itulah yang membuat ayam gerabahku beranak pinak.


"Dab, plang masih perlu waktu dikit lagi untuk finishing. Belum bisa kirim hari ini. Besok sore kami antar, sekalian pasang." Begitu pesan WA datang membuyarkan kenanganku pada Nebraska zaman dulu.

 

Tak hendak membiarkan rasa nostalgiaku terganggu, aku mengiyakan tanpa bertanya lebih lanjut. Yang membuatkan plang baru adalah Pathul, teman sekelas di SMA dulu. Ia punya usaha bikin billboard di Yogyakarta. Besok pasti dia ngasi penjelasan.

 

"Pak, kula kesah sekedhap," pamitku pada bapak lalu pergi mengambil si pitung merah di samping hotel. Matahari belum terlalu tinggi. Aku ingin mencari udara segar. Sudah tiga bulan ini aku berkutat dengan renovasi Nebraska. Bisa dikata merangkap jadi mandor ngontrol tukang, karena bapak hanya mau memakai tukang dari sekitar sini. Aku mengerti niat baiknya, jadi risikonya harus kutanggung. Jadi mandor itu tadi.


Ya, aku pulang setelah sekitar lima belas tahun meninggalkan rumah. Sekolah, kemudian bekerja. Bapak, yang terlihat makin tua setelah ibu wafat, memanggilku pulang. Semenjak kematian ibu, tidak hanya bapak yang merana, tetapi juga Nebraska. 


Bapak menyuruhku mengurus Nebraska. Pandemi yang belum berakhir, justru dipakai sebagai alasan bapak untuk merenovasi hotel yang pernah jadi kebanggaan keluarga itu. Aku akhirnya mengiyakan, bukan hanya demi bapak dan Nebraska. Diam-diam juga demi seorang perempuan yang telah menjerat hatiku sejak aku remaja.


"Kopi susu waluh, silakan."


Lagi-lagi buyar lamunanku. Aku kini duduk di sebuah warung mungil, sekitar satu kilometer dari Nebraska. Nama Warung Pumpkin membuatku membelokkan motorku ke sana. 'Alam semesta seakan memahami kerinduanku pada seseorang,' begitu pikirku.


Aku menyesap racikan labu kuning, kopi dan larutan susu dari cangkir putih bersih. Hhmm, kok rasanya familiar? Oh, sepertinya mirip dengan yang pernah kuminum di kedai kopi bergambar perempuan bermahkota itu. Perempuan di warung ini sih tidak bermahkota. Malah dia menyampirkan serbet merah bermotif kotak di pundak kirinya. Ia lebih mirip komedian jadul di TV. Rambutnya disanggul cepol. Entah dia berkata apa tadi, karena melihatnya aku justru terlempar lagi ke ingatan akan perempuan dari masa laluku. Perempuan yang selalu cemberut ketika kugoda dia berbau waluh.


"Silakan cicip, ini roti piswal. Bahasa kerennya sih, pumpkin banana bread."


Bagai mengendarai mesin waktu yang rusak, aku bolak-balik terlempar di masa lalu dan masa kini. Dahiku berkerut-kerut berusaha memahami keberadaan kesadaranku. Rupanya perempuan di Warung Pumpkin itu membawakanku sepotong roti hangat beraroma pisang dan labu kuning. Dari balik masker, hidungku bersorak mengendus harumnya roti itu. Ia, yang menyebut dirinya sebagai Ms. Pumpkin, minta izin meneruskan pekerjaannya.


"Anda mengingatkanku pada seseorang," kupakai jurus ini untuk membuka percakapan dengan Ms. Pumpkin.


Ia berhenti sejenak, melihatku, lalu kembali melakukan kegiatannya. Ia memotong-motong labu kuning, menyisihkan biji-biji, kemudian mencucinya. Melihatnya berkutat dengan labu kuning, memicuku bercerita. Tentang Kusumastuti, teman SMPku, atau yang biasa dipanggil Kus.


"Kang Adi? Saya kenal dia. Tiap dia punya waluh bagus, dia selalu simpankan beberapa untuk stok di sini," Ms. Pumpkin memotong ceritaku ketika aku menyebut nama sepupu Kus.


Pembicaraan pun beralih. Aku bercerita tentang masa kecilku di daerah sini, dan Nebraska. Supaya lebih akrab, aku mengenalkan namaku. Kami akhirnya saling bertukar cerita.


Ngobrol dengan Ms. Pumpkin terasa asyik. Meskipun kepo, aku menahan diri tidak bertanya hal pribadi. Ia pun demikian. Kami membahas tentang hal-hal lain. Tentang sayur, bunga, petani, kopi, rute perjalanan, perkembangan Kopeng, dan tempat makan baru di daerah situ. Saking asyiknya, aku seperti sudah berkawan lama dengan Ms. Pumpkin. 


