Moge, Simbol Kejantanan atau Kelemahan?

Moge, Simbol Kejantanan atau Kelemahan?
Foto: https://unsplash.com/@drivemyart

Satu siang, saya diajak Rudi untuk bertemu dengan komisaris sebuah bank di Jalan Sudirman, Jakarta. Rudi adalah teman kuliah saya. Saya pun langsung menginyakan, karena jarang-jarang bisa bertemu seorang komisaris bank ternama di Indonesia.

“Emang mo ngapain sih ketemu komisaris bank segala Rud?”

“Mau minta opini tentang good corporate governance. Nanti kamu boleh ikut tanya-tanya ya.”

Sesampai tujuan, kami pun langsung menuju ruang kerja Pak Komisaris di lantai 20. Ruang kantornya gede. Lebih gede dari rumah tipe 21 milik saya. Kami dipersilakan duduk di sofa dekat jendela di kantornya. Asyik banget ini tempat ngobrolnya, karena jendela tersebut menghadap langsung ke Jalan Sudirman. Jadi bisa lihat mobil dan motor yang wara-wiri.

Si tuan kantor terlihat berwibawa. Badannya tinggi dan besar. Kumis dan jambang menghiasi wajahnya. Suaranya berat tapi bertenaga. Cocok memang jadi komisaris.

Setelah basa-basi sejenak, kami pun ngobrol tentang apa itu good corporate governance dan bagaimana penerapannya di bank tersebut. Sebelum wawancara, saya sudah menebak jawaban-jawaban yang akan dikeluarkan Pak Komisaris. Paling juga jawaban standar dan normatif ala-ala pejabat.

Ternyata dugaan saya meleset. Jawabannya jauh dari dugaan saya.

“Bullshit itu good corporate governance. Itu akal-akalan saja agar sebuah perusahaan kelihatan baik. Siapa pembuat konsep good corporate governance? Kalian harus tahu dari mana awalnya. Ini proyek saja.”

Ceramah dia gak berhenti di situ. Dia ngomong banyak soal good corporate governance sampai teori konspirasi. Lah, saya jadi bingung. Berasa kuliah intelijen 3 SKS. Komentar-komentarnya sangat cepat, bertubi-tubi, dan bertenaga. Seperti pukulan-pukulan Muhammad Ali pada lawan-lawannya. Kami seperti mati kutu.

Beruntung, kami diselamatkan oleh rombongan moge (motor gede) yang melintas di Jalan Sudirman. Meskipun ruang kerjanya cukup senyap, tapi suara rombongan motor tersebut menginterupsi obrolan kami. Dia menoleh ke arah Jalan Sudirman, lalu nyeletuk dengan suara yang lebih slow. Tak lagi berapi-api.

“Kasihan ya mereka itu,” kata Pak Komisaris.

“Hah, kenapa kasihan Pak? Bukannya beruntung punya moge dan bisa touring di saat orang lain harus kerja.

“Ya, duit mereka memang punya. Tapi kebahagiaan tidak.”

Saya tambah bingung. “Maksudnya?”

“Ya, mereka itu konvoi naik moge kan biar kelihatan gagah. Motornya gede, pakai sepatu boots, jaket kulit, dan bandana bergambar tengkorak. Keren gak menurut kalian?”

“Keren banget sih Pak,” kata Rudi yang punya mimpi punya moge tapi baru kesampaian punya Binter Mercy yang hobi mogok.

“Nah itu masalahnya. Banyak di antara mereka itu lemah di ranjang. Untuk menutupi kelemahannya tersebut, mereka menunjukkan diri kalau kegagahannya di jalan.”

“Maaf, bagaimana Bapak tahu?” tanya saya penasaran.

“Lah, saya kan punya moge. Saya sering juga konvoi bareng mereka. Jadi saya tahu.”

“Berarti bapak…. ?” tanyaku tanpa menyelesaikan kalimat.

“Oh tidak… tidak… saya masih bisa membahagiakan istri saya. You bisa tanya ke istri saya,” katanya meyakinkan.

Setelah obrolan tentang moge tersebut, obrolan di ruang kerja Pak Komisaris menjadi lebih cair. Tak ada lagi kalimat meledak-ledak dari dia. Obrolan lebih santai dan tidak sebatas pada good corporate governance. Tapi juga tentang musik dan traveling.

Bahan obrolan terbaik siang itu bagi saya adalah mengenai gaya konvoi penunggang moge. Benarkah kegaharan mereka itu untuk menutupi “kelemahan” mereka? Entahlah, saya tak berani menduga-duga. Saya jadi ingat istri di rumah dan semakin yakin bahwa saya tak perlu bermimpi membeli moge. Mengapa? Sebab cicilan rumah saya belum juga lunas.