Pothead

Ini adalah kisah nyata keseharianku

Pothead

 

Udara sangat panas, aku tidak punya AC. Tepatnya tidak mau beli karena lagi pengangguran harus hemat. Kubuka jendela agar angin masuk, menyejukkan rumah. Baru beberapa menit, aku mencium bau ganja. Kutengok di luar sana tetanggaku seperti biasa menghisap ganja di halaman. Kesal, terpaksa cepat-cepat kututup jendelaku.

2 jam kemudian, mereka masih asik bercengkrama sambil menghisap ganja.
Kaos tanpa lenganku sudah penuh keringat. Apalagi sambil masak, tambah panas. Kipas angin satu-satunya untuk mendinginkan anakku yang sedang main game di ruang tamu. Dapur tidak kebagian anginnya.

Gimana ya caranya supaya tidak terus-terusan seperti ini?
Mau pindah rumah repot juga. Dan tidak ada jaminan di lingkungan baru akan lebih baik. Sewaktu kita pindah ke daerah ini tidak ada pengganja. Tetangga berganti. Sekarang sekelompok pemuda tinggal di sebelah. Saat covid begini tampaknya mereka tidak bekerja. Hampir sepanjang hari ada yang mengganja di halaman, tepat di depan jendelaku.  Tengah malam pun masih ada yang menghisap ganja. Semalampun aku tidak bisa tidur karena kepanasan. Anakku juga belum masuk sekolah lagi, sudah berbulan-bulan belajar online.
Aku tidak mau anakku terkena asapnya. 

Setelah masak, lelah dan kepanasan, aku tergoda untuk melampiaskan kekesalanku di sosmed. Ada group orangtua yang aku ikuti. 
“Bagaimana caranya agar aku tidak terkena hembusan ganja dari tetangga ya?” tanyaku. Di luar dugaan, jawaban yang kudapatkan sebagian besar membela pengganja itu.
“Ganja adalah obat ajaib, bisa menyembuhkan banyak penyakit. Ganja itu menyehatkan.” komentar seorang bapak.
Aku jadi teringat salah seorang temanku yang pernah menganjurkan untuk rutin mengkonsumsi ganja untuk menjaga kesehatan. Dikiranya itu semacam vitamin kali. Padahal dia berpendidikan tinggi.
“Kamu harus belajar tentang Cannabis, jadi tidak bodoh menganggap itu berbahaya, saya pengganja dan punya anak balita, tidak ada masalah.” nasehat seorang ibu.
“Kamu perlu memeriksakan diri ke psikiater, cuma orang gila yang menganggap ganja itu berbahaya.”  komentar ibu lain.
Ada ratusan komentar yang 95 % nya pro ganja. Dari yang santun sampai yang kasar. Tapi isinya kurang lebih sama, Ganja itu menyehatkan, jangan paranoid. Bodoh kalau tidak suka ganja. Sampai aku sempat berpikir, apa aku yang salah? Saking tidak percaya diri digembur sekian banyak pendapat berlawanan. Mau curhat malah membuat darahku makin mendidih.
Malah aku yang dipersalahkan. Kalau di Indonesia, narkoba diancam hukuman mati. Kalau di sini, kita yang tidak suka narkoba malah seperti orang bersalah. Ya begitulah lain tempat lain hukumnya.
Dulu aku pernah berdebat soal hukuman mati buat narkoba di sebuah online group di Indonesia. Aku rasa terlalu berat hukumannya. Penjara saja sudah cukup, pendapatku waktu itu.
Sekarang kok malah aku terbalik di sisi sebelah ya?
Aku masih merasa hukuman mati terlalu berat. tapi di sini juga kesal melihat mayoritas orangtua ternyata mendewakan ganja. Bahkan tak jarang aku lihat ibu hamil dan ibu membawa bayi pun masih tetap mengganja.
Toko penjual ganja ada di mana mana. bila aku berjalan 15 menit saja di daerah sekitar rumahku, sudah melewati setidaknya 5 toko penjual ganja. padahal cuma ada 1 toko kelontong. Padahal ada sekolah, rumah jombo dan tempat tempat ibadah di lingkunganku ini.
Menurut hukum memang legal menjual ganja di kota ini. Tapi seharusnya tidak boleh di dekat sekolah, rumah jompo dan rumah ibadah.

Mulanya aku mencoba membalas komentar komentar itu untuk membela diri.
Tak terasa sudah 3 jam aku menghabiskan waktu berdebat online.
Udara semakin panas, hatiku makin panas. Sampai aku lapar, lupa belum makan apa apa sudah jam 3 siang.
Aku teringat pendapat Elon musk, sebenarnya lupa-lupa ingat sih. tapi kurang lebih begini.
“Kalau ada yang bilang di sosmed, 1 + 1 = 5. Atau matahari terbit di Barat. Anggaplah mereka benar. Kita diamkan aja. Kalau kita berdebat dengan mereka, kita yang bodoh karena buang-buang waktu.”
Aku sering lupa nasehat itu. Benar banget pendapatnya.
Walaupun Elon musk pothead juga. Seandainya debat soal ganja pasti dia berseberangan dengan aku juga.
Semoga lain kali aku ingat nasehat itu, biar tidak bodoh membuang waktu.

Kubuka youtube mencari stand-up comedy untuk menghibur diri, agar melupakan kekesalanku.
Baru sebentar terhibur, eh lagi lagi komikanya membicarakan topik ganja.
Dan ya sudah ketebak dia pro ganja juga. Jadi muncul lagi kesewotan aku.
Kumatikan youtube dan kuambil keripik kentang. Ngemil aja deh.

Ya sudahlah nasib pendapat minoritas di sini. Harus bisa menyesuaikan diri hidup di tengah pothead. Asal jangan ikutan aja.
Sehat memang relatif. Waras juga relatif.
Kita tidak bisa mengubah orang lain. cuma bisa mengubah diri sendiri.
Kupasang senyum walau tidak ada yang lucu. Daripada kesal terus lama lama aku bisa gila.
Banyak hal hal yang aku syukuri di kota ini. Perpustakaan gratis, sekolah gratis, dokter gratis, dan masih banyak hal lain lagi. Tidak ada kota yang sempurna. Sebentar lagi musim akan berganti. Aku tidak akan kepanasan lagi. Tidak perlu buka jendela lagi. Saat ini ya sabar sabar aja dulu.
Mending kekesalanku kujadikan topik PR menulis hari ini. Tapi harus siap-siap juga kalau dikomentari negatif, jangan cepat sewot lagi.

Kusiapkan empek-empek kesukaanku, biar ada hiburan kalau dihujani komentar negatif lagi. Tapi kali ini nggak akan aku balas, mudah-mudahan ingat nasehat si pothead Elon Musk.