Waktu adalah Anugerah

Kehadiran anak-cucu adalah hadiah terindah bagi orang tua. Kasih sayang yang dicurahkan dengan sepenuh hati tidak tergantikan oleh hadiah yang kemilau

Waktu  adalah Anugerah
Photo by cottonbro from Pexels

 

Lilis membuka mata dengan susah payah di pagi subuh itu. Dari kejauhan terdengar kumandang adzan yang merdu. Perlahan, Lilis beringsut ke tepi tempat tidur, pipinya terasa perih. Masih terbayang tamparan dari orang di sampingnya  yang  masih terlelap tidur.

 Lilis memaksakan diri untuk  bangun. Ia ingin segera sholat, mandi serta membantu orang yang masih tidur ini untuk merapikan diri. Perlu segera, karena sebentar lagi Bu Irma akan masuk ke kamar tidur mereka. Bu Irma biasanya masuk kamar tidur jam 06.30 pagi, sudah rapi.  Bu Irma akan langsung memeluk orang yang masih tidur dengan mesra dan mencium pipinya. Ini terjadi tiap pagi, sehingga Lilis  sudah harus segera rapi.

“Bangun, bangun sudah siang… “ Lilis menyapa sosok yang masih tidur. Dengan penuh kelembutan, ia membelai rambut  keperakan yang tergerai  di atas bantal. “Bu Irma sebentar lagi masuk kamar. Kita mandi ya Eyang, biar wangi, cantik…” lanjut Lilis  dengan suara lembut.

Tubuh yang tergolek mulai membuka matanya. Dengan pandangan  nanar, ia memandang sekeliling kamar, seolah tak mengenali dimana ia berada. Pandangannya beralih ke Lilis dan bertanya dengan suara lirih: “kamu siapa?” Kenapa kamu bangunin saya?” Lilis tersenyum, mengelus anak-anak rambut yang tergerai di dahi. “Saya Lilis, Eyang, saya yang merawat Eyang,” jawab Lilis. Lilis menegakkan tubuh yang masih tergeletak, pelan-pelan merangkul tubuh tua itu, merapikan daster yang dikenakannya dan mulai memapahnya ke kamar mandi.

 Inilah ritual tiap pagi yang dijalankan Lilis sebagai  pramurukti selama 5 tahun terakhir. Lilis, perempuan berumur 35 tahun  ini sudah cukup lama menekuni pekerjaan pramurukti atau perawat lansia. Meski pun hanya tamatan SMP, dan tidak pernah bersekolah secara formal mengenai keperawatan, namun pengetahuan dan pengalaman Lilis sudah cukup banyak.

Ia meninggalkan kampungnya di Magetan, Jawa Timur, setelah tamat SMP. Lilis  dibawa oleh bu lik Saminah ke  Jakarta, bekerja di sebuah keluarga muda dengan anak-anak yang masih kecil. Bu lik Saminah yang mengajari dan membimbingnya sehingga ia menjadi Asisten Rumah Tangga yang terampil dan dipercaya.

Setelah pekerjaan pertamanya, Lilis bergabung dengan sebuah yayasan yang memberikan pelatihan untuk menjadi Tenaga Kerja Migran di luar negeri, khusus  untuk merawat lansia, atau baby sitter. Lilis pun kemudian mendapatkan pekerjaan di Malaysia, Brunei Darussalam dan Korea Selatan merawat lansia dengan karakter yang berbeda-beda.  Ada yang fisiknya masih sehat, namun karakternya sangat sulit, ada yang menderita penyakit menahun, namun sangat lembut hati, dan ada yang sehat dan sebenarnya hanya  membutuhkan teman ngobrol.

