Kisah Mudi

Dua dewi Yunani ikut mengapung di kanan kirinya. Satu dewi dengan gaun putih dan dewi satunya bergaun merah. Langit baur jingga ungu muda. Bulan jatuh menuruni tangga. Dewi gaun merah berambut pirang terkembang mengambang di air lautan itu. Gaunnya basah. Kemudian mereka mulai bernyanyi... “Jangan lari lo! Kalau elo berani macam macam, kontol lo bakalan gua potong! Liat aja!” Lantunan itu indah, membangunkan semangat hidup Mudi.

Kisah Mudi
Photo from Pinterest, edited by me.
Kisah Mudi

“Aaaa... Tolong! Tolooong ada maling!!!”

“Waaa maliiing...”

“Maliiing, ada maliiing...”

“Aaargh, pergi sana!”

“Woooi...! Siapa kamu?! Keluar!!!”

Mudi masih mematung. Ia belum menyadari suara suara itu berasal dari orang orang di depannya. Tubuh kurusnya berdiri sedikit limbung ke kiri dan ke kanan. Lamat ia mendengar suara para perempuan muda di depannya, yang terlihat sibuk seliweran. Mereka memakai baju tidur. Sebagian menggunakan tank top dan celana rumahan, sebagian lagi mengenakan piyama.

Mata merah Mudi menatap hampa ke arah orang orang itu. Pikirnya bertanya tanya tapi memorinya kosong. Apa yang terjadi hingga ia di posisi itu?

Seorang gadis dengan rambut hitam panjang seperti di poster sobek depan warung, tank top putih dan celana panjang rayon pink maju mendekatinya. Di ruang tengah dengan lampu temaram hanya mereka berdua di sana. Para penghuni lain habis berhamburan ke luar. Gadis itu membawa panci teflon yang masih basah, bau Indomie. Ia mengangkat tangan tinggi tinggi sembari menodongkan kepala panci tepat di depan hidung Mudi.

“Ada apa ini? Kenapa aku disuruh mencium teflon?” ucap Mudi dalam hati.

Ia ingin menyampaikan pertanyaan itu secara langsung, tapi suaranya sulit keluar. Belum sempat ia membuka mulut, gadis di depannya sudah lebih dulu berteriak.

“Bangsat, mau apa kamu ke sini?! Kamu malingnya, kan! Udah, ngaku aja! Kami bakal lapor polisi biar kamu tau rasa!”

Suara itu di telinga Mudi bagai gesekan kapas dengan pantat bayi. Seeehalus itu. Ia tak mengerti sepatah katapun. Namun di mata Mudi, si gadis menjelma jadi dewi Yunani kuno, dengan helaian gaun putih panjang tanpa jahitan dan lingkar bunga mengelilingi kepalanya. Kelopak bunga di sana sini. Burung burung datang menghampiri. Ada bulan dan matahari. Rambutnya tergerai-gerai tertiup angin, pun dengan gaunnya. Ia harum, wangi surga...

Gadis itu terangkat kakinya, terbang ke angkasa menuju cahaya putih keemasan...

“Heh!!! Ngaku kamu! Kamu dari mana, ha?!” suara tegas menonjolkan otoritasnya.

“Novaaa, eh cepetan telpon polisi cepeeet!” si gadis mengkoordinir salah seorang teman yang tampak kalut. Temannya itu membenarkan letak kacamata tebalnya sembari dengan lincah memencet telepon.

Mudi menatap gadis itu lekat lekat, ia maju satu langkah. Si gadis tampak kaget lalu mundur sedikit demi sedikit. Tangannya masih menodongkan teflon nyaris mengenai hidung Mudi.

“Dengan tubuh setinggi itu bisa saja maling ini malah balik menyerangku,” pikirnya. Ia khawatir jikalau Mudi membawa senjata untuk aniaya. 

Dari balik pintu muncul seseorang berambut pirang. Rambutnya keriting mengembang, diikat sanggul dengan sangat ngasal. Perempuan berbadan sintal semlohay masuk tergopoh dengan setelan piyama satin abu-abu. Ia menggebrak pintu sambil membawa pisau buah.

“Mana sini!!! Oooh, jadi elo ya malingnya? Ayo maju lo kalau berani!” logat gadis ini seperti orang kota metropolitan di sinetron sinetron.

“Jangan main-main di belakang aja elo! Barang barang kita udah abis semua, dasar anjing!”

Sosok perempuan ini tampak begitu kesal. Wajahnya yang kinclong obat pemutih terlihat makin berminyak, kulitnya licin. Ia mengangkat alis tato runcing tinggi tinggi, berharap Mudi menangkap kemarahannya lalu menyerah. Mudi menoleh pada si pirang. Mata itu, besar bulat dengan bulu mata lebat super lentik. Mudi terhanyut ke dalamnya. Mata itu seperti lautan. Mudi tersedot masuk ke dalam arus, mengapung di lautan bersama bunga bunga.

