Susah Mati

Susah Mati
Image by pixabay.com

Seandainya kamu ada di posisiku. Apa kamu bisa setegar aku?

Kali ini bukan bicara salah atau benar, tapi kekuatanku telah kau telan dalam sekejap.

Ragu melangkah meneruskan perjalananku. Bukan karena perjalanan yang akan melelahkan tapi perjalanan kali ini adalah kali pertama aku berjalan tanpa kamu.

Kamu khawatir? Aku rasa tidak. Membiarkan aku menghabiskan malam dalam kereta, aku rasa bukan ide yang baik. Aku pikir saat aku berikan tujuanku kali ini, ada rasa khawatir yang kau selipkan. Ternyata tidak ada sama sekali.

 

Jam menunjukkan pukul 23.00 di Bandung.

Karena tujuan akhir di Semarang maka aku tidak boleh terlalu lelap. Stasiun Tegal merupakan titik henti ke-3 sebelum Semarang.

Tiba-tiba aku mengingatmu.

Kala itu perjalan kita selalu menyenangkan, berlama-lama di dalam kereta Tujuan Surabaya – Jember sungguh tidak bisa aku lupakan.

Aku yang salah, aku ambil kelas Bisnis. Dan Bisnis untuk Surabaya – Jember tak sebagus bisnis Jakarta-Bandung.

Bayangkan saja, baru kali ini naik kereta dengan seat bak bangku sekolah SD, jauh dari kata empuk, berantakan, sedikit kotor dan penumpang yang banyak membawa barang bawaan seperti pemandangan mudik yang aku lihat di TV.

 

Kamu cemberut dan sedikit mengomel. Namun akhirnya kamu tersenyum sambil berkata, kita nikmati perjalanannya yah, kamu bisa berlama-lama tidur di pundakku.

Perjalanan menuju Jember kurang lebih 4 jam, lampu meredup. Aku kira memang begitu. Rupanya lampu kereta memang sedang bermasalah, dan sampai Jember kita berada di dalam kegelapan.

 

Ah, aku rindu cemberutmu.

Aku tak bisa terlelap. Aku menangis.

Tiba di Tegal menjelang adzan Shubuh, aku tidak berani.

Bisik di sebelah kiriku terdengar dalam, “katamu kau akan menghilang, bukannya tujuanmu malam ini adalah agar ada berita buruk sampai di telinganya”.

 

Aku diam. Berat hati saat harus menerima kenyataan bahwa semua sudah berubah. Aku tak sanggup kehilangan kamu.

 

Kubiarkan kaki berjalan, aku tidak tahu tempat menginapku ke arah mana.  Tujuanku hanya satu, aku mau pagi ini adalah pagi terakhirku lalu kabar ini tersiar dengan cepat dan sampailah di telingamu.

 

Aku ingin kamu menyesal telah membiarkanku seorang diri. Aku mau kamu tahu bahwa aku marah.

Tuhan masih menyelamatkan aku,ditepuknya pundakku dan ditamparnya mukaku.

Ah, kenapa ada orang yang peduli denganku. Kenapa tidak dibiarkan saja aku tersungkur di bangku jalanan.

 

Dengan penuh penyesalan, hatiku berteriak banyak.

 

Berkali-kali hampir celaka. Aku sudah tunggu waktunya namun selalu saja ada yang menyelamatkanku.

Hei manusia, aku bilang jangan peduli padaku.

 

Entah hari keberapa, aku sudah berada di kota yang berbeda.

Laki-laki bertato, anting dan bau minuman memabukkan sungguh tercium dengan sangat. Tengah malam begini, rimbunan pohon menghilangkan bayanganku.

 

Aku kira, waktuku tiba.

Benar saja.

 

“Kalau kamu masih berdiri di situ, aku lindas kamu. Masuk, aku antar ke hotel”

Tuhan, ini waktuku. Aku yakin ini waktuku.

 

Mas, jika esok pagi berita ini akhirnya datang padamu. Aku hanya ingin kamu pahami betapa aku sangat mencintaimu.

 

Entah berapa tinggi kecepatan yang dibesut supir mabuk ini.

Ashadu al la ilaha illalah, wa ashadu anna muhammadar rasulullah

Badanku tergoncang hebat, semakin aku teriak semakin dibesut kecepatannya.

“Hahaha, seharusnya kau tadi langsung naik mobilku. Maka kita tak akan berdebat. Aku benci penumpang seperti kau. Banyak gaya.”

 

Tuhan, bila ini memang waktuku. Ampuni segala dosaku. Aku titip dia kepadamu.

Kepalaku pusing, sudah tak bisa muntah. Rasanya ingatanku akan segera hilang.

 

Terima kasih Tuhan, akhirnya tiba saatnya.

 

“Mba..bangun.”

Perlahan aku membuka mata. Aku tak mengenal perempuan ini. Berani sekali dia bangunkan aku.

“Alhamdulillah, siuman. Allah masih sayang sama Mba.”

“Aku masih baik-baik saja?. Aku tidak mati?”

“Lo engga toh mba, mba baik-baik saja. Supir mabuk tadi sudah ditangkap polisi karena ugal-ugalan. Mba pingsan di jok belakang. Sepertinya kepala mba terbentur hebat, maka karena ada sedikit darah di kepala mba”.

 

Aku diam. Aku menangis.

Tuhan, masih saja aku diselamatkan orang. Bagaimana dia tahu kabarku kalau aku selalu baik-baik saja.

 

Kapan dia peduli denganku? Bila beritaku tak ada yang istimewa.

 

 

#Bandung, 010420

#ceritayangtakterceritakan