Pengalaman mengajarkan kepada Lilis, bahwa yang sangat dibutuhkan oleh lansia adalah cinta kasih dan perhatian.  Mereka tidak mendambakan hadiah mahal, makan di restoran yang paling enak, atau pun jalan-jalan ke tempat-tempat indah. Secangkir teh beserta sepotong roti yang disiapkan oleh anak mereka dan diantarkan dengan penuh kasih, adalah hadiah yang mereka tunggu. Momen menyeruput teh di sore hari, sembari dipijat lembut oleh anak cucu, sambil menceritakan apa yang dirasakan hari itu adalah momen yang sangat mereka nantikan. Tidak tergantikan oleh apa pun.

Dengan pengalaman, pemahaman dan ketrampilan yang dimilikinya, Lilis merasa yakin bisa memenuhi harapan Bu Irma yang memintanya merawat Eyang Sumiyati, yang saat itu berumur 75 tahun. “Ibu mertua saya masih cukup sehat, masih mandiri, hanya menderita dimensia. Dimensia itu seperti pikun, banyak lupa, jadi harus ditemani dan diingatkan,” begitu penjelasan Bu Irma.

Dan benar saja, Eyang Sumiyati masih terlihat segar. Rambutnya yang berwarna abu-abu dan perak disisir rapi membentuk sanggul cepol, bedak dan lipstick warna natural menghiasi wajah Eyang Sumiyati.  Siang itu Eyang Sumiyati mengenakan kebaya moderen berwarna krem dengan sarung yang sepadan. Sungguh rapi dan serasi, pikir Lilis “tidak terlihat 75 tahun,” gumamnya dalam hati. Eyang Sumiyati tersenyum menyambut kedatangan Lilis dan Bu Irma. “Mama, ini Lilis. Mulai hari ini Lilis akan menemani dan menjaga mama ya,” Bu Irma memperkenalkan.

“Lho kenapa harus ditemani? Saya ini masih kuat, masih bisa masak lho. Tapi Irma gak percaya sih sama Mama,” Eyang Sumiyati menjawab dengan nada jengkel. Bu Irma tersenyum, memeluk Eyang  dan menjawab: “Mama memang hebat, masih kuat dan mandiri. Tapi saya dan mas Farid tiap hari kerja. Lalu obat-obat mama kan harus disiapkan, dan ada makanan khusus juga untuk mama. Nah itu tugasnya Lilis.” Penjelasan ini rupanya bisa diterima. Bu Irma terlihat lega, dan setelah memberikan beberapa penjelasan awal, Bu Irma meninggalkan rumah menuju kantor.

Merawat Eyang Sumiyati bagi Lilis gampang-gampang susah.  Bukan saja karena usia dan keadaan kesehatannya, tetapi lebih kepada sifatnya. Eyang Sumiyati yang pada masa mudanya bekerja sebagai guru Bahasa Inggris  SMP, adalah perempuan mandiri dan serba bisa. Di samping menjadi guru yang dicintai murid-muridnya, Eyang Sumiyati adalah ibu rumah tangga yang handal serta istri yang cekatan.   Memasak, menata rumah, mengurus halaman dikerjakannya dengan tangkas. Sebagai pendamping Eyang Sanyoto almarhum, seorang diplomat, Eyang Sumiyati selalu tampil menarik, mampu mmbuka percakapan dengan berbagai topik yang mencairkan suasana.

Dengan kemampuan serba bisa, sangat sulit bagi Eyang Sumiyati untuk menerima bantuan dari orang lain, apalagi untuk membantu makan, mandi dan berganti pakaian. Lilis sering ditolak oleh Eyang Sumiyati: “Lilis  tunggu di  luar saja, saya bisa mandi dan ganti pakaian sendiri.”  Jadilah Lilis berjaga di luar kamar sampai Eyang memanggilnya.  

Awalnya Eyang Sumiyati memerlukan waktu 30-45 menit untuk merapikan diri, namun makin lanjut usianya, makin banyak waktu yang diperlukannya untuk merapikan diri. Dan seringkali Lilis mendapati Eyang belum selesai berpakaian, baju belum terkancing rapi, sisa sabun masih ada di tangan, di pipi. “Ini akibat penyakit pikunnya atau dimensia, mbak Lilis. Jadi Eyang tidak ingat lagi bagaimana caranya mandi, mengenakan pakaian dan berdandan,” jelas Bu Irma.