Dua dewi Yunani ikut mengapung di kanan kirinya. Satu dewi dengan gaun putih dan dewi satunya bergaun merah. Langit baur jingga ungu muda. Bulan jatuh menuruni tangga. Dewi gaun merah berambut pirang terkembang mengambang di air lautan itu. Gaunnya basah. Kemudian mereka mulai bernyanyi...

“Jangan lari lo! Kalau elo berani macam macam, kontol lo bakalan gua potong! Liat aja!”

Lantunan itu indah, membangunkan semangat hidup Mudi. Membuatnya merinding. Burung burung ikut bersenandung, berterbangan di bawah matahari. Mereka bertiga mengapung seiring aliran air ke kanan dan ke kiri. Perlahan mereka terangkat ke angkasa, lalu terbang. Fly... fly... fly... ada awan berbentuk sofa besar di sana. Tersaji anggur hijau dan sirup dalam gelas gelas emas. Mudi melayang dan mendarat di sofa itu, membaringkan tubuhnya. Dewi dewi bersenandung lagi...

“Eh udah ditelepon belum polisinyaaa?”

“Udah Kak, tapi belum datang,” suara lain menyahut.

“Tapi kita udah panggil cowok cowok dari kosan gedung sebelah,” ucap pemilik suara bertubuh mungil itu.

Apa yang burung burung itu bicarakan? Dewi gaun merah memetik anggur dan menyuapi Mudi. Ranum, manis sekali. Mudi asyik menikmati buah anggurnya hingga tak menggubris kicauan para burung. Ia dan sofa awannya melayang di udara, terbang tinggi dan tinggi...

Di atas sana si gaun putih menanti, ia memegang harpa dan mencipta sebuah melodi. Mudi terbuai. Dewi gaun putih mendekati Mudi, nyaris menempelkan wajahnya ke wajah Mudi. Mudi segera menyorong bibirnya ke sang dewi.

PRANG! “Rasain kamu!!!” gadis tank top putih menghabisi wajah Mudi dengan teflon.

Lelaki itu tahu pipi dan pelipisnya berdenyut-denyut. Tanpa sadar matahari makin mendekat di atas kepalanya. Ia menengadah, silau sekali. Sinar kuning terang membuat Mudi agak sulit membuka mata. Cahaya besar itu semakin dekat, membuat matanya berkunang-kunang tak kuasa terbuka lama. Mudi refleks mengucek-ngucek mata.

“Senterin terus, Jon! Oh ini malingnya...” suara besar lelaki berseru pada temannya.

“Naaah, ke-gep kan sekaraaang. Gak bisa lari ke mana mana lagi nih kunyuk.”

Tiga pria muda yang masuk dari pintu belakang masing masing mengarahkan senter ke muka Mudi. Mudi makin limbung. Tubuhnya tak bisa berdiri tegap. Ia menahan wajah yang terasa nyut-nyutan dan silau yang membuat kepalanya makin pening.

“Ayok iket yok, iket!”

Salah seorang pria mengeluarkan tali jemuran dari kantong celana pendeknya. Mereka bergegas maju dan mengikat tangan Mudi, “udah tinggal nunggu Polisi aja nih.”

Mudi duduk terhonjor dengan tangan terikat ke belakang.

“Nggak usah belagak blo’on deh kunyuk.”

“Sekarang aja ketangkap langsung akting khilaf, huuu...” pria itu menoyor kepala Mudi.

“Temen temen kita bentar lagi bakalan ke sini, bro. Pengen ngasih pelajaran ke nih kunyuk. Moga moga gak keduluan Polisi.”

Mudi tak bisa bergerak. Matanya kosong menatap langit langit. Ada bunga berdansa di sana. Ada bulan terbakar matahari. Ada burung mengelilingi bumi. Bintang berlari. Dewi Yunani menari-nari, bernyanyi bersahutan. Ikan ikan berlompatan. Langit langit menggerakkan awan, berputar mengelilingi Mudi. Lalu burung dan bunga bunga mendekat, menari berkeliling. Mudi berusaha menggeliat, ingin ikut berdansa bersama mereka.

“Woy kampret, diem! Mau kabur kamu ya?!”

Bintang berlari mengitari Mudi. Rembulan bercinta dengan mentari. Bunga bunga mandi bersama para dewi. Gerombolan burung ikut mendekati kepala Mudi, meluluhkan sayap sayapnya dan berkicau. Berputar sangat cepat mengitari. Mata Mudi tak sanggup lagi. Ia tak bisa lagi memerhatikan mereka. Bergerombol burung burung itu kompak makin rapat, berbarengan masuk ke kepala Mudi.