Sayangnya, wajah Ms. Pumpkin separuh lebih tertutup masker. Aku tak berani memintanya melepaskan masker. Ini masih pandemi, semua harus taat prokes. Aku pun hanya mencopot masker ketika minum dan makan.


Tak terasa, dua jam aku duduk di warung ini. Beberapa orang mampir, tetapi memilih take away. Jadi aku merasa pikiranku bebas berkelana. Terutama ingatanku tentang Kus mengokupasi kepala. Aku bahkan berimajinasi bahwa Kuslah yang ada bersamaku. Di New Nebraska.

 

Di manakah Kus? Aku tak pernah bertemu dengannya sejak kami lulus SMP. Sempat sekali aku ke rumahnya, tetapi Kus tinggal dan bekerja di kota. Tidak bertemu.


Oh, Kus. Kenapa kini kamu memenuhi memoriku? Masih marahkah kamu karena selalu kugoda? Tak tahukah kamu betapa aku hanya ingin dekat denganmu? 


"Nebraska memang ikon di sini zaman itu, ya, Mas Bagas?" Pertanyaan Ms. Pumpkin mengagetkan dan mengembalikanku ke kesadaran kini.


Sewaktu kecil ternyata ia pernah sekali mampir memetik stroberi di kebun Nebraska. Sayangnya kami sama-sama tidak ingat saling bertemu. Mestinya kami bertemu, karena hampir selalu aku menjadi pemandu di acara petik stroberi. 


'Lebih baik jika dia tidak ingat,' kataku dalam hati. Tetapi...


"Sebentar," celetuk Ms. Pumpkin sambil mengurut pelipisnya. Kedua alisnya bertaut, seakan memaksa pikiran membongkar file-file dalam kepala.


"Jangan-jangan Mas Bagas adalah anak laki yang mengikat kepala dan menyelipkan bulu ayam sebagai hiasan?"


HAHAHAHA. Dalam sekejap, meledaklah tawa kami berdua. Dunia ternyata memang selebar daun kelor, ya? Ikat kepala dengan bulu ayam terselip itu memang gayaku waktu kecil. Aku terpesona dengan kaum Indian di Amerika yang selalu dikisahkan bapak jika menjelaskan tentang nama Nebraska. Aku berimajinasi menjadi kepala suku Indian.


Masih tertawa, aku memperhatikan sosok Ms. Pumpkin dengan seksama. Aku tidak menanyakan umur. Aku tahu, ada aturan tak tertulis untuk tidak menanyakan umur pada perempuan, juga berat dan tinggi badan. Aku hanya mengira-ira dia sebaya denganku. Mungkin lebih muda sedikit. Kecekatannya bekerja mengingatkanku pada almarhumah ibu.


'Aduh! Kenapa aku jadi melow begini ya?' kesadaranku mencolek diri. Gara-gara Nebraska ini. Atau karena sudah lima tahun terakhir ini aku kembali single setelah dua tahun mencoba bertahan dengan Gretta, perempuan Jerman yang ternyata tak betah hidup di negri tropis? Atau gara-gara Kus? Atau efek minum pumpkin caffe latte? Atau akibat mengudap pumpkin banana bread? Atau...


Tiba-tiba sebuah lampu seakan menyala di otakku. Lalu aku mulai berandai-andai. Sepertinya aku bisa ajak Ms. Pumpkin kerja sama dengan New Nebraska. Ya, dengan berat hati bapak menerima tambahan kata 'New' di nama hotel kami. Aku juga sudah deal dengan jaringan penginapan online untuk pengelolaan New Nebraska. Dengan begitu aku bisa fokus pada polesan-polesan yang dibutuhkan agar New Nebraska melejit. Kata orang, sekarang ini zamannya kolaborasi, bukan kompetisi.


"Siapa nama teman SMP Mas Bagas yang diceritakan tadi? Awal bulan kemarin, Kang Adi mengajak saudaranya ke sini. Perempuan." Ucapan Ms. Pumpkin itu langsung bikin porak poranda detak jantungku.


HAAA???


"Dia bawakan putu ayu waluh buatannya. Enak banget! Resep keluarga katanya. Ia setuju tiap Sabtu Minggu buatkan putu ayu waluh untuk di sini. Mulai bulan depan ini. Sebentar, dia tuliskan nomor WAnya di kertas." Ms. Pumpkin menjelaskan panjang lebar. 


Jantungku berdetak makin kencang hingga dadaku nyeri. Sementara Ms. Pumpkin mencari sesuatu di meja.


Mataku nanar memandang tulisan nama dan sederet angka di kertas yang disodorkan Ms. Pumpkin. Kusumastuti. Perempuan yang sukses menjerat hatiku sekian puluh tahun. Tanganku gemetar. Ya, Tuhan, akhirnya...