Bu Irma sering menjelaskan kepada Lilis mengenai dimensia dengan bahasa sederhana. Intinya pikunnya Eyang bukan  hanya disebabkan oleh usianya yang lanjut, namun ada penyakit yang menyerang memori Eyang.   “Kalau dokter bilang memory loss, mbak. Artinya Eyang tidak mampu mengingat. Eyang ingat hal yang dulu-dulu, tetapi kejadian tadi pagi, sudah lupa,” jelas Bu Irma.  “Eyang juga suka kesulitan makan, seperti lupa caranya. Jadi sering dimuntahkan. Saya berharap mbak Lilis memahami dan sabar ya,” lanjutnya. Namun demikian, ada kalanya memori Eyang tiba-tiba saja kembali, dan pada saat seperti ini ia bisa berbicara dengan lancar, semua makanan dihabiskan, dan dengan runut menceritakan pengalaman2 hidupnya.

Sebagai penderita dimensia, Eyang  Sumiyati tidak bisa lagi mengingat siapa dia, ada dimana, dan siapa orang sekelilingnya. Selain itu, Eyang Sumiyati juga  mengalami halusinasi. Bila sedang mengalami halusinasi, Eyang Sumiyati menjadi agresif.

 “Kalau sedang mengalami halusinasi kasihan Lilis. Mama jadi agresif, memukul, menjambak rambut Lilis atau menggigit tangan Lilis.  Gerakan Lilis untuk meyuapi mama, dianggap sebagai serangan. Mama secara refleks menyerang duluan…, “ cerita Bu Irma kepada teman-temannya.

 

******

Saat ini Eyang Sumiyati sudah berusia 80 tahun. Kesehatannya sudah menurun. Seluruh kegiatannya:  mandi,  makan, minum, berganti pakaian, merapikan diri sudah harus dibantu. Memory loss yang dideritanya juga semakin parah. Seringkali eyang berontak, tidak mau diajak mandi. Tangan Lilis dipukul, atau digigit. Tidak jarang rambut lils dijambak, sampai terasa perih.

Pagi ini Eyang dalam keadaan tenang. Kegiatan mandi pagi berjalan lancar.  Lilis menarik nafas lega ketika akhirnya ritual mandi, berganti pakian dan merapikan Eyang Sumiyati pagi itu selesai.

Eyang terlihat cantik dengan sanggul cepol serta riasan bedak tipis dan lipstick warna netral. Pagi itu Eyang Sumiyati mengenakan  gaun terusan  berwarna biru muda sepanjang mata kaki dan dihiasi sulaman di bagian lengan dan leher.

Pintu kamar terdengar diketuk, kemudia didorong dari luar, bau parfum yang samar dan berkelas menyeruak menyertai kehadiran Bu Irma. Seperti biasa, Bu Irma sudah rapi, rambutnya yang lebat bergelombang terurai sepanjang tengkuk. Riasan wajah dengan nuansa netral, serta pakaian kerja yang sportif, membuat Bu Irma tidak tampak seperti perempuan berusia 45 tahun.

 “Mama cantik sekali pagi ini,” katanya tersenyum. “Irmaaaa…. “ Eyang Sumiyati  menyapa dengan gembira. “Kamu mau kemana? Sudah sarapan? Sarapan dengan apa,” lanjut Eyang. “Saya  belum sarapan ma, ini mau ajak mama sarapan. Saya  sudah buat teh  dan roti panggang dengan selai kacang, mama mau kan?” Eyang menganggukkan kepalanya, kemudian mengelus rambut Irma “ you are such a nice daughter…” Dari sudut matanya Lilis melihat Bu Irma menghapus air matanya yang sudah hampir jatuh.

