Aprodhite

Aprodhite

Aprodhite

Hania, gadis muda berusia 19 tahun. Di vonis mengidap hiposmia. Kelainan tubuh, yakni semakin menurunnya indra penciuman. Makin hari penyakit Hania makin parah. Ia benar-benar tidak bisa mencium bau makanan, minuman, tanaman, atau aroma-aroma lainnya.

Menurut dokter, jika tidak segera ditangani ia bisa mengidap anosmia. Benar-benar kehilangan indra pembau.

Mama Hania mencari berbagai macam cara untuk mengobati putri tunggalnya itu. Ia lalu mengontak perusahaan parfum dan aroma terapi terbesar di negerinya.

Bak gayung bersambut, ternyata CEO dari perusahaan tersebut sedang mengecek/sidak email-email dari layanan customer service di kantornya.

Ia buka email tersebut yang isinya tentang adakah parfum penyembuh hiposmia untuk putrinya.

Sang CEO, pak Eshraf merasa tertantang. Ia lalu membalas email tersebut dan mengundang Hania untuk menetap di lembaga Research Center milik perusahaan bernama Olfa Corp tersebut.

Hania akan di terapi dan diteliti di sana. Semua biaya pengobatan dan penelitian ditanggung oleh Eshraf. CEO paruh baya yang penuh ambisi tersebut.

Di Lembaga Research Center Olfa Corp, Hania di cek kesehatannya. Di sana ia ditempatkan di asrama karyawan. Yang terdiri atas para peneliti, aromatolog, dan staff khusus yang menangani berbagai jenis aroma. Rata-rata yang tinggal di mes tersebut adalah yang single. Semua yang sudah berkeluarga mendapat rumah dinas.

Hani disambut oleh bu Dewi. Pemimpin lembaga tersebut. Ia dikenalkan dengan Amir, Elsa, Dito, Hanif, Andrew, dan Marc.

Amir si periang. Ia dijuluki Invigorating (pembawa semangat).
Sedangkan Elsa dijuluki regulating (pengatur), Dito sang Euphoric (pembawa kegembiraan), Hanif sang sedative (penghilang rasa), Andrew si stimulant, serta Marc asisten bu Dewi.

Orang-orang inilah kreator dibalik suksesnya parfum dan aroma terapi milik Olga corp. Muda, cerdas, dan berbakat. Highly talented.

Hania sekamar dengan Elsa. Ia betul-betul rapi. Semua sudah Elsa atur sedemikian rupa agar Hania betah di sana. Karena Hania adalah project percobaan sang CEO. Ia tidak mau percobaan itu gagal dan mengecewakan atasannya.

Di asrama terdiri dari 3 lantai. Lantai pertama khusus aula, ruang keluarga, ruang makan, dapur, dan kamar mandi.
Sedangkan lantai 2 kamar khusus putri dan lantai 3 kamar khusus putra.

"Hayuk Han, jam 19.00 nanti waktunya makan malam" kata Elsa.
"Iya Sa, tapi aku mandi dulu ya."
"Toilet dan kamar mandi ada di lantai 1 ya. Dekat dapur."
"Baik mba, terima kasih infonya."
Elsa bergegas turun sambil membawa handuk dan perlengkapan mandi. Setengah berlari ia menuju kamar mandi. Saat akan membuka pintu, tiba-tiba pintu sudah terbuka duluan. Seorang pria muda baru selesai mandi. Hanif rupanya.
"Orang baru ya?"
Hania hanya tersenyum dan mengangguk lalu bergegas ke kamar mandi di sebelahnya.

Di ruang makan semua penghuni asrama sudah berkumpul. Bu Dewi tidak bisa hadir dijamuan makan malam tersebut karena anaknya sakit. Bu Dewi tidak tinggal di asrama karena ia sudah berkeluarga. Tapi sebagai gantinya, Marc-lah kepanjangan tangan dari beliau.

Di ruang makan, Marc langsung mengenalkan Hani ke semua penghuni asrama. Ia juga menjelaskan kenapa bos mengirim Hania ke sana. Mereka ditantang untuk menciptakan parfum terkuat yang bisa dicium oleh orang yang tidak bisa mencium aroma seperti Hania tersebut.

Pemenangnya akan mendapat hadiah special dari sang CEO. Mereka semua merasa tertantang. Terutama Elsa dan Andrew.

Hania hanya bisa tersenyum kecut karena ia tahu, keberadaannya di sini adalah untuk bahan percobaan. Tapi Hania tetap patuh, karena ia ingin bisa mencium aroma kembali. Indra penciumannya mulai rusak sejak 2 tahun lalu. Awalnya ia normal. Tapi sekarang tak bisa mencium bau apa-apa. Menurut dokter indra penciumannya masih belum mati 100%. Masih bisa diaktifkan kembali tetapi harus diaktifkan dengan rangsangan yang kuat. Dari aroma yang betul-betul kuat agar indranya aktif kembali.

Karena objek penelitiannya hanya 1 orang maka dalam 7 hari tiap peneliti hanya bisa bersama Hania selama satu hari.

Jadwal dibuat. 
Senin: Hania Amir
Selasa: Hania Elsa
Rabu:Hania Dito
Kamis: Hania Hanif
Jumat: Hania Andrew
Sabtu: Hania Marc/Dewi
Minggu: Libur.


Hania-Amir.
Spesialisasi Amir adalah membuat parfum invigorating (pembawa semangat). Dari pancaran wajahnya, bahasa tubuhnya, Amir sangat mencerminkan orang yang selalu bersemangat. Pantang menyerah dan selalu memotivasi orang lain.

Hania senang bisa berkenalan dengan Amir. Karena ia merasa lebih hidup. Tapi meski hidup Hania masih belum bisa merasakan aroma apapun. Hidungnya masih mati rasa.
Di lab Amir, mengambil botol parfum Invigore dosis tinggi. Ia meneruskannya pada lengan Hania dan meminta ia untuk menghirupnya. Tapi Hania tetap tidak bisa merasakan apapun. Percobaan pertama Amir gagal.

Hania Elsa.
Lagi-lagi Elsa sudah menyiapkan semuanya. Ia sudah mendengar dari Amir bahwa Hania tidak bisa mencium apapun lewat hirupan hidung atau inhalasi.

Elsa ingin mencoba cara lain. Yakni teknik absorbsi.
Bersambung...

#essentiaindonesia #naturalbali #gayaspa