GUBRAK! Mudi tersungkur tak sadarkan diri.

*

Tiga hari di jeruji benci membuat Mudi kangen dengan sayur bening dan ikan asin buatan emaknya. Perintah penahanan dicabut karena aparat tidak punya cukup bukti. Mudi masuk penjara hanya hitungan hari tapi lebam sakit di wajah dan sekujur tubuhnya pasti butuh waktu sembuh hitungan berbulan.

“Bagus bagusi kelakuan kau di luar, ya. Jangan kau mabok mabok lagi.”

Seorang Polisi bertubuh tambun dengan rahang kotak lebar menyerahkan kembali barang barang Mudi. Ia aparat paling perhatian saat Mudi di sana, meski tampangnya sedikit sangar.

“Kalau kau masih bikin ribut, kembali lagi kau ke sini.”

Mudi mengangguk seraya senyum. Sekarang pikirannya sudah lebih baik, ia sudah dalam kesadaran penuh. Pun sudah sadar, telinganya memang tidak berfungsi seperti orang orang normal. Maksimal hanya tiga puluh persen dari volume suara yang ia dengar. Bermula sejak saat itu, sejak ia selalu ribut ribut dengan mantan istrinya. Tak disangka mantan istrinya meneteskan Kalpanax ke lubang telinga dan matanya saat ia tengah tertidur. Ya, Kalpanax obat panu yang bisa membuat kulit mengernyit dan terkelupas. Mudi tak terpikir ini penyiksaan macam apa. Sudah hilang akalnya perempuan itu. Pernikahan yang hanya berumur satu tahun. Saat itu mereka memang masih remaja berusia belasan tahun.

Mudi pulang ke rumah menemui emaknya yang lanjut usia, bersalaman, membawa buah tangan pukis kelapa dari gerobak depan gang, lalu masuk ke kamarnya. Ia berbaring menatap atap dari plafon tipis, coba meretas kejadian malam itu. Seingatnya, ia dan teman teman membeli beberapa botol miras, dan minum di sebuah kontrakan. Mereka menawari Mudi beberapa pil lalu mencekokinya. Dari kontrakan teman, ia pulang ke rumah sendirian. Lepas itu ia tak ingat apa apa lagi. Dan tiba tiba ia berada di sebuah asrama putri.

“Ooo... warna pagarnya sama...”

**

Suatu siang di sebuah asrama putri, seseorang mengendap-endap masuk bilik ke bilik satu demi satu. Tubuhnya kecil mungil, rambut terkuncir rapi dan kaca mata tebal di wajah bulatnya. Penghuni lain sedang di ruang makan, berghibah dan memamerkan kebaikan pacar masing masing. Gadis itu melangkah pelan pelan, mendekati jejeran lemari yang jarang terkunci. Ia meraba-raba laci, mengeluarkan isi dompet lalu menyelipkannya di saku dalaman kemeja.

Tak cukup itu saja, ia menuju meja rias. Beberapa parfum merek ternama mencuri perhatiannya. Botol botol cantik dengan wewangian mirip artis.

“Harganya pasti jutaan,” pikirnya. Ia mengambil satu botol persegi berdesain minimalis, membuka tutupnya lalu mengendus. Perpaduan wangi melati, musk dan amberwood menyerebak. Ia menyangkutkan botol kaca itu di pinggang hingga tersangga karet celana jeans.

Giliran kamar di sebelah, dengan lincah ia berganti ruang. Bra marun dengan aksen renda hitam tergantung di balik pintu. Ia menggumpal bra itu dengan cekatan menyelipkannya di dada.

“Yuhuuu enak geeela, besok besok masak menu yang ini lagi yaaa. Gue ketagihan nih...” suara dari kejauhan mengagetkannya.

“Iya bener, enak banget sumpah gak bohong, kayak mau meninggal!” mereka bersahutan di sana.

“Hahahahaha...”

Suara tawa menggema di ruang makan mempercepat gerak gadis mungil itu. Ia sadar mereka berusaha mengobrol dengan dirinya dari sana.

“Iya, Kak. Besok saya masakin lagi.” Dengan gesit ia keluar kamar.

“Yang mana yang paling enak? Kakak nambah dong...” dalam hitungan detik ia sudah bercampur mengelilingi meja makan.

Mereka cuci mulut dengan anggur hijau, menenggak sirup dari gelas keemasan. Mereka bercanda, tertawa bersama. Dari atas matahari menoleh mengamati. Sang dewi memalingkan kepalanya dan menjauh pergi.

***

Dapatkan reward khusus dengan mendukung The Writers.
List Reward dapat dilihat di: https://trakteer.id/the-writers/showcase.