Di meja makan sudah ada Pak Farid. Pak Farid, pria bertubuh tinggi, sekitar 170 cm itu, berdiri memeluk eyang mencium pipinya dan menyapa: “Selamat pagi mama. You look lovely today.” Eyang memandang wajah Farid, pria berusia 50 an yang masih terlihat tampan itu dengan agak bingung. Ekpresinya menunjukkan bahwa Eyang  Sumiyati tak mengenalnya. “Siapa dia? Irma, kamu kenal?” Irma mengelus tangan eyang dan menjawab: “Ini mas Farid ma. Kan anaknya mama yang nomer 1. Saya istrinya mas Farid.” Eyang mengernyitkan alis, seolah tak percaya. “Saya punya anak? Berapa anak saya?” Irma menunjukkan 3 jari, “Ooh 3 ya anak saya?” Farid tertawa lebar,  “Nah aku yang nomer 1 ma, ingat kan, Farid? Yang paling ganteng dan suka sekali terik ayam buatan mama?”

***********

Meski pun sudah 5 tahun bekerja di rumah Bu Irma dan Pak Farid, Lilis masih tidak mengerti mengapa Eyang Sumiyati lebih dekat dengan Bu Irma? Padahal Bu Irma adalah menantunya? Dan mengapa yang selalu tiap pagi memeluk Eyang Sumiyati di kamar juga Bu Irma?

Ketegangan antara Pak Farid dan Bu Irma tidak luput dari perhatian Lilis. Di awal kedatangannya, Lilis sering mendengar pertengkaran Pak Farid dan bu Irma. “Mas tolong lah lebih memperhatikan mama. Mama itu perlu diajak ngobrol, disegarkan ingatannya diberi cinta,” kata bu Irma.

“Aaaah kamu ini kok rewel banget sih. Aku kurang perhatian apa, semua kebutuhan mama: dokter, pramurukti, obat, fisio terapi, kan aku penuhi. Mau piknik, jalan-jalan juga aku temani. Aku berangkat pagi, pulang malam, udah cape, malah gak menghibur mama,” tangkis Pak Farid. “Itu tugasmu menemani mama, ngobrol sama mama. Apa kamu  merasa cape?” Dengan suara tertahan Bu Irma menyahut: “lho kok jadi mojokin aku. Ini bukan masalah aku cape atau tidak,  ini masalah mas meyediakan waktu yang berkwalitas dengan mama. Ingat, mama sudah semakin sepuh lho….” Perdebatan biasaya berlanjut beberapa saat, melebar ke masalah keluarga besar. 

Bu Irma minta agar adik2 Farid lebih sering menengok Eyang Sumiyati, mengajak Eyang jalan-jalan. “Mama itu senang lo kalau ditengok Tutik dan Tomi. Jangan berpikir karena mama dimensia, terus gak ingat apa-apa; dan kalau datang itu tolong deh fokus ke mama, jangan ngobrol di antara kalian aja….” Kalau sudah menyentuh Tutik dan Tomi, adik-adiknya, suara Pak Farid biasanya meninggi: “Selalu saja kamu bawa-bawa keluargaku. Udah, kamu ikhlas enggak sih merawat ibuku?!!  Udah berkali-kali aku sampaikan adik-adikku itu bukan pengangguran, banyak kegiatannya, gak bisa tiap minggu ke mama. Mama kan sehat, dirawat dengan baik…” Yang terdengar kemudian suara bu Irma seperti menahan tangis:  “Ya Allah mas, teganya tanya aku ikhlas apa enggak. Aku mencintai mama, seperi ibuku sendiri!!” Percakapan selanjutnya sudah tak terdengar oleh Lilis, Lilis tertidur di samping Eyang Sumiyati.

Sebagai orang luar di rumah bu Irma dan Pak Farid, Lilis hanya bisa menonton berbagai dinamika yang terjadi di rumah keluarga itu. Lilis tidak paham, Eyang Sumiyati yang memiliki 3 anak,  3 menantu dan 7 orang cucu, lebih sering ditemani oleh Lilis, mbok Yah, juru masak, mbak Siti yang bersih-bersih serta Pak Maman, tukang kebun.  Sebagai perempuan desa yang dilahirkan dalam ikatan keluarga yang kuat, hal ini sangat aneh bagi Lilis. Memang anak-anak Eyang Sumiyati semuanya sukses: bu Tutik adalah pengusaha catering yang terkenal, Pak Tomi katanya pejabat di kantor Pemerintahan dan Pak Farid adalah direktur perusahaan swasta. Kalau berkunjung ke rumah Bu Irma, mereka selalu datang dengan mobil mewah, baju bagus, dan memberikan tip yang besar untuk Lilis dan staf rumah tangga lainnya.

Tapi mereka tidak pernah lama bercengkerama dengan Eyang Sumiyati. Datang, peluk Eyang, ngobrol sebentar, dan selebihnya ngobrol kakak-beradik, bercanda. Seingat Lilis, bu Tutik tidak pernah menanyakan, bagaimana hasil lab terakhir Eyang, apakah Eyang sudah ada nafsu makan? Pak Tomi sama saja. “Mbak Lilis Eyang kelihatan segar, makannya banyak ya? Terima kasih ya mbak sudah jaga Eyang…” selalu kalimat itu yang disampaikan.

Mereka semua tidak mengalami saat-saat dimana Eyang Sumiyati tiba-tiba ingat siapa dirinya, dan mengajukan berbagai pertanyaan seperti: “Mana Farid, Tutik dan Tomi? Saya mau bikin kueh sus untuk minum teh nanti …” 

*****

 Irma seringkali menyesal bahwa saat memori  Eyang Sumiyati sedang kembali, ia sedang berada di kantor. Sebagai managing- editor di sebuah majalah berita, Irma memiliki tanggung jawab cukup besar. Di tangan managing editor lah, isi majalah ditentukan, sehingga jam kerja Irma cukup panjang, tidak jarang pada akhir pekan ia masih harus bekerja.  Berhenti dari pekerjaan dan secara penuh waktu merawat Eyang Sumiyati bukan lah pilihan yang bisa diambil pada saat ini.  Karena ia dan Farid masih memiliki tanggung jawab membiayai kuliah kedua anaknya, serta membayar beberapa cicilan. Mau tidak mau, Irma harus puas dengan cerita-cerita mengenai keseharian eyang melalui Lilis. Irma tidak hentinya bersyukur atas kehadiran Lilis, dan keikhlasan Lilis merawat ibu mertuanya.

Meski Ibu Sumiyati adalah mertuanya, namun Irma menghormati dan mencintainya seperti ibunya sendiri. Ini tidak lepas dari ajaran ibu kandungnya “ndhuk, kamu harus bekti pada ibu mertua. Karena dari perempuan ini lah lahir laki-laki yang kamu cintai, yang membahagiakanmu…,” demikian pesan ibunya. 

Ketika menikah dengan Farid 22 tahun yang lalu, Ibu Sumiyati tidak serta merta menerimanya. Selalu saja ada yang kurang mengenai Irma: tidak bisa masak, tidak bisa dandan, kurang memanjakan suami dan seterusnya. Ya maklum, sebagai ibu rumah tangga yang terampil  mulai dari menghidangkan masakan Indonesia, Belanda, Italia, cekatan dalam menata rumah, merawat tanaman, serta pintar berdandan, Ibu Sumiyati menginginkan menantu perempuan yang mirip dirinya.

