Urgensi Pendidikan Budi Pekerti

Pendidikan Budi Pekerti tidak cukup hanya diajarkan, tapi harus dicontohkan dan dibiasakan.. Ditumbuhkembangkan dalam diri setiap manusia.

Urgensi Pendidikan Budi Pekerti
Pendidikan Budi Pekerti- dimulai sejak dini

 

 

            Penulis akan mengawali tulisan ini dengan sebuah pertanyaan. Apakah Pendidikan Budi Pekerti masih dirasa penting saat ini? Sebuah pertanyaan yang mudah untuk dijawab. Kalau Anda menjawab tidak, maka keingintahuannya berhenti sampai di sini, akan tetapi jika Anda menjawab bahwa Pendidikan Budi Pekerti masih diperlukan maka mari kita membahasnya bersama-sama.

            Berangkat dari keprihatinan penulis akan kehidupan masa depan anak - cucu sebagai penerus bangsa, maka selaku pendidik penulis bermaksud menuangkan gagasan sederhana akan pentingnya Pendidikan Budi Pekerti baik di rumah, di sekolah dan juga di lingkungan masyarakat. Sebagai angkatan baby boomers telinga penulis tidak asing lagi jika mendengar orangtua dulu berpendapat bahwa dalam mendidik anak manusia itu harus mengutamakan pembentukkan perilaku luhur dan etika baik dulu, baru kemudian mempelajari ilimu-ilmu lain. Sebab jika anak tidak dididik dengan baik dan benar maka mempelajari ilmu lain akan bisa menjadi boomerang bagi keluarga, bangsa dan negara.

            Kalau dahulu tujuan pendidikan adalah membentuk manusia seutuhnya, sehat jasmani dan rohani, anak bisa menjadi andalan keluarga dan pada akhirnya mengabdi kepada bangsa dan negara. Namun, kini sesuai dengan bunyi Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UU SISDIKNAS) Nomor 20 Tahun 2003 Pasal 3:

“Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.

            Tahun telah berganti dan waktu berjalan terus, keadaan sekarang sudah berubah. Memang segala sesuatu yang ada di dunia ini pastinya berubah dan hanya satu yang tidak pernah berubah yakni perubahan itu sendiri. Kalau dulu ada anak yang tidak mau mendengar nasihat orangtua lalu dihukum, kini ada guru yang yang takut ‘menghukum’ atau memberi sanksi kepada siswanya karena  ada rasa khawatir dituntut orangtuanya. Penegakan disiplin menjadi terganggu dan itulah fenomena yang kita saksikan. Bahkan ada yang mengatakan bahwa era sekarang ini telah terjadi kemerosotan moral di sana-sini. Hubungan orangtua dengan anak, hubungan suami-isteri, hubungan pemimpin dengan anak buah, dan lain-lain.

            Dari skala besar pergerakan harmonis di alam semesta ini, dijadikan prinsip untuk manusia bermasyarakat dan bernegara, itulah yang dinamakan Budi Pekerti. Hubungan antar manusia meskipun sangat majemuk, tapi tak luput dari lima kategori besar, yakni: (1) Hubungan orangtua – anak/anak-anak; (2) Hubungan suami – isteri; (3) Hubungan kakak – adik (persaudaraan); (4) Hubungan Pimpinan – anak buah (leaderfollower); dan (5) Hubungan pertemanan. Kelima hubungan ini adalah prinsip manusia bersosialisasi dalam masyarakat.

            Apabila manusia tidak berperan dengan semestinya dalam kelima hubungan ini, akibatnya manusia mengalami kesulitan untuk hidup harmonis, karena kelima hubungan ini adalah kodrat alam yang tidak akan lapuk dimakan waktu dan sudah teruji/terbukti dari waktu ke waktu (dari zaman ke zaman). Jadi benarlah bahwa Pendidikan Budi Pekerti masih sangat penting untuk diterapkan sebagai salah satu terapi dekadensi moral pelajar yang nantinya dapat menghancurleburkan kekerasan, tawuran, sifat anarkhi, dan nantinya tercipta generasi atau pelajar yang beretika moral yang baik dan berbudi pekerti.

Apa Itu Budi Pekerti?

            Kata pekerti berarti aktualisasi, penampilan, pelaksanaan atau perilaku. Budi Pekerti merupakan kata majemuk dari kata Budi dan Pekerti yang mempunyai arti sadar atau yang menyadarkan atau alat kesadaran. Secara terminologi kata Budi ialah yang ada pada manusia yang berhubungan dengan kesadaran yang didorong oleh pemikiran/rasio yang disebut dengan nama karakter, sedang Pekerti berarti kelakuan. Dengan demikian Budi Pekerti berarti kesadaran yang ditampilkan oleh seseorang dalam berperilaku. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI - 1989) istilah Budi Pekerti diartikan sebagai tingkah laku, perangai, akhlak dan watak.

            Apabila Budi Pekerti dimaknai sebagai sebuah karakter (karakter yang dimiliki oleh manusia), maka tugas sekolah cq. Kepala Sekolah, Pendidik, Tenaga Kependidikan adalah menumbuhkan dan memupuknya. Tidak kalah pentingnya adalah peran keluarga dan masyarakat yang juga vital untuk menumbuhkembangkan Budi Pekerti. Penumbuhan Budi Pekerti dapat dilakukan melalui Pendidikan Karakter. Kesemuanya itu tidak cukup hanya diajarkan di sekolah/kelas lalu diujikan dan kemudian dinyatakan lulus/selesai. Begitu juga dengan yang diajarkan/dididikkan orangtua/keluarga di rumah itu harus dicontohkan & dibiasakan secara terus-menerus atau diinternalisasikan (didarahdagingkan).

            Pembiasaan (habit) baik itu memang perlu dihayati dan diamalkan. Oleh karena itu, para orangtua dan guru perlu mengerti esensi pendidikan; bahwa asal mula manusia itu memiliki jati diri yang sempurna kemudian seiring berjalannya waktu terbentuk kepribadian berbeda karena terpengaruh oleh lingkungan. Maka kalau anak tidak dididik dengan baik dan benar, jati dirinya akan tercemar. Melalui pendidikan manusia bisa tumbuh sifat-sifat baiknya sehingga dapat mengurangi sifat negatifnya, itulah sebabnya manusia perlu belajar dan belajar itu tidak mengenal batas usia (lifelong learning), yang tidak belajar ia tidak akan mengerti.

            Sebagai penutup dari tulisan ini, penulis tak jemu-jemu mengatakan bahwa ortu dan guru adalah suri tauladan keharmonisan. Siapa saja yang mau mengabdi di dunia pendidikan harus menyulut (men-trigger), memicu dan memacu semangat yang dimulai dari diri sendiri dan kemudian ‘menularkan’ nya ke lingkungan seputar. Bertindak kreatif-inovatif, dan adaptif serta senantiasa memotvasi siapa saja.  Ingat, ‘buah dikenali dari pohonnya’; artinya seseorang dikenal oleh orang lain atas hasil karyanya. Dalam proses belajar mengajar kita berkesempatan mengangkat harkat dan martabat diri demi kemaslahatan hidup banyak orang.

 

Jakarta, 3 April 2022

Salam penulis: E. Handayani Tyas; Universitas Kristen Indonesia – tyasyes@gmail.com

Dapatkan reward khusus dengan mendukung The Writers.
List Reward dapat dilihat di: https://trakteer.id/the-writers/showcase.