Rindu Menggebu

Rindu Menggebu
Image by pixabay.com

Terkadang, stress dan tidak mengerti melihat tingkah laku anak-anak saat ini. Entah mereka terlalu pintar atau mungkin memang masanya sudah seperti itu. Proses belajar anak-anak setiap hari selalu dilengkapi dengan cerita tak terduga. Tingkahnya tidak seperti anak-anak jaman dulu. Ada saja jawaban dari mulut kecil mereka bila ditegur atau diberi nasihat.

 

Yang tiba-tiba ada anak memangis minta pulang karena bercanda berlebihan, atau tiba-tiba sedang ujian ada yang minta izin buka google padahal jelas-jelas HP dilarang di bawa ke sekolah. Rasanya ingin segera usai saja mengajar hari itu.

 

Tapi itulah dunia mereka, yang tidak akan terulang lagi kepolosan itu saat mereka beranjak dewasa. Itulah dunia mereka yang bikin saya serasa muda terus.

 

Sampai suatu hari , tanggal 16 maret 2020, dengan berat hati mengabarkan bahwa proses belajar mengajar dilakukan di rumah sampai satu minggu ke depan.

 

Iseng saya tanyakan pada salah satu wali murid, respon anak-anak seperti apa ketika mendengar bahwa belajar dilakukan di rumah dipandu orang tua selama satu minggu ke depan.

 

Rupanya anak-anak senang. Mereka tidak peduli dengan issue Covid-19. Yang mereka tahu bahwa satu minggu mereka bisa habiskan waktu di rumah, istirahat, main bareng dan lain-lain. Mereka bilang, “Cihui, belajarnya sama Bunda. Pasti menyenangkan.”

 

Ah, dasar anak-anak. Mereka tidak tahu bahwa ibunya akan lebih galak dari gurunya di sekolah.

 

Covid-19 bukan issue ringan yang justru membuat panik Indonesia. Semenjak saat itu proses belajar mengajar di rumah dilanjutkan, dimulai dari satu minggu ke depan berikutnya, lalu dua minggu berikutnya, lalu sampai masuk ke tahap Ramadhan dan disambung Idul Fitri dan pada akhirnya sampai hari ini informasi terakhir adalah anak-anak akan kembali ke sekolah pada tanggal 15 Juli 2020.

 

Selama hampir tiga bulan hanya menyapa anak-anak melalu grup WA orang tuanya, belajar dari jauh, memastikan mereka tetap dibantu orang tuanya belajar, baik melalui buku yang sudah disiapkan, sempat pula dibuat program nasional melalui TVRI sampai kemudian diberi tugas tambahan terkait aktivitas selama Bulan Suci Ramadhan.

 

Satu-persatu mulai mengeluh. Mereka kangen bermain dengan teman-temannya.

Dengan tetap seolah semua baik-baik saja. Saya sapa mereka, bahwa yang terpenting saat ini adalah anak-anakku sehat”.

 

Biarlah belajar harus dengan cara yang tak biasa, bukannya senang ya bisa belajar ditemani Ayah Bundanya?

 

Mengagetkan. Anak-anak ini lebih banyak komplain.

“Pak, aku mau cepat sekolah, tugas selama libur lebih banyak daripada kita di sekolah.”

Lalu ada lagi, “Pak aku mau sekolah, bunda galak ngajarinnya” dan yang lebih lucu lagi “Pak aku mau sekolah, sekarang aku ga dikasih uang jajan”

 

Itulah kepolosan mereka, rindu mereka ungkapkan dengan versi masing-masing.

Tapi tahukah kalian, anakku?. Bahwa bapak juga sangat rindu bertemu.

 

Sepi, biasanya setiap hari anak-anakku berteriak tak ada hentinya, rasanya duduk lima menit di kursi saja seperti duduk berjam-jam. Sekarang membayangkan kalian berlarian saja cukup membuat bapak meneteskan air mata.

“Sabar ya anakku, beginilah adanya. Semoga kita selalu sehat.”

 

Setengah semester sudah, saya mengkhwatirkan anak-anak. Mereka kehilangan hak untuk menerima ilmu secara langsung. Tetap saja belajar daring belum mampu menggeser manfaat belajar secara langsung atau luring.

 

Tibalah waktunya untuk ujian.

Ujian tetap akan dilakukan secara online. Namun karena pertimbangan beberapa hal dan ingin memastikan kondisi anak-anak baik-baik saja. Kami dari pihak guru ingin mengunjungi anak-anak. Rindunya terlalu menderu.

 

Setelah diskusi antar guru dan wali murid maka UKK (Ujian Kompetensi Keahlian) tidak kami buat secara online. Ada saja di sekolah yang tetap online. Namun saya pribadi UKK akan dibuat seperti ujian semester sebelumnya. Yaitu dilakukan secara offline. Menggunakan kertas asli dan ditulis asli oleh anak-anak.

 

Tanpa mengabaikan social distancing, kami buat grup kecil. Kami buat titik pertemuannya.

Satu grup maksimal beranggotakan lima siswa saja. Kami buat jadwal dari pagi hingga sore. Awalnya saya ragu, apa anak-anak antusias untuk ujian kali ini?

 

Tanpa di duga mereka bahagia sekali, karena akan bertemu dengan gurunya. Walaupun lima menit kemudian, “yaaaa, harus be;ajar dong. Duh bagaimana ini Bunda, aku sudah mulai lupa?”

 

Hahaha…ada-ada saja memang mereka. UKK tetap dilakukan, dengan jadwal tiga hari saja.

Setiap hari kami buat satu hingga satu setengah jam saja. Dan karena ingin mengurangi kekhawatiran anak-anak, sebelum ujia dimulai mereka diizinkan untuk sebentar membuka buku temanya.

 

Coba tebak, respon anak-anak saat bertemu teman dan gurunya?

Saya sedih melihatnya.

Sesaat mereka euphoria lupakan Social Distancing, mereka berpelukan lalu segera lepaskan pelukan karena diingatkan oleh orang tua yang kebetulan menjadi tempat UKK kali ini.

 

“Eh, kamu apa kabaaaar. Aku kangen.”
“Iya sama, aku juga.”

Mereka berpelukan sangat erat. Mata berbinar. Terlihat sekali bahwa mereka saling merindukan.

 

Lalu mereka melupakan hal-hal yang menyedihkan yang harus diam di rumah terus-terusan.

“Ayok, kita mulai ujiannya.”
“Pak, sebentar masih kangen, ngobrol dulu boleh?. Eh belum salim sama Bapak. Boleh salim?”

 

Tentu saja boleh, masing-masing tentu telah pastikan bahwa kami sehat dan baik-baik saja.

 

Pernah berkeinginan semoga Juli kami sudah bisa bertemu di sekolah. Tapi hal kecil tadi seakan mengingatkan bahwa walau sudah diwanti-wanti, anak-anak masih belum bisa menjaga dirinya untuk menjaga jarak, untuk mencuci tanggannya (padahal sudah disiapkan sabun, di dekat pintu masuk yang kebetulan dilengkapi tempat cuci tangan) dan lebih lucu lagi soal masker, ketika masker teman lainnya lebih bagus mereka malah ingin bertukar masker.

 

Maka ketika Pak Gubernur Ridwan Kamil memberikan informasi bahwa Jawa Barat akan mulai Januari 2021 untuk mulai aktfi bersekolah, maka saya sangat setuju.

 

Saya tidak mau anak-anak menjadi korban paling banyak untuk Covid-19. Biarlah seperti ini dulu, kesehatan dan kehadiran anak-anak sangatlah berharga.

 

Akhirnya UKK selesai dengan cepat. Wajah mereka kembali menyimpan harap agar dapat segera bertemu kembali.

 

Semoga setelah virus ini pergi. Kita bisa bertemu dalam waktu dan kondisi yang jauh lebih baik lagi. Semoga kita bisa lebih menghargai kehadiran orang-orang disekitar kita. Dan membuat lebih bersemangat belajar.

 

Aamiin YRA.

 

 

#Bandung, 7 Juni 2020

 

Kisah ini diambil dari kisah salah satu wali kelas di salah satu sekolah dan telah dimodifikasi sebagaimana mestinya