Bagi Irma yang senang berpenampilan casual: celana panjang, dengan blus semi-formal, serta pengetahuan minim mengenai masak, berdandan apalagi mengurus tanaman, menjadi menantu Eyang Sumiyati sungguh tidak mudah.  Sebagai generasi yang lebih muda, mandiri dengan  pandangan hidup yang liberal, sangat lah sulit bagi Irma untuk menerima berbagai kritikan. Ini menimbulkan banyak ketegangan  di antara 2 perempuan yang sangat mencintai Farid ini.  Namun berkat kerja keras Irma yang menunjukkan kemauan untuk banyak belajar dari Eyang Sumiyati, serta perhatian khusus Irma kepada Eyang, maka lambat laut hati Eyang Sumiyati melembut dan akhirnya menerima Irma sebagai anaknya sendiri.

Keadaan ibu mertuanya yang makin menurun membuatnya khawatir. Irma khawatir, bahwa Farid dan adik-adik iparnya akan kehilangan momentum dan meliwatkan waktu emas dengan Eyang Sumiyati. Dan yang terjadi akhirnya penyesalan. Namun setiap kali Irma membicarakan hal ini dengan Farid, yang terjadi adalah pertengkaran.  Apalagi dalam seminggu ini Lilis melaporkan Eyang makin sering menolak makan.  Bila akhirnya makan, hanya sesuap, dua suap, selebihnya dimuntahkan. Irma menarik nafas panjang dengan masygul.

*****

Di rumah, Lilis tampak gelisah. Waktu sudah menunjukkan jam 13.00, sudah waktunya makan siang.  Sejak sarapan tadi pagi, Eyang Sumiyati belum mau makan apa-apa.  Badannya tampak lemas karena sudah seminggu ini Eyang susah makan. Hampir semua makanan dimuntahkan kembali. Cemilan dan susu yang disiapkan tidak disentuh sama sekali. Lilis mengelus-elus tangan eyang, mencoba membangunkannya : “ayok kita makan Eyang. Ada sup ayam, telor dadar, yuuk…”

Eyang membuka mata, dengan suara lemah bertanya: “Mana Irma..?” “Bu Irma sedang kerja,” jawab Lilis mulai gelisah, tangannya meraih bel di samping tempat tidur. Mbok Yah datang dengan tergopoh-gopoh. “Tolong telpon Bu Irma mbok, sampaikan Eyang pucat dan lemes, kalau bisa segera pulang.”

Tangan Eyang Sumiyati meraih Lilis, memeluk Lilis dan berbisik  terbata-bata “terima kasih.” Lilis memeluk Eyang dengan erat, air matanya mulai jatuh. Lilis merasa tubuh Eyang Sumiyati makin lemas, dan nafasnya  melemah. Mbok, Yah, Siti dan Pak Maman semua berkumpul di kamar. Dengan menguatkan hati, Lilis membisikkan kalimat Syahadat di teling Eyang Sumiyati yang diikuti oleh mbok Yah, Siti dan Pak Maman. Bibir Eyang Sumiyati bergerak mengikuti tuntunan Syahadat. Dan dengan sebuah tarikan nafas panjang Eyang Sumiyati menghembuskan nafas terakhirnya.

Kejadian selanjutnya bagikan potret yang bergerak dengan cepat bagi Lilis.  Bu Irma, Pak Farid, Bu Tutik, Pak Tomi meratapi kepergian Eyang Sumiyati: “kenapa mama tidak menunggu kami? Kemarin mama terlihat sehat dan bahagia?” tangis anak-anakya. Tangisan, penyesalan, ratapan yang hari itu bergema di rumah tidak ada artinya lagi, semua sudah terlambat. Dari seluruh anak-menantu, Lilis merasa Bu Irma yang terlihat tegar, tabah, ikhlas.

Tangisan anak-anak, cucu Eyang Sumiyati sungguh memilukan. Lilis juga merasakan kehilangan yang sangat dalam, namun buat Lilis lebih memilukan memandang wajah dan ekpresi keluarga yang penuh penyesalan. Tiba-tiba saja Lilis ingat pesan simboknya dulu “Waktu itu anugerah nduk. Pergunakan waktumu dengan baik, dengan penuh rasa